Sudutkota.id – Sebanyak 21 santri Pondok Pesantren Darut Taubah di Desa Betek, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, diduga mengalami keracunan makanan setelah berbuka puasa, Kamis (5/3/2026) malam.
Para santri tersebut mengalami gejala mual, muntah, dan pusing hingga lemas usai menyantap hidangan berbuka berupa telur asin pada nasi rawon di lingkungan pesantren.
Informasi yang dihimpun, awalnya para santri tidak merasakan keluhan saat berbuka puasa. Namun setelah melaksanakan salat Isya, sejumlah santri mulai merasakan mual disertai muntah dan pusing.
Peristiwa keracunan santri di Jombang ini juga sempat viral di media sosial. Dalam video yang beredar, tampak sejumlah santri dievakuasi secara bergantian oleh petugas menggunakan mobil ambulans menuju rumah sakit terdekat.
Berdasarkan data yang diperoleh, 21 santri menjadi korban dugaan keracunan, terdiri dari 20 santri perempuan dan 1 santri laki-laki. Seluruh korban kemudian dilarikan ke Rumah Sakit (RS) PKU Muhammadiyah Mojoagung untuk mendapatkan perawatan medis.
Ali al Awam (52) salah satu wali santriwati atas nama ZI dari Pondok Pesantren Darut Taubah di Desa Betek, Kecamatan Mojoagung mengatakan bahwa putrinya merasa mual usai menyantap telur asin yang ada pada hidangan nasi rawon.
“Makan telur asin di nasi rawon, pada saat buka puasa, terus selang beberapa jam anak saya merasa mual, lemas dan dilarikan ke RS PKU Muhammadiyah,” kata Ali, saat dikonfirmasi, Kamis (5/3/2026).
Ia menegaskan saat ini kondisi anak perempuannya itu dalam kondisi lemas dan menggigil di RS PKU Muhammadiyah Mojoagung.
“Masuk RS PKU tadi jam 8, sekarang kondisinya mual, pusing, lemas dan menggigil,” ujarnya.
Sementara itu, Kapolsek Mojoagung, Kompol Yogas, membenarkan adanya insiden tersebut. Ia mengatakan para korban merupakan santri dari Pondok Pesantren Darut Taubah.
“Ada 21 santri yang mengalami keracunan, terdiri dari 20 perempuan dan 1 laki-laki. Mereka dibawa ke RS PKU Muhammadiyah untuk mendapatkan perawatan,” ujar Yogas, Kamis (5/3/2026) malam.
Menurut Yogas, gejala keracunan mulai dirasakan para santri setelah menyantap hidangan nasi rawon saat berbuka puasa. Namun hingga kini pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab pasti kejadian tersebut.
“Kami belum bisa memastikan apakah keracunan tersebut disebabkan oleh makanan nasi rawon itu. Nanti akan kami sampaikan perkembangan selanjutnya,” katanya.
Saat ini, pihak kepolisian bersama pengelola pesantren masih melakukan pendataan dan penanganan terhadap para korban, sementara para santri yang mengalami keracunan masih menjalani perawatan medis di rumah sakit.





















