Sudutkota.id – Limbah pertanian yang biasanya terbuang kini punya nilai baru. Lewat riset tekstil bernama Barik, Inty Nahari, dosen Program Magister Industri Kreatif Fakultas Vokasi Universitas Negeri Surabaya, mengubah serat daun nanas Kelud menjadi material berkelanjutan untuk industri kreatif.
Bagi Inty, penelitian ini tidak hanya melahirkan karya seni. Lebih dari itu, riset ini membuktikan material lokal Indonesia mampu menjawab isu global seperti keberlanjutan, pengelolaan limbah pertanian, hingga pelestarian pengetahuan tradisional.
Karya Barik bahkan mendapat sorotan dalam pameran seni internasional “Becoming: Prakriti–Pustaka–Padma” di Agung Rai Museum of Art, ARMA, Bali. Dari 79 karya milik 50 seniman dan praktisi dari 8 negara, Barik hadir membawa narasi kekayaan material lokal yang diolah melalui pendekatan riset dan desain.
Nama Barik diambil dari bahasa Jawa yang artinya garis. Nama itu merujuk pada karakter utama karya yang tersusun dari untaian serat daun nanas.
Namun bagi Inty, garis tersebut bukan sekadar elemen visual. Setiap serat menyimpan jejak alam tempat nanas tumbuh, mulai dari jenis tanah, paparan matahari, curah hujan, sampai cara pengolahannya.
“Ketidakteraturan serat itu bukan kekurangan. Itu adalah rekaman alami dari lingkungannya,” ujar Inty, Sabtu (25/7/2026).
Alih-alih menyeragamkan seperti tekstil pabrik, ia justru mempertahankan perbedaan tekstur, warna, dan ketebalan tiap serat. Serat-serat itu kemudian dipadukan dengan teknik tenun kluwung.
“Perpaduan pola tenun yang teratur dengan karakter alami serat melahirkan permukaan tekstil yang unik dan tidak bisa diduplikasi persis sama,” jelasnya.
Penelitian ini dimulai sejak 2023. Awalnya Inty menguji coba daun nanas madu Kelud sebagai bahan tenun ATBM dengan inspirasi relief Candi Palah Penataran.
Dari sana, eksplorasi meluas ke berbagai serat alam lain di kawasan lereng Gunung Kelud untuk memahami karakteristik dan potensi pengembangannya.
“Meski sangat lokal, serat daun nanas Kelud bisa masuk dalam percakapan global. Isunya tentang keberlanjutan, limbah pertanian, relasi manusia dengan alam, dan pentingnya menghidupkan kembali pengetahuan tradisional,” terang Inty.
Menurut Inty, potensi serat daun nanas jauh melampaui karya pameran. Material ini bisa dikembangkan menjadi produk fesyen, aksesori, elemen interior, panel dekoratif, hingga produk kriya.
Ini juga membuka peluang kolaborasi lintas sektor, antara petani nanas, penenun, desainer, peneliti, industri, hingga pemerintah daerah. Tujuannya agar limbah pertanian punya nilai tambah ekonomi.
Ke depan, ia berencana memperluas jejaring riset serat alam Indonesia. Ia juga ingin membangun pusat dokumentasi dan laboratorium khusus untuk mengkaji karakter material, teknik pengolahan, dan peluang hilirisasinya.




















