BLORA, Sudutkota.id – Kebijakan efisiensi anggaran Pemerintah Kabupaten Blora mulai berdampak pada sektor promosi pariwisata. Salah satu program yang harus dikorbankan adalah Pemilihan Kakang Mbakyu Duta Wisata Blora 2026 yang dipastikan tidak digelar tahun ini.
Keputusan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai arah kebijakan pengembangan pariwisata daerah. Sebab, ajang Kakang Mbakyu selama ini menjadi wadah regenerasi generasi muda yang berperan mempromosikan potensi wisata, budaya, hingga ekonomi kreatif Kabupaten Blora.
Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Blora, Yetti Romdhonah, membenarkan bahwa kegiatan tersebut masuk dalam daftar program yang terdampak efisiensi anggaran. Akibatnya, masa bakti Kakang Mbakyu Blora 2025 diperpanjang.
“Untuk pemilihan Kakang Mbakyu Duta Wisata Blora 2026 ditiadakan dan masa bakti Kakang Mbakyu Blora 2025 diperpanjang. Beberapa pemerintah daerah di Jawa Tengah juga ada yang meniadakan pemilihan Kakang Mbakyu,” ujar Yetti, Selasa (4/7/2026).
Menurutnya, hingga kini belum ada kepastian apakah pemilihan akan kembali dilaksanakan pada 2027. Semua masih bergantung pada kemampuan keuangan daerah.
“Untuk 2027 nanti kita belum tahu, semoga saja akan diberikan anggaran untuk melakukan pemilihan generasi muda yang potensial untuk menjadi motor dalam mengembangkan wisata,” katanya.
Di sisi lain, keputusan memperpanjang masa bakti duta wisata juga menghadapi tantangan. Sebagian anggota Kakang Mbakyu Blora 2025 kini telah melanjutkan pendidikan di luar daerah sehingga tidak lagi dapat aktif mengikuti seluruh kegiatan promosi yang digelar pemerintah.
“Namun kami menyiasati ketika ada event di Blora itu ada anak-anak yang masih sekolah di Blora untuk kami ajak. Karena beberapa kegiatan pasti ada yang menanyakan terkait kehadiran Duta Wisata Blora,” jelas Yetti.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meski status duta wisata diperpanjang, efektivitas perannya tidak lagi sama seperti saat pertama kali dikukuhkan. Regenerasi yang biasanya dilakukan setiap tahun juga terhenti, sehingga kesempatan bagi generasi muda Blora untuk terlibat langsung dalam promosi daerah ikut tertunda.
Padahal, selama ini Kakang Mbakyu tidak hanya menjadi ikon seremonial, tetapi juga terlibat dalam promosi destinasi wisata, kampanye budaya, hingga mendukung pelaku ekonomi kreatif melalui berbagai kegiatan kolaboratif.
Yetti mengakui keputusan tersebut bukan hal yang diinginkan pihaknya. Menurutnya, banyak masyarakat yang menanyakan kelanjutan ajang tersebut.
“Kami juga menyayangkan tidak ada pemilihan Kakang Mbakyu, karena banyak yang menanyakan. Namun, kami tetap memberikan semangat untuk menggali potensi dan bakat generasi muda harus selalu dieksplorasi. Bisa juga mengikuti ajang-ajang yang lain,” tuturnya.
Di tengah upaya Pemerintah Kabupaten Blora mendorong sektor pariwisata sebagai salah satu penggerak ekonomi daerah, penghapusan agenda regenerasi duta wisata menjadi ironi tersendiri. Efisiensi anggaran memang menjadi kebijakan nasional, namun keputusan memangkas program promosi pariwisata memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana sektor tersebut masih menjadi prioritas pembangunan daerah di tengah berbagai agenda yang tetap berjalan.




















