Daerah

Harga Gabah Kering Panen di Jombang Masih Mahal, Tembus Rp 7.800 per Kg

3
×

Harga Gabah Kering Panen di Jombang Masih Mahal, Tembus Rp 7.800 per Kg

Share this article
Harga Gabah Kering Panen di Jombang Masih Mahal, Tembus Rp 7.800 per Kg
Petani di Jombang saat memanen padi di sawah. (foto: sudutkota.id/lok)

Sudutkota.id– Harga gabah di tingkat petani di Kabupaten Jombang masih bertahan tinggi pada musim panen kemarau 2026. Harga Gabah Kering Panen (GKP) di Jombang kini berada di kisaran Rp 7.500 hingga Rp 7.800 per kilogram, atau jauh di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp 6.500 per kilogram.

Hari, petani asal Dusun Gondekan, Desa Jabon, Kecamatan Jombang, mengatakan hasil panennya langsung dibeli tengkulak dengan harga Rp 7.800 per kilogram.

“Sekitar 15 hari lalu masih Rp 7.500 per kilogram. Sekarang sudah Rp 7.800 per kilogram,” ujarnya, Minggu (26/7/2026).

Tingginya harga gabah tersebut juga dibenarkan Tawi, salah seorang tengkulak di Jombang. Ia mengaku membeli Gabah Kering Panen (GKP) dari petani seharga Rp 7.800 per kilogram. Sementara itu, harga Gabah Kering Giling (GKG) telah mencapai Rp 9.000 per kilogram.

“Harga beli ke petani Rp 7.800 per kilogram. Kalau GKG sudah Rp 9.000 per kilogram,” katanya.

Menurut Tawi, biaya sewa mesin combine harvester untuk lahan seluas 1.400 meter persegi mencapai Rp 300 ribu dengan hasil panen rata-rata sekitar satu ton gabah. Ia menambahkan, kualitas gabah yang dipanen musim ini tergolong baik karena tidak terserang hama wereng.

Saat ini, musim panen kemarau tengah berlangsung di sejumlah wilayah Kabupaten Jombang. Sekitar 50 persen lahan persawahan telah memasuki masa panen, di antaranya berada di Kecamatan Jombang, Diwek, dan Jogoroto.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jombang, M. Rony, membenarkan bahwa harga gabah di Jombang masih berada di atas HPP yang ditetapkan pemerintah.

“Harga GKP hari ini berkisar Rp 7.500 sampai Rp 7.800 per kilogram, masih di atas HPP Rp 6.500 per kilogram,” jelasnya.

Rony menjelaskan, tingginya harga gabah dipengaruhi oleh produksi pada musim kemarau yang lebih rendah dibandingkan musim penghujan. Luas panen yang lebih sempit membuat pasokan gabah berkurang, sementara permintaan pasar dan serapan gabah tetap tinggi.

“Volume panen tidak sebanyak musim hujan. Luas panennya juga lebih sempit, sementara kebutuhan dan serapan gabah tetap tinggi sehingga harga gabah masih cukup bagus,” pungkasnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *