DaerahPeristiwa

Pendaki Terjatuh 375 Meter di Semeru Berhasil Diselamatkan, Operasi SAR Berlangsung Empat Hari

12
×

Pendaki Terjatuh 375 Meter di Semeru Berhasil Diselamatkan, Operasi SAR Berlangsung Empat Hari

Share this article
Tim SAR Gabungan mengevakuasi pendaki yang terjatuh ke jurang sedalam 375 meter di kawasan Gunung Semeru. (Foto: Dok. Basarnas Surabaya)

Sudutkota.id – Operasi penyelamatan dramatis di lereng Gunung Semeru akhirnya berakhir dengan kabar melegakan. Setelah bertarung melawan medan ekstrem, cuaca buruk, dan ancaman aktivitas vulkanik, Tim SAR Gabungan berhasil mengevakuasi seorang pendaki ilegal bernama Cakra (18) yang terjatuh ke jurang sedalam sekitar 375 meter.

Korban tiba di Posko SAR Semeru pada Jumat (5/6/2026) pukul 19.20 WIB setelah menjalani proses evakuasi selama empat hari yang menguras tenaga dan konsentrasi puluhan personel penyelamat.

Peristiwa ini bermula saat Cakra bersama dua rekannya asal Semarang dan Pasuruan nekat melakukan pendakian melalui jalur tidak resmi di kawasan Candi Jawar Purbakala, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang, pada Sabtu (30/5/2026).

Padahal hingga saat ini pendakian menuju puncak Gunung Semeru masih ditutup total oleh Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) karena aktivitas vulkanik yang masih tinggi.

Petaka terjadi pada Senin (1/6/2026) sekitar pukul 10.00 WIB. Saat berada di lereng gunung, Cakra dilaporkan kehilangan pijakan dan terjatuh ke jurang dengan kedalaman ratusan meter.

Sebelum sinyal telepon menghilang, korban sempat menghubungi orang tuanya dan mengirimkan titik koordinat lokasi terakhir. Setelah itu komunikasi terputus karena area tersebut berada di zona minim jaringan komunikasi.

Menerima kabar tersebut, keluarga segera berkoordinasi dengan aparat setempat. Pada malam harinya, ayah korban bersama enam warga melakukan pencarian mandiri menuju lokasi yang diduga menjadi titik jatuhnya korban.

Upaya itu membuahkan hasil. Pada Selasa (2/6/2026), posisi korban berhasil ditemukan. Namun kondisi medan yang sangat curam dan berbahaya membuat proses evakuasi tidak mungkin dilakukan secara manual sehingga bantuan Tim SAR Gabungan diterjunkan.

Kepala BB TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, menegaskan bahwa aktivitas yang dilakukan korban dan dua rekannya merupakan pendakian ilegal karena tidak tercatat dalam sistem resmi pendakian.

“Artinya aktivitas yang dilakukan ketiga orang tersebut merupakan pendakian ilegal dan tidak tercatat dalam sistem pelayanan pendakian BB TNBTS,” tegas Rudijanta.

Misi penyelamatan yang dimulai sejak Rabu (3/6/2026) tidak berjalan mudah. Selain harus menembus jalur terjal dan vegetasi rapat, tim juga menghadapi cuaca pegunungan yang berubah sangat cepat.

Koordinator Unit Siaga SAR Malang, Imam Nahrowi, menjelaskan kabut tebal yang turun pada malam hari sempat memaksa tim menghentikan pergerakan demi keselamatan seluruh personel.

Pandangan yang sangat terbatas membuat risiko kecelakaan meningkat karena lokasi evakuasi berada di kawasan dengan banyak jurang dan tebing curam.

“Pandangan tertutup kabut saat malam menjadi kendala sehingga sangat berisiko bila perjalanan dilanjutkan. Banyak jurang yang curam dan terjal sehingga tim harus berhati-hati ketika menuju lokasi korban,” ujarnya.

Tantangan lain datang dari aktivitas Gunung Semeru yang masih berstatus Level III atau Siaga. Pada Kamis (4/6/2026) pagi, gunung tertinggi di Pulau Jawa itu dilaporkan mengalami tujuh kali erupsi hanya dalam rentang waktu sekitar delapan jam.

Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru mencatat tinggi kolom letusan mencapai sekitar 700 meter di atas puncak dengan arah sebaran abu menuju sektor barat daya.

Kondisi tersebut membuat tim penyelamat harus terus memantau perkembangan aktivitas vulkanik selama proses evakuasi berlangsung.

Untuk mempercepat proses penyelamatan, Kantor SAR Surabaya mengirimkan personel tambahan yang membawa perlengkapan High Angle Rescue Technique (HART) serta perangkat komunikasi Starlink.

Namun peralatan canggih itu tidak serta-merta mempermudah pekerjaan di lapangan. Dari titik pemberhentian kendaraan, tim masih harus berjalan kaki sekitar delapan jam untuk mencapai lokasi korban.

Sesampainya di lokasi, petugas medis langsung memberikan pertolongan pertama. Korban diketahui mengalami cedera cukup serius pada kaki kanan akibat benturan saat terjatuh.

Kepala Kantor SAR Surabaya sekaligus SAR Mission Coordinator (SMC), Nanang Sigit, mengatakan kaki korban harus segera dibidai untuk mencegah pembengkakan dan memperparah cedera.

Karena minimnya titik pijakan aman serta kemiringan tebing yang ekstrem, Tim SAR memutuskan menggunakan metode hauling system dan slope rescue.

Teknik ini memungkinkan korban dievakuasi secara bertahap menggunakan tandu khusus yang ditarik dengan sistem tali pengaman berlapis. Sejumlah rescuer ditempatkan di sisi kanan dan kiri tandu untuk menjaga keseimbangan selama proses penarikan.

Setiap meter perjalanan menjadi pertaruhan. Medan yang curam, tanah labil, serta ancaman longsoran kecil membuat seluruh personel harus bekerja ekstra hati-hati.

Setelah melalui perjuangan panjang selama empat hari, korban akhirnya berhasil dibawa keluar dari jurang dan tiba di Posko SAR Semeru pada Jumat malam sekitar pukul 19.20 WIB.

Keberhasilan operasi ini menjadi bukti kerja keras Tim SAR Gabungan, relawan, tenaga medis, porter, navigator, hingga warga sekitar yang terlibat dalam misi kemanusiaan tersebut.

Peristiwa ini sekaligus menjadi peringatan keras bagi para pendaki agar tidak menerobos jalur yang ditutup atau menggunakan jalur ilegal. Selain membahayakan diri sendiri, tindakan tersebut juga berpotensi mempertaruhkan keselamatan puluhan petugas yang harus melakukan pencarian dan penyelamatan ketika kecelakaan terjadi.

Pada akhirnya, keberhasilan menaklukkan puncak bukanlah pencapaian utama dalam pendakian. Pulang dengan selamat tetap menjadi tujuan paling penting dalam setiap perjalanan di alam bebas.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *