Sudutkota.id – Musim panen padi di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, diprediksi mencapai puncaknya pada April 2026.
Dinas Pertanian (Disperta) Jombang memperkirakan total produksi gabah pada Maret hingga April 2026 bisa menembus angka 159.120 ton.
Berdasarkan data Disperta, total luas panen padi di Jombang selama Maret hingga April 2026 diproyeksikan mencapai 21.502,73 hektare.
Dengan asumsi produktivitas rata-rata 7,4 ton per hektare, potensi produksi gabah dinilai cukup besar untuk menopang ketahanan pangan daerah.
Kepala Dinas Pertanian Jombang, M. Rony, menjelaskan bahwa pada Maret 2026 luas panen diperkirakan mencapai 6.480,74 hektare. Dari luasan tersebut, produksi gabah diproyeksikan sekitar 47.957 ton.
“Untuk Maret luas panennya sekitar 6.480 hektare. Jika dihitung dengan produktivitas rata-rata, potensi produksinya sekitar 47 ribu ton,” ujarnya, Senin (30/3/2026).
Sementara itu, memasuki April 2026, luas panen padi di Jombang diprediksi melonjak signifikan menjadi 15.021,99 hektare. Dengan produktivitas yang sama, potensi produksi gabah diperkirakan mencapai 111.163 ton.
“Dengan asumsi produktivitas rata-rata 7,4 ton per hektare, total potensi produksi gabah selama dua bulan tersebut mencapai sekitar 159.120 ton,” paparnya.
Menurut Rony, puncak panen padi di Jombang memang diperkirakan terjadi pada April. Hal ini seiring dengan masa tanam yang dilakukan petani pada awal musim hujan. “Puncak panen padi diperkirakan April,” ucapnya.
Sejumlah kecamatan di Jombang diprediksi menjadi penyumbang terbesar produksi padi.
“Di antaranya Kecamatan Gudo dengan luas panen sekitar 2.210 hektare, disusul Kecamatan Kabuh 1.631 hektare, Kecamatan Tembelang 1.582,82 hektare, Kecamatan Megaluh 1.552 hektare, serta Kecamatan Mojowarno 1.458 hektare,” paparnya.
Lebih lanjut ia menyebut jika dikonversikan dengan produktivitas rata-rata, Kecamatan Kabuh diperkirakan menghasilkan sekitar 12.069 ton gabah. “Kemudian Kecamatan Tembelang sekitar 11.712 ton, Megaluh 11.484 ton, dan Mojowarno sekitar 10.789 ton,” katanya.
Rony menambahkan, data luas panen tersebut disusun berdasarkan perkembangan tanaman padi di masing-masing wilayah. Data terus diperbarui untuk memastikan akurasi potensi produksi pangan di Jombang.
“Data ini menjadi dasar untuk memetakan potensi produksi padi sekaligus menjaga stabilitas ketersediaan pangan di Jombang,” jelasnya.
Untuk menjaga produktivitas tetap optimal, Disperta Jombang juga terus melakukan pendampingan kepada petani. Mulai dari penyediaan sarana produksi, pengendalian hama, hingga pemantauan kondisi tanaman di lapangan. “Harapannya hasil panen bisa maksimal sehingga mampu mendukung ketahanan pangan daerah,” pungkasnya.





















