Sudutkota.id – Konsep rumah sakit ramah anak dinilai belum akan lengkap tanpa ketersediaan layanan dokter spesialis tumbuh kembang anak. Anggota Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR RI, Lucy Kurniasari, menyoroti masih minimnya tenaga medis yang menangani gangguan tumbuh kembang, sehingga banyak keluarga harus menghadapi antrean panjang demi memperoleh layanan yang dibutuhkan.
Sorotan itu disampaikan Lucy saat kunjungan kerja BURT ke RS Siloam Mataram, Nusa Tenggara Barat, minggu (28/6/2026). Ia meminta rumah sakit yang mengusung konsep ramah anak turut memperkuat pelayanan dengan menghadirkan dokter spesialis tumbuh kembang anak.
Lucy berbicara berdasarkan pengalaman pribadinya saat mendampingi cucunya yang mengalami cerebral palsy akibat infeksi pada trimester ketiga kehamilan. Kondisi tersebut baru diketahui ketika sang cucu berusia dua tahun.
“Saya tertarik dengan konsep rumah sakit ramah anak, tapi saya belum melihat di sini ada dokter spesialis tumbuh kembang anak. Cucu saya ada delapan, lalu cucu saya yang keempat mengalami cerebral palsy akibat infeksi pada trimester ketiga kehamilan. Kondisinya baru disadari saat usia dua tahun,” kata Lucy.
Menurut Lucy, mencari layanan dokter tumbuh kembang saat itu bukan perkara mudah. Ia mengaku hanya menemukan layanan tersebut di sebuah rumah sakit di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, dengan daftar tunggu pasien yang mencapai satu tahun.
“Cari dokter tumbuh kembang setengah mati karena ternyata sangat jarang. Waktu itu adanya di rumah sakit daerah Kelapa Gading dan antreannya tahunan,” ujarnya.
Ia menilai layanan tumbuh kembang seharusnya tidak dipandang sebatas konsultasi dokter. Penanganan pasien juga membutuhkan terapi berkelanjutan hingga penyediaan alat bantu yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak. Karena itu, menurutnya, layanan tersebut perlu diperluas agar anak-anak yang mengalami keterlambatan atau gangguan perkembangan dapat memperoleh intervensi sejak dini.
Lucy juga melihat tingginya kebutuhan masyarakat terhadap layanan tersebut. Berdasarkan pengalamannya, terdapat sekitar 100 pasien yang menjalani penanganan, bahkan sebagian datang dari luar daerah, termasuk Lombok.
“Saya melihat kasus tumbuh kembang itu banyak sekali. Waktu itu ada kira-kira 100 pasien, bahkan banyak juga yang dari Lombok. Saya melihat potensinya besar. Kalau tidak ada dokter spesialis tumbuh kembang di sini, sayang sekali. Mungkin ke depan bisa ditambah layanan tumbuh kembang,” tutup lucy
Pernyataan Lucy sekaligus menyoroti tantangan pemerataan layanan kesehatan anak di Indonesia. Di tengah meningkatnya kebutuhan penanganan gangguan tumbuh kembang, akses terhadap dokter spesialis masih terkonsentrasi di sejumlah kota besar. Kondisi ini membuat keluarga pasien dari daerah harus menempuh perjalanan jauh dan menghadapi waktu tunggu yang panjang untuk mendapatkan penanganan.




















