Daerah

Harga Obat Tak Seragam, Khofifah Dorong Reformasi Pengadaan

3
×

Harga Obat Tak Seragam, Khofifah Dorong Reformasi Pengadaan

Share this article
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, bersama Wali Kota Malang Wahyu Hidayat dan Direktur RSSA Mochamad Bachtiar Budianto, saat peresmian Grand Paviliun di RSUD dr. Saiful Anwar, Rabu (22/4). (Foto: Sudutkota.id/MIT)

Sudutkota.id – Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyoroti ketimpangan harga obat di Indonesia saat meresmikan Grand Paviliun di RSUD dr. Saiful Anwar (RSSA), Rabu (22/4). Ia menegaskan perlunya reformasi sistem pengadaan obat guna menjamin keadilan layanan kesehatan.

Dalam sambutannya, Khofifah mengungkapkan masih ditemukannya perbedaan harga pada produk obat dan alat kesehatan dengan spesifikasi yang sama di berbagai rumah sakit. Selain itu, ketersediaan barang juga kerap menjadi persoalan saat dibutuhkan.

“Barang dengan spesifikasi sama, tetapi harganya berbeda, bahkan saat diperlukan tidak tersedia. Kondisi ini tidak boleh terus terjadi,” ujarnya.

Menurutnya, temuan tersebut sejalan dengan catatan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terkait disparitas harga dalam pengadaan barang kesehatan. Hal ini dinilai mencerminkan lemahnya tata kelola yang berpotensi mengganggu pelayanan kepada masyarakat.

Sebagai langkah pembenahan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur mendorong konsolidasi pengadaan obat dan alat kesehatan antar rumah sakit. Skema ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi harga sekaligus menjamin ketersediaan barang.

“Kami mendorong sistem pengadaan bersama yang transparan, efisien, dan terkontrol,” kata Khofifah.

Ia menambahkan, sejumlah rumah sakit di Jawa Timur telah mulai menerapkan skema tersebut, bahkan berkembang ke kerja sama lintas daerah hingga rumah sakit di Jakarta.

Sementara itu, Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, menyatakan peresmian Grand Paviliun RSSA akan memperkuat layanan kesehatan di daerahnya. Fasilitas baru ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas pelayanan dan menjangkau lebih banyak masyarakat.

Direktur RSSA, Mochamad Bachtiar Budianto, menjelaskan Grand Paviliun merupakan bagian dari transformasi layanan rumah sakit rujukan tersier milik Pemprov Jawa Timur. Gedung tersebut berdiri di atas lahan sekitar 3.000 meter persegi dengan luas bangunan mencapai 15.000 meter persegi serta memiliki sekitar 120 tempat tidur.

Fasilitas ini dilengkapi layanan rawat jalan, rawat inap, hingga penunjang medis modern. Meski menghadirkan layanan premium, RSSA tetap berkomitmen memberikan pelayanan tanpa diskriminasi.

“Keberhasilan rumah sakit diukur dari kepuasan dan kesembuhan pasien,” ujarnya.

Peresmian yang bertepatan dengan peringatan Hari Kartini ini menjadi simbol penguatan layanan kesehatan sekaligus dorongan perbaikan sistem pengadaan obat. Pemerintah berharap, langkah tersebut dapat mengurangi disparitas harga dan mencegah kelangkaan barang di fasilitas kesehatan.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *