Seni dan Budaya

Padepokan Wisanggeni Wagir Malang Jadi Rujukan Perawatan Pusaka dan Edukasi Budaya di Bulan Ramadan

14
×

Padepokan Wisanggeni Wagir Malang Jadi Rujukan Perawatan Pusaka dan Edukasi Budaya di Bulan Ramadan

Share this article
Padepokan Wisanggeni Wagir Malang Jadi Rujukan Perawatan Pusaka dan Edukasi Budaya di Bulan Ramadan
Empu Adi (memakai udeng) di Padepokan Wisanggeni Warangan Jati, Wagir, Kabupaten Malang, yang menjadi pilihan warga untuk perawatan dan pembersihan aura negatif.(foto:sudutkota.id/ris)

Sudutkota.id – Di tengah maraknya tren wisata religi dan budaya selama Ramadan, Padepokan Wisanggeni Warangan Jati di Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, justru mencuri perhatian sebagai pusat perawatan pusaka tradisional yang konsisten menjaga metode leluhur.

Berlokasi di Desa Sidorahayu, padepokan ini dikelola oleh Empu Adi, perajin sekaligus pewaris tradisi perawatan pusaka kelahiran 1979. Sejak remaja, ia telah mendalami teknik pewarangan, penjamasan, hingga restorasi warangka dengan pendekatan tradisional yang diwariskan turun-temurun.

“Perawatan pusaka bukan sekadar membersihkan benda. Setiap pusaka memiliki karakter dan riwayat berbeda, sehingga perlakuannya pun tidak bisa disamakan,” ujar Empu Adi, Sabtu (28/02/2026).

Di padepokan tersebut, masyarakat dapat melakukan berbagai perawatan, mulai dari pewarangan keris, penjamasan, hingga perbaikan sarung pusaka yang rusak. Seluruh proses dilakukan secara manual dengan teknik tradisional, tanpa meninggalkan pakem budaya Jawa.

Selain aspek fisik, Empu Adi juga membuka ruang konsultasi bagi pemilik pusaka yang ingin memahami makna simbolik dan filosofi di balik benda yang diwariskan keluarganya.

“Banyak pusaka bukan hanya benda koleksi, tetapi memiliki nilai sejarah dan makna mendalam bagi pemiliknya,” jelasnya.

Menariknya, padepokan ini juga sering didatangi tokoh masyarakat hingga figur berpengaruh yang ingin melakukan pembersihan energi negatif pada pusaka maupun benda tertentu. Namun, Empu Adi menegaskan pendekatan yang dilakukan tetap dalam koridor tradisi.

“Kami membantu melalui doa dan ritual adat. Selebihnya tetap kembali pada keyakinan masing-masing,” katanya.

Keberadaan padepokan ini dinilai menjadi ruang edukasi budaya di tengah generasi muda yang mulai asing dengan tradisi perawatan pusaka. Aktivitas selama Ramadan bahkan kerap menjadi magnet tersendiri bagi warga sekitar yang ingin mengisi waktu dengan kegiatan bernuansa kearifan lokal.

Empu Adi berharap, keberlanjutan tradisi ini tidak hanya dipahami dari sisi mistis semata, melainkan sebagai bagian penting dari sejarah dan identitas budaya bangsa.

“Pusaka adalah warisan. Jika tidak dirawat dan dipahami, generasi mendatang bisa kehilangan jejak sejarahnya sendiri,” pungkasnya.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *