MALANG, Sudutkota.id— Ketua DPRD Kota Malang, Amithya Ratnanggani Sirraduhita, S.S., menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, inklusif, dan ramah bagi santri maupun mahasiswa.
Hal itu disampaikannya saat menghadiri Seminar dan Sharing Session bertema “Peran Perguruan Tinggi Berbasis Pesantren dalam Pengembangan Strategi Kampus dan Pesantren Ramah Santri” yang digelar di STAI Ma’had Aly Al-Hikam Malang, Rabu (5/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi wadah memperkuat sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, pesantren, serta berbagai elemen masyarakat dalam membangun ekosistem pendidikan yang mampu memberikan perlindungan sekaligus menjamin hak setiap peserta didik.
Amithya menilai, upaya menciptakan kampus dan pesantren yang ramah santri tidak cukup hanya dilakukan melalui kebijakan internal lembaga pendidikan. Diperlukan komitmen bersama untuk mencegah berbagai bentuk kekerasan, termasuk kekerasan seksual, sekaligus memastikan adanya keberanian untuk melaporkan dan menindaklanjuti setiap kasus yang terjadi.
“Perlindungan terhadap anak, santri, dan mahasiswa merupakan tanggung jawab kita bersama. Karena itu, setiap bentuk kekerasan tidak boleh dibiarkan dan harus berani disampaikan serta ditindaklanjuti,” tegas Amithya.
Menurutnya, lembaga pendidikan seharusnya menjadi tempat yang memberikan rasa aman bagi setiap peserta didik. Lingkungan pendidikan yang sehat akan membantu santri dan mahasiswa berkembang secara optimal, baik dari sisi akademik maupun pembentukan karakter.
“Jangan sampai tempat yang seharusnya menjadi ruang untuk menuntut ilmu justru menjadi tempat yang membuat peserta didik merasa takut atau tidak terlindungi,” ujarnya.
Amithya menambahkan, penguatan sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, pesantren, keluarga, dan masyarakat menjadi kunci dalam membangun sistem pencegahan kekerasan yang efektif.
Ia berharap forum tersebut tidak berhenti pada diskusi semata, tetapi dapat melahirkan langkah konkret untuk memperkuat mekanisme perlindungan dan menciptakan budaya pendidikan yang lebih aman serta inklusif.
“Melalui kolaborasi yang kuat, mari kita wujudkan lingkungan pendidikan yang bukan hanya menjadi tempat menuntut ilmu, tetapi juga ruang yang aman, nyaman, dan mampu memberikan perlindungan bagi setiap peserta didik,” pungkasnya.




















