Sudutkota.id – Harga gabah Jombang 2026 masih bertahan tinggi di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) meski masa panen raya segera berakhir.
Di tingkat penggilingan, harga gabah hari ini bahkan mencapai Rp7.500 per kilogram, melampaui HPP yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp6.500 per kilogram.
Memasuki akhir musim panen raya, harga gabah di Kabupaten Jombang masih relatif stabil dan tinggi. Berdasarkan pantauan di lapangan, harga gabah di tingkat penggilingan padi berada di kisaran Rp7.400 hingga Rp7.500 per kilogram.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jombang, M. Rony, menjelaskan bahwa kenaikan harga gabah Jombang dipengaruhi oleh sejumlah faktor, mulai dari kondisi cuaca hingga metode panen yang digunakan petani.
“Situasi di lapangan berbeda-beda. Saat panen ramai disertai hujan deras, gabah cenderung basah sehingga harga bisa turun di bawah HPP, sekitar Rp6.300 sampai Rp6.400 per kilogram. Selain itu, metode panen juga berpengaruh,” ujarnya, Rabu (22/4/2026).
Menurutnya, penggunaan alat modern seperti combine harvester mampu meningkatkan kualitas gabah sehingga berdampak pada harga jual yang lebih tinggi dibanding metode panen manual.
Selain faktor teknis, harga gabah hari ini di Jombang juga dipengaruhi mekanisme pasar atau supply dan demand. Saat panen berlangsung serentak, harga biasanya mengalami penurunan. Namun, ketika panen mulai berakhir, harga justru kembali naik.
“Ketika panen sedang ramai, harga biasanya turun. Namun saat panen mulai selesai, harga cenderung naik. Faktor lain seperti curah hujan tinggi yang membuat gabah basah juga bisa menekan harga karena kualitas menurun,” jelasnya.
Menariknya, kondisi harga gabah di atas HPP pada periode Maret hingga Mei 2026 dinilai tidak biasa. Pasalnya, pada umumnya harga gabah akan turun saat panen raya berlangsung.
“Seharusnya pada masa panen raya harga turun, tetapi saat ini justru masih tinggi karena panen segera berakhir,” tambahnya.
Dari sisi produksi, produktivitas musim tanam pertama di Jombang rata-rata mencapai 7 ton per hektare. Namun, angka ini diperkirakan mengalami penurunan akibat tingginya curah hujan.
“Biasanya per 1.400 meter persegi bisa menghasilkan 1 ton atau lebih. Namun saat ini hanya sekitar delapan sampai sembilan kuintal karena faktor cuaca,” paparnya.
Sementara itu, petani asal Desa Pandanwangi, Kecamatan Diwek, Hasan, mengaku kondisi harga gabah yang tinggi cukup menguntungkan petani.
“Harga sekarang masih bagus, jadi cukup membantu petani. Tapi kami juga mulai fokus menyiapkan musim tanam kedua,” pungkasnya.




















