Nasional

Menuju Indonesia Emas 2045, Novita Minta Mahasiswa Berani Kawal Kebijakan

7
×

Menuju Indonesia Emas 2045, Novita Minta Mahasiswa Berani Kawal Kebijakan

Share this article
Anggota Komisi VII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Novita Hardini saat menjadi narasumber kuliah tamu di Universitas Merdeka (UNMER) Malang Kampus PDKU Ponorogo. (Foto: Dok. Novita)

Sudutkota.id – Anggota Komisi VII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Novita Hardini, meminta mahasiswa tidak mengambil posisi aman sebagai penonton ketika kebijakan publik menentukan arah kehidupan masyarakat.

Menurut Novita, generasi muda harus memahami bagaimana sebuah kebijakan dibuat, siapa yang berkepentingan, siapa yang terdampak, serta sejauh mana kebijakan tersebut benar-benar menjawab persoalan masyarakat.

Pesan itu disampaikan Novita saat menjadi narasumber kuliah tamu Universitas Merdeka (UNMER) Malang Kampus PDKU Ponorogo, Sabtu (15/8/2026). Forum tersebut mengangkat tema “Transformasi Kebijakan Publik, Kepastian Hukum, dan Penguatan Ekonomi Daerah dalam Mewujudkan Indonesia Emas 2045”.

Novita menilai target Indonesia Emas 2045 tidak cukup dibangun melalui program pemerintah dan angka pertumbuhan ekonomi. Ada persoalan yang lebih mendasar, yakni bagaimana memastikan masyarakat, termasuk generasi muda, memiliki kemampuan untuk membaca sekaligus mengkritisi kebijakan yang memengaruhi kehidupan mereka.

“Jangan hanya menjadi penikmat kebijakan. Pahami bagaimana kebijakan itu dibuat, siapa yang menentukan, dan bagaimana dampaknya bagi masyarakat,” tegas Novita.

Ia menempatkan mahasiswa sebagai kelompok yang memiliki posisi strategis. Selain memiliki ruang akademik untuk menguji gagasan, mahasiswa juga berada cukup dekat dengan berbagai persoalan sosial dan ekonomi di daerah.

Karena itu, Novita mendorong kampus tidak hanya menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan akademik, tetapi juga generasi yang berani mempertanyakan kebijakan yang tidak berpihak dan menawarkan solusi atas persoalan daerah.

Dalam konteks ekonomi daerah, Novita menilai generasi muda harus mampu membaca potensi lokal dan menghubungkannya dengan perkembangan teknologi serta perubahan ekonomi. Kepastian hukum juga diperlukan agar masyarakat dan pelaku usaha memiliki ruang yang sehat untuk berkembang.

“Indonesia Emas 2045 tidak akan lahir hanya dari angka pertumbuhan ekonomi. Kita membutuhkan manusia yang kritis, berintegritas, memahami persoalan daerah, dan berani mengambil bagian dalam menyelesaikannya,” ujarnya.

Novita berharap dialog di kampus tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Ia ingin mahasiswa Ponorogo menjadikan ruang akademik sebagai titik awal untuk membaca persoalan daerah secara lebih kritis sekaligus melahirkan gagasan yang dapat diuji dan diterapkan.

“Kampus harus menjadi tempat lahirnya gagasan, keberanian, dan solusi. Karena masa depan daerah dan Indonesia bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga tanggung jawab generasi muda,” pungkasnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *