Pendidikan

Lulusan Tunanetra Berprestasi Warnai Wisuda ke-119 UNESA, Elpanta Tarigan Raih Beasiswa S2

14
×

Lulusan Tunanetra Berprestasi Warnai Wisuda ke-119 UNESA, Elpanta Tarigan Raih Beasiswa S2

Share this article
Elpanta Tarigan, S.Pd., lulusan Pendidikan Luar Biasa (PLB) yang merupakan penyandang tunanetra sekaligus atlet berprestasi tingkat provinsi. (Foto: Sudutkota.id/OZZY)

Sudutkota.id – Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menggelar wisuda ke-119 pada Rabu, 29 April 2026, di Graha UNESA. Momen tersebut tidak hanya menjadi perayaan akademik, tetapi juga menghadirkan kisah inspiratif dari salah satu lulusannya, Elpanta Tarigan, S.Pd., lulusan Pendidikan Luar Biasa (PLB) yang merupakan penyandang tunanetra sekaligus atlet berprestasi tingkat provinsi.

Elpanta mengungkapkan bahwa dirinya mengalami tunanetra sejak usia 12 tahun, sebuah kondisi yang sempat membuatnya terpukul. Namun, berkat dukungan keluarga, teman, dan lingkungan sekitar, ia mampu bangkit dan melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi.

“Awalnya memang tidak mudah, tetapi saya selalu percaya bahwa apa yang saya alami pasti ada jalan terbaik ke depannya. Dukungan dari orang-orang sekitar sangat membantu saya untuk terus melangkah,” ujarnya.

Perjalanan pendidikan Elpanta dimulai dari sekolah luar biasa di Medan hingga akhirnya melanjutkan studi di Surabaya. Ia mengaku sempat menghadapi tantangan perbedaan budaya saat pertama kali merantau dari Sumatera Utara ke Jawa Timur, terutama dalam hal komunikasi dan interaksi sosial.

Meski demikian, Elpanta menilai lingkungan kampus dan masyarakat Surabaya cukup inklusif. Ia merasakan dukungan nyata dari lingkungan sekitar, mulai dari fasilitas hingga sikap masyarakat yang terbuka terhadap penyandang disabilitas.

“Di kampus dan di Surabaya, saya merasa sangat diterima. Banyak orang yang menawarkan bantuan ketika saya beraktivitas. Ini menunjukkan bahwa inklusivitas itu bukan hanya soal fasilitas, tapi juga sikap masyarakat,” jelasnya.

Selama kuliah, Elpanta menyelesaikan skripsi berjudul Peran Persatuan Tunanetra Indonesia dalam Peningkatan Keterampilan Sosial Tunanetra, yang mengkaji kontribusi organisasi dalam mendukung kemandirian penyandang disabilitas. Ia menyelesaikan skripsinya dalam waktu relatif singkat, yakni sejak September hingga Januari, dengan bantuan teknologi pembaca layar pada laptop.

Tak hanya unggul di bidang akademik, Elpanta juga aktif di dunia olahraga. Ia merupakan atlet catur tunanetra yang telah mengikuti berbagai kompetisi tingkat kota, provinsi, hingga nasional. Selain itu, ia juga mencatatkan prestasi di cabang olahraga lain, seperti juara 1 lempar lembing tunanetra tingkat provinsi serta medali emas tolak peluru pada ajang Pekan Paralimpik Pelajar.

Atas capaian dan semangatnya, Elpanta mendapatkan apresiasi berupa beasiswa untuk melanjutkan studi S2. Ia berencana tetap melanjutkan pendidikan di bidang Pendidikan Luar Biasa atau pendidikan inklusi.

“Saya ingin mendalami konsep inklusi lebih dalam, karena menurut saya inklusi bukan hanya soal fasilitas, tapi bagaimana masyarakat bisa menerima dan berinteraksi dengan penyandang disabilitas,” katanya.

Ke depan, Elpanta bercita-cita kembali ke kampung halamannya di Medan untuk berkontribusi sebagai tenaga pendidik. Ia ingin membantu mengembangkan pendidikan luar biasa di Sumatera Utara, yang menurutnya masih memiliki keterbatasan, khususnya di perguruan tinggi negeri.

Selain melanjutkan pendidikan, ia juga berencana kembali aktif sebagai atlet, mengingat sebelumnya sempat vakum demi fokus menyelesaikan studi.

Kisah Elpanta menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih prestasi. Dengan tekad, dukungan, dan semangat pantang menyerah, ia mampu menorehkan pencapaian di berbagai bidang sekaligus menjadi inspirasi bagi banyak orang.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *