Sudutkota.id – Layanan gigi RSUD Jombang kini semakin lengkap. Rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten Jombang tersebut menghadirkan empat dokter spesialis kedokteran gigi untuk menangani kasus medis yang membutuhkan pelayanan lebih lanjut.
Empat spesialisasi tersebut meliputi Periodonsia, yang menangani jaringan penyangga gigi dan gusi; Endodonsia, untuk perawatan saraf dan saluran akar gigi; Ortodonsia, yang berkaitan dengan penataan susunan gigi; serta Bedah Mulut.
Kehadiran empat layanan spesialis tersebut membuat pelayanan gigi di RSUD Jombang tidak lagi sebatas tindakan dasar seperti pencabutan dan penambalan gigi. Penguatan layanan ini sekaligus mendorong RSUD Jombang menjadi salah satu rumah sakit rujukan untuk kasus kedokteran gigi di wilayah Jawa Timur bagian tengah.
Direktur RSUD Jombang dr Pudji Umbaran mengatakan, pemenuhan dokter spesialis dan pengadaan peralatan medis telah dipersiapkan sejak awal tahun lalu. Langkah tersebut dilakukan untuk menjawab kebutuhan masyarakat terhadap layanan kedokteran gigi yang semakin beragam.
“Untuk memanfaatkan fasilitas ini secara optimal, kami menggelar sosialisasi dan kegiatan ilmiah bersama para dokter gigi di fasilitas kesehatan tingkat pertama (faskes 1). Kami ingin meluruskan pemahaman publik: layanan gigi di RSUD Jombang bukan lagi sekadar cabut dan tambal gigi, melainkan sudah mencakup penanganan spesialisasi yang komprehensif,” ujar Pudji saat ditemui seusai seminar bertajuk Update Pelayanan Gigi Periodonsia, Endodonsia, Ortodonsia serta Bedah Mulut di Ruang Pertemuan KH Wahab Chasbullah lantai 4 Gedung RSUD Jombang, Selasa (18/8/2026).
Pudji menjelaskan, keberadaan dokter spesialis kedokteran gigi juga perlu diimbangi dengan pemahaman mengenai sistem rujukan berjenjang dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Menurut dia, layanan kesehatan dasar ditangani terlebih dahulu di Puskesmas, klinik, maupun dokter praktik mandiri. Karena itu, dokter gigi di fasilitas kesehatan tingkat pertama perlu memahami kriteria klinis pasien yang membutuhkan rujukan ke RSUD Jombang.
“Peserta yang hadir adalah para dokter gigi umum dari Puskesmas, klinik, hingga praktik mandiri se-Kabupaten Jombang. Mereka perlu memahami kapan kasus medis tidak bisa ditangani di tingkat primer dan harus dirujuk melalui sistem BPJS. Jika pasien langsung datang ke rumah sakit tanpa prosedur rujukan, tentu tidak bisa dijamin BPJS,” jelasnya.
Pudji mengatakan, seluruh materi dalam seminar ilmiah tersebut disampaikan langsung oleh empat dokter spesialis kedokteran gigi yang dimiliki RSUD Jombang.
Menurutnya, keberadaan formasi spesialis kedokteran gigi yang cukup lengkap menjadi salah satu keunggulan RSUD Jombang. Sebab, tidak semua rumah sakit daerah memiliki empat bidang spesialisasi tersebut secara bersamaan.
“Dengan adanya dokter spesialis dan fasilitas yang tersedia, kami berharap masyarakat tidak perlu lagi mencari pelayanan tertentu ke luar daerah apabila kasusnya memang bisa ditangani di RSUD Jombang,” ujarnya.
Selain memperkuat layanan kedokteran gigi, RSUD Jombang juga memastikan kesiapan fasilitas kesehatan menghadapi Muktamar NU ke-35 yang dijadwalkan berlangsung pada 27-31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.
Perhelatan nasional tersebut diperkirakan mendatangkan peserta dan tamu dalam jumlah besar dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara. Kondisi ini membuat kesiapan fasilitas kesehatan menjadi salah satu aspek penting selama pelaksanaan Muktamar NU ke-35.
Pudji menyebut RSUD Jombang memiliki total kapasitas 492 tempat tidur. Saat ini tingkat keterisian atau Bed Occupancy Rate (BOR) berada di kisaran 80 persen.
Artinya, sekitar 20 persen kapasitas tempat tidur tersedia secara dinamis untuk kebutuhan pelayanan. Namun, menurut Pudji, tempat tidur tersebut bukan sengaja dikosongkan, melainkan terus mengikuti alur pelayanan, sterilisasi, dan pembersihan setelah pasien pulang.
“Kami tidak menambah bed khusus karena seluruh kapasitas sarpras kami sudah terpetakan dan terkoneksi secara transparan di dalam sistem BPJS Kesehatan. Cadangan sekitar 20 persen tempat tidur harian itu sangat dinamis, bukan dibiarkan kosong, melainkan terus berjalan dalam alur sterilisasi dan pembersihan usai pasien pulang, sehingga siap sewaktu-waktu dibutuhkan,” papar Pudji.
Dalam pelaksanaan Muktamar NU ke-35, penanganan kesehatan di lapangan nantinya akan ditopang tim gabungan panitia lokal melalui posko-posko kesehatan primer, termasuk Puskesmas dan klinik.
Sementara itu, RSUD Jombang akan difokuskan untuk menangani pasien rujukan dengan kondisi darurat maupun pasien yang membutuhkan perawatan lanjutan dan rawat inap.
“RSUD Jombang siaga penuh untuk rujukan kasus darurat maupun rawat lanjutan. Contohnya, jika ditemukan peserta yang mengalami kenaikan tekanan darah pada kriteria kritis (hypertensive crisis), atau penanganan diare berat (profuse) yang membutuhkan rawat inap dan penanganan intensif, tim medis kami langsung mengambil alih,” pungkasnya.




















