Sudutkota.id – Kasus pneumonia di Jombang mengalami lonjakan signifikan selama musim kemarau.
Dalam kurun waktu Januari hingga pertengahan Juli 2026, RSUD Jombang mencatat sebanyak 617 pasien pneumonia menjalani perawatan, dengan 52 pasien meninggal dunia.
Direktur RSUD Jombang, dr. Puji Umbaran, mengatakan peningkatan kasus tersebut dipicu tingginya infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang kerap terjadi saat cuaca panas, berangin, dan dipenuhi debu.
“Memang di musim kemarau yang cukup terik ini kasus ISPA cukup tinggi sekali. Hampir setiap hari kami menerima dua hingga tiga pasien. Jika diakumulasi dalam satu bulan, sekitar 75 sampai 80 pasien menjalani perawatan,” ujar dr. Puji, Kamis (23/7/2026).
Ia menjelaskan, sejak Januari hingga pertengahan Juli 2026, RSUD Jombang telah menangani 617 kasus pneumonia dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda.
“Dari Januari sampai Juli ini kita merawat 617 kasus dengan berbagai tingkatan. Ada 52 kasus yang meninggal dunia,” katanya.
Menurut dr. Puji, pneumonia merupakan infeksi atau peradangan pada paru-paru yang menyebabkan kantong udara terisi cairan. Penyakit ini umumnya diawali dengan ISPA dan berisiko lebih tinggi muncul saat musim kemarau karena meningkatnya paparan debu serta menurunnya kualitas udara.
“Penyakit ini umumnya diawali dengan ISPA dan berisiko lebih tinggi terjadi saat musim kemarau akibat meningkatnya paparan debu serta kualitas udara yang menurun,” tuturnya.
Melihat tingginya kasus pneumonia di Jombang beserta angka kematiannya, RSUD Jombang mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dengan menerapkan langkah-langkah pencegahan.
“Warga diminta menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah, terutama ketika cuaca panas, berangin, dan berdebu, guna mencegah ISPA berkembang menjadi pneumonia,” ujar dr. Puji.
Selain menggunakan masker, masyarakat juga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala seperti batuk yang tidak kunjung sembuh, demam, sesak napas, atau nyeri dada.
“Penanganan sejak dini ini penting untuk mencegah komplikasi dan menekan risiko kematian akibat pneumonia,” pungkasnya.




















