Sudutkota.id – Cuaca tak menentu yang masih terjadi di Kabupaten Jombang pada awal musim kemarau 2026 membuat petani tembakau diliputi kekhawatiran.
Potensi hujan yang masih turun dikhawatirkan dapat mengganggu pertumbuhan tanaman hingga menurunkan kualitas hasil panen tembakau.
Kepala Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Jombang, Moch Rony, mengakui kondisi cuaca menjadi faktor penting yang memengaruhi minat petani menanam tembakau. Bahkan pada 2025 lalu, luas tanam tembakau di Jombang mengalami penurunan akibat fenomena kemarau basah yang dipicu anomali cuaca.
“Tahun 2025 sekitar 1.000 hektare lahan tembakau beralih ke tanaman padi dan palawija. Mudah-mudahan tahun 2026 ini sesuai perkiraan BMKG kondisinya normal. Ini sangat mendukung pertumbuhan tembakau,” kata Rony, Sabtu (6/6/2026).
Rony menjelaskan, apabila kondisi cuaca berlangsung normal sepanjang musim tanam, luas lahan tembakau di Kabupaten Jombang berpotensi kembali ke angka ideal.
Menurutnya, luas tanam tembakau di Jombang dapat mencapai 6.000 hingga 6.500 hektare sebagaimana kondisi pada musim tanam normal.
“Kami berharap musim tanam tembakau 2026 cuacanya normal dan luasan lahan bisa kembali normal,” ujarnya.
Sebagai daerah penghasil tembakau, Jombang memiliki dua varietas unggulan yang telah dilepas secara nasional, yakni Jinten Pakpie 1 dan tembakau jenis Manilo.
Disperta Jombang juga terus melakukan pendampingan budidaya bersama Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) guna menjaga produktivitas dan kualitas hasil panen petani.
“Kami berharap Jombang bisa menjadi tuan rumah di negerinya sendiri untuk meningkatkan produksi tembakau,” tegas Rony.
Selain pendampingan teknis, pengembangan komoditas tembakau di Jombang turut didukung melalui Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT).
Dana tersebut dimanfaatkan untuk membantu kebutuhan petani, mulai penyediaan pupuk non subsidi, bantuan alat perajang tembakau hingga pembangunan rumah jamuran sebagai sarana pengeringan hasil panen.
“Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus kualitas tembakau yang dihasilkan petani Jombang,” ucapnya.
Menyikapi kondisi cuaca yang masih diwarnai hujan meski telah memasuki musim kemarau, Distan Jombang memberikan sejumlah rekomendasi kepada petani tembakau.
Rony mengatakan petani, khususnya di kawasan Utara Brantas, perlu melakukan penyesuaian pola budidaya agar tanaman tetap aman dari dampak curah hujan.
“Pertama, saluran drainase di lahan dibuat lebih dalam agar air tidak menggenangi akar. Kedua, tanam tembakau dengan sistem single row atau satu baris, jangan double row,” jelasnya.
Menurutnya, satu guludan cukup ditanami satu tanaman tembakau agar sirkulasi udara lebih baik dan risiko kerusakan tanaman akibat kelembapan berlebih dapat diminimalkan.
“Satu guludan cukup satu tanaman tembakau saja. Ini lebih mengamankan dan efisien agar pertumbuhan maksimal meskipun masih ada hujan,” pungkasnya.




















