Sudutkota.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengakhiri Peringatan Dini Tsunami setelah gempa bumi tektonik magnitudo (M) 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8) pukul 04.58 WIB.
Peringatan dini tsunami dinyatakan berakhir pada pukul 07.30 WIB setelah BMKG memastikan tidak ada lagi kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan masyarakat di wilayah pesisir terdampak.
Deputi Bidang Geofisika BMKG Nelly Florida Riama mengatakan gempa tersebut merupakan gempa dangkal dengan kedalaman 15 kilometer yang dipicu aktivitas Flores Back-Arc Thrust atau sesar naik di belakang busur Flores.
Hasil pemutakhiran parameter menunjukkan episenter gempa berada di laut pada koordinat 8,41° LS dan 121,39° BT, sekitar 30 kilometer arah timur laut Nagekeo, NTT.
“BMKG tidak lagi mencatat adanya kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan masyarakat di sepanjang pesisir terdampak,” kata Nelly di Gedung MHEWS BMKG, Jakarta, Sabtu (15/8).
Tsunami Terdeteksi di 10 Titik
Meski peringatan dini telah berakhir, BMKG mencatat gelombang tsunami sempat tiba di 10 titik pesisir.
Gelombang tertinggi terpantau di Maurole, Ende, dengan ketinggian 0,94 meter pada pukul 05.27 WIB. Sementara gelombang lainnya tercatat di Sikka 0,20 meter, Pelabuhan Kewapante-Sikka 0,38 meter, Flores Timur 0,25 meter, Labuan Bajo 0,36 meter, Dompu 0,17 meter, Bakalang-Alor 0,14 meter, Baubau 0,30 meter, Bulukumba 0,54 meter, dan Kolaka 0,23 meter.
Guncangan gempa juga dirasakan kuat di sejumlah wilayah. Berdasarkan skala Modified Mercalli Intensity (MMI), intensitas V MMI tercatat di Kota Ende, Borong, dan Ruteng.
Sementara intensitas VI MMI yang dapat mengejutkan seluruh penduduk hingga membuat warga berlari keluar rumah dirasakan di Wolowae, Kabupaten Nagekeo, dan Kota Bajawa.
37 Gempa Susulan, Dua Orang Meninggal
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengatakan hingga pukul 07.07 WIB tercatat 37 aktivitas gempa bumi susulan dengan magnitudo antara M3,6 hingga M6,2. Dari jumlah tersebut, satu gempa dirasakan masyarakat.
Menurut Wijayanto, wilayah busur belakang Flores memiliki potensi gempa maksimum sekitar M7,8 hingga M7,9. Gempa serupa pernah terjadi pada 1992 dengan kekuatan M7,5 yang menyebabkan kerusakan dan tsunami.
“Setelah hampir 30 tahun, pelepasan energi besar kembali terjadi di busur belakang Flores,” ujar Wijayanto.
Sementara itu, pemantauan awal Stasiun Geofisika Kupang dan koordinasi dengan BPBD setempat menunjukkan sejumlah kerusakan akibat guncangan.
Beberapa bagian tembok rumah sederhana dilaporkan roboh di wilayah Maumere, Manggarai Barat, dan Labuan Bajo. Kerusakan juga terjadi pada fasilitas Pelabuhan Maumere serta bangunan Hotel Jayakarta Bajo.
Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG Teguh Rahayu mengatakan tim BMKG mulai diterjunkan ke wilayah terdampak untuk melakukan survei kerusakan secara menyeluruh.
Di sisi lain, Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi BNPB Berton SP. Panjaitan menyampaikan bahwa dua orang dilaporkan meninggal dunia.
“Data terbaru yang masuk mengonfirmasi ada dua orang yang meninggal dunia. Informasi ini terus kami pantau dan verifikasi bersama BMKG, BPBD, Pemda, serta unsur terkait agar dapat mengeluarkan data resmi mengenai total kerusakan dan korban jiwa,” kata Berton.
Warga Diminta Waspada Gempa Susulan
BMKG menegaskan berakhirnya peringatan dini tsunami bukan berarti aktivitas kegempaan telah berhenti. Gempa susulan masih berpotensi terjadi sehingga masyarakat diminta tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan.
BMKG juga mengimbau warga menjauhi bangunan yang mengalami retakan atau kerusakan struktur serta memeriksa kondisi bangunan sebelum kembali beraktivitas di dalamnya.
Masyarakat diminta tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi dan mengikuti perkembangan melalui kanal resmi BMKG, termasuk akun @infoBMKG, situs resmi BMKG, aplikasi InfoBMKG, serta WRS-BMKG.




















