Sudutkota.id – Aksi kriminal diduga menyasar anak-anak di kawasan wisata Kabupaten Malang. Seorang bocah perempuan berusia lima tahun asal Desa Urek-Urek, Kecamatan Gondanglegi, diduga menjadi korban penjambretan saat berlibur di kolam renang Wisata Lembah Asri Kedok, Kecamatan Turen, Selasa (2/6/2026).
Akibat kejadian tersebut, korban kehilangan kalung emas seberat sekitar 10 gram yang dikenakannya. Tak hanya mengalami kerugian materi hingga puluhan juta rupiah, bocah tersebut juga mengalami trauma psikologis yang cukup berat.
Peristiwa itu dialami putri Hadi Zainuddin (48) saat berwisata bersama ayahnya pada sore hari. Awalnya, keduanya menikmati aktivitas berenang seperti biasa sejak sekitar pukul 15.30 WIB.
Menjelang pukul 16.30 WIB, sang anak lebih dulu selesai berenang dan berganti pakaian. Setelah itu, korban duduk di gazebo sambil menikmati makanan. Sementara Hadi masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian.
Namun, dalam waktu singkat saat korban berada seorang diri, seorang pria tak dikenal diduga mendekatinya. Pelaku kemudian mengambil kalung emas yang dikenakan bocah tersebut dan langsung melarikan diri.
“Saya hanya tinggal sebentar untuk ganti baju. Ketika keluar dari kamar mandi, anak saya sudah menangis ketakutan dan kalungnya sudah tidak ada,” ujar Hadi, Rabu (3/6/2026).
Mendengar tangisan putrinya, Hadi langsung berupaya mencari pelaku sambil meminta bantuan pengunjung dan petugas pengelola wisata. Sejumlah orang sempat melakukan pencarian di sekitar lokasi kejadian, namun pelaku diduga berhasil kabur sebelum sempat diamankan.
Menurut Hadi, kalung emas yang dibawa kabur pelaku memiliki berat sekitar 10 gram. Meski kehilangan barang berharga, kondisi mental sang anak menjadi perhatian utama keluarga.
Sejak kejadian itu, korban disebut mengalami ketakutan berlebihan. Bocah tersebut sering menangis ketika mengingat peristiwa yang dialaminya, bahkan beberapa kali mengigau saat tidur.
“Anak saya sekarang trauma. Dia takut, sering menangis, dan tidak mau diajak berenang lagi,” ungkapnya.
Pihak pengelola wisata juga sempat melakukan pemeriksaan rekaman kamera pengawas (CCTV). Namun, proses identifikasi pelaku terkendala karena area gazebo tempat kejadian berlangsung tidak terekam secara jelas akibat terhalang bagian atap bangunan.
“Dari pengelola sempat dicek CCTV, tetapi posisi lokasi tertutup sehingga wajah pelaku tidak terlihat jelas,” katanya.
Hadi mengaku cukup sering mengunjungi lokasi wisata tersebut bersama putrinya. Karena itu, dirinya tidak pernah menyangka tindak kriminal bisa terjadi di area rekreasi yang biasa menjadi tujuan keluarga untuk berlibur.
Merasa dirugikan, Hadi akhirnya melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Turen pada Rabu (3/6/2026). Laporan itu kini tengah ditindaklanjuti oleh aparat kepolisian guna mengungkap identitas pelaku dan menelusuri kemungkinan adanya rekaman maupun saksi yang dapat membantu proses penyelidikan.




















