Daerah

21 Masyayikh NU Jombang Diabadikan dalam Buku, Ungkap Jejak Ulama Kota Santri

19
×

21 Masyayikh NU Jombang Diabadikan dalam Buku, Ungkap Jejak Ulama Kota Santri

Share this article
21 Masyayikh NU Jombang Diabadikan dalam Buku, Ungkap Jejak Ulama Kota Santri
Buku berjudul “21 Masyayikh NU Jombang: Article Anthology”.(Foto:sudutkota.id/Panitia Muhtamar ke 35)

JOMBANG, Sudutkota.id – Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) PCNU Kabupaten Jombang meluncurkan karya literasi yang mengangkat sejarah dan keteladanan para ulama Jombang.

Buku berjudul “21 Masyayikh NU Jombang: Article Anthology” tersebut merangkum perjalanan, pemikiran, perjuangan, serta pengabdian 21 tokoh yang memiliki peran penting dalam perkembangan pesantren dan Nahdlatul Ulama di Jombang.

Ketua LTNNU PCNU Kabupaten Jombang, Syafii, mengatakan penerbitan buku tersebut tidak sekadar menghadirkan biografi para tokoh agama. Menurutnya, buku ini menjadi bagian dari ikhtiar untuk merawat ingatan sejarah sekaligus meneruskan warisan keteladanan para ulama.

“Jombang memiliki sejarah panjang sebagai salah satu basis pesantren dan perkembangan NU. Dari pesantren, lahir para ulama yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga mengembangkan pendidikan, dakwah, tradisi keilmuan, serta kehidupan sosial dan kebangsaan,” ujar Syafii, Selasa (18/8/2026).

Menurut Syafii, buku 21 Masyayikh NU Jombang juga mengajak pembaca mengenal lebih dekat sosok para masyayikh yang selama ini dikenal melalui nama, kompleks makam, maupun cerita yang diwariskan secara lisan.

Di balik nama besar tersebut, terdapat perjalanan panjang berupa perjuangan mencari ilmu, ketekunan mengajar, membangun lembaga pendidikan, mengembangkan pesantren, hingga pengabdian kepada masyarakat dan bangsa.

Salah satu tokoh yang diulas dalam buku ini adalah KH Adlan Aly, ulama ahli Al-Qur’an, mursyid tarekat, sekaligus pendiri PP Putri Walisongo Cukir. Ia juga dikenal sebagai tokoh yang memelopori pendirian Madrasah Mu’allimat pada 1951.

Ada pula profil KH Musta’in Romly, pendiri Universitas Darul ‘Ulum (UNDAR) dan mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) yang dikenal melalui gagasan visioner “Berotak London, Berhati Masjidil Haram”.

Sementara itu, KH As’ad Umar dihadirkan sebagai sosok pembaharu yang memodernisasi Pesantren Darul ‘Ulum melalui pengembangan sekolah unggulan, perguruan tinggi, hingga fasilitas kesehatan.

Buku tersebut juga mengulas KH Abdus Salam, kiai perintis Pesantren Tambakberas yang meletakkan salah satu fondasi penting tradisi keilmuan dan dakwah Islam di Jombang.

Dalam sejarah awal organisasi NU, antologi ini menghadirkan profil KH Abdul Hamid Chasbullah, A’wan HBNO 1926 sekaligus utusan Muktamar NU kedua pada 1927.

Kiprah pesantren dalam perjuangan kebangsaan turut digambarkan melalui sosok KH Muhammad Wahib Wahab, putra KH Wahab Hasbullah yang pernah menjabat Menteri Agama RI, menjadi Komandan PETA, serta Panglima Hizbullah.

Profil KH Abdul Fattah Hasyim, menantu KH Bisri Syansuri, juga masuk dalam antologi. Ia dikenal sebagai pendiri Madrasah Muallimin-Muallimat Bahrul Ulum.

Kemudian terdapat sosok KH Ma’shum Ali, menantu Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, yang dikenang melalui karya monumental “Amtsilah Tashrifiyah”, kitab yang hingga kini menjadi salah satu rujukan penting dalam kajian ilmu sharaf di pesantren Nusantara.

Antologi ini juga merekam kiprah KH Dahlan Cholil dalam menjaga sanad Al-Qur’an sekaligus perjuangannya sebagai pemimpin markas Laskar Hizbullah pada masa perang kemerdekaan.

Sementara KH Abdul Djalil Abdurrahman diulas sebagai pendidik inovatif yang menciptakan metode jadawil serta menulis berbagai kitab dalam disiplin keilmuan Islam.

Sosok KH M. Zubaidi Muslich, pendiri Pesantren Mambaul Hikam Jatirejo, juga mendapat ruang dalam buku tersebut. Ia dikenal memadukan kajian turats dengan kepedulian terhadap pelestarian lingkungan.

Ada pula KH Makki Ma’shum, yang dikenal melalui pengabdiannya kepada KH Hasyim Asy’ari sekaligus upayanya menjaga kesinambungan sanad tarekat.

Memasuki era modern, antologi menghadirkan KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah sebagai representasi ulama, teknokrat, dan penulis yang melakukan transformasi Pesantren Tebuireng dengan tetap mempertahankan tradisi salaf.

Sementara itu, kisah Kyai Abu Sujak memperlihatkan sisi lain perjuangan ulama mastur yang memilih berjuang dalam kesunyian melalui pembinaan santri dan pengabdian kepada masyarakat.

Jajaran tokoh dalam buku tersebut juga mencakup KH Umar Faruq, pengasuh Pesantren Salafiyyah Syafi’iyyah Seblak, serta KH Abdul Nashir Fattah, Rais Syuriah PCNU Jombang periode 2007–2022 sekaligus Pengasuh Pesantren Al-Fathimiyyah.

Di bidang tasawuf dan keilmuan akademis, terdapat profil KH Moch Djamaluddin Ahmad, Mustasyar PWNU Jawa Timur sekaligus pendiri Pesantren Bumi Damai Al-Muhibbin Tambakberas.

Kemudian KH Abdul Mujib Adnan, Wakil Rais Syuriah PCNU Jombang, yang dikenal aktif mendialogkan pemikiran Islam klasik dengan konsep modern Rahmatan lil ‘Alamin.

Tokoh lainnya adalah Dr KH Isrofil Amar, M.Ag., Ketua PCNU Jombang dua periode yang juga aktif dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan Gerakan Pramuka.

Sementara KH Ahmad Baidlowi Yasin diulas sebagai salah satu perintis Pagar Nusa Jombang pada 1991 yang memadukan bela diri dengan pembinaan spiritual santri.

Sebagai penutup, antologi menghadirkan KH Abdurrahman bin Bahri, kiai kampung yang menjadi representasi ulama akar rumput dalam menjaga dan merawat tradisi Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyyah di tengah masyarakat.

Syafii menilai kehadiran buku 21 Masyayikh NU Jombang menjadi penting di tengah perubahan zaman. Sebab, sejarah Nahdlatul Ulama tidak hanya dibangun oleh deretan tanggal, peristiwa politik, maupun catatan organisasi.

Lebih dari itu, sejarah NU juga tumbuh dari keteladanan para kiai dan masyayikh yang mengabdikan hidupnya untuk ilmu, pendidikan, pesantren, dakwah, serta pemberdayaan masyarakat.

“Buku 21 Masyayikh NU Jombang mengajak pembaca menengok kembali akar perjuangan NU di tingkat lokal, termasuk kiprah para kiai yang dengan ilmu, pendidikan, dan pengabdian turut membangun tradisi Nahdlatul Ulama,” pungkas Syafii.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *