Sudutkota.id– Maraknya kebiasaan masyarakat membeli dan mengonsumsi antibiotik tanpa resep dokter menjadi perhatian serius Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang. Praktik yang masih kerap terjadi tersebut dinilai dapat memicu resistensi antibiotik, sebuah ancaman kesehatan yang berdampak pada semakin sulitnya penanganan infeksi dan berpotensi mengancam keselamatan pasien, Minggu (19/7)
Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, dr. Husnul Muarif, menegaskan antibiotik bukan obat yang dapat dikonsumsi untuk mengatasi semua jenis penyakit. Obat ini hanya bekerja melawan infeksi akibat bakteri dan tidak efektif untuk penyakit yang disebabkan virus, seperti flu, batuk, maupun pilek.
“Masih banyak masyarakat yang beranggapan antibiotik adalah obat segala penyakit. Padahal anggapan itu keliru dan sangat berbahaya. Penggunaan antibiotik harus berdasarkan pemeriksaan dokter dan sesuai indikasi medis,” ujar dr. Husnul Muarif.
Menurutnya, penyalahgunaan antibiotik menjadi salah satu penyebab meningkatnya kasus resistensi antibiotik di berbagai negara, termasuk Indonesia. Kondisi ini terjadi ketika bakteri berubah menjadi kebal terhadap antibiotik sehingga obat yang sebelumnya ampuh tidak lagi mampu membunuh bakteri penyebab infeksi.
Akibatnya, pasien membutuhkan pengobatan yang lebih kompleks, masa perawatan lebih lama, biaya pengobatan meningkat, bahkan risiko komplikasi serius hingga kematian menjadi lebih tinggi.
“Jika resistensi terus meningkat, maka infeksi yang sebelumnya mudah diobati bisa menjadi penyakit yang sulit disembuhkan. Ini bukan lagi persoalan individu, tetapi ancaman kesehatan masyarakat,” tegasnya.
Dinkes Kota Malang mencatat masih ditemukan kebiasaan masyarakat membeli antibiotik tanpa resep, menghentikan konsumsi obat sebelum waktunya karena merasa sembuh, hingga menyimpan sisa antibiotik untuk digunakan kembali ketika sakit di kemudian hari. Seluruh kebiasaan tersebut dinilai mempercepat munculnya bakteri yang kebal terhadap antibiotik.
Dr. Husnul menjelaskan antibiotik hanya diberikan untuk penyakit akibat infeksi bakteri, seperti tuberkulosis (TBC), pneumonia, infeksi saluran kemih, maupun beberapa infeksi kulit. Sebaliknya, penyakit akibat virus tidak membutuhkan antibiotik karena obat tersebut tidak akan memberikan manfaat.
Sebagai langkah pencegahan, Dinkes Kota Malang mengajak masyarakat menerapkan prinsip 5T, yakni tidak membeli antibiotik tanpa resep dokter, tidak menggunakan antibiotik selain untuk infeksi bakteri, tidak menyimpan antibiotik sebagai persediaan di rumah, tidak memberikan sisa antibiotik kepada orang lain, serta bertanya kepada apoteker atau tenaga kesehatan apabila membutuhkan informasi mengenai penggunaan antibiotik.
Selain itu, masyarakat juga diminta menghabiskan antibiotik sesuai dosis dan lama pengobatan yang telah ditentukan dokter. Menghentikan konsumsi antibiotik sebelum waktunya justru dapat membuat bakteri yang tersisa menjadi lebih kebal dan sulit diatasi ketika infeksi kembali terjadi.
“Penggunaan antibiotik secara bijak merupakan tanggung jawab bersama. Kalau kita ingin antibiotik tetap efektif di masa depan, maka penggunaannya harus benar mulai sekarang. Jangan membeli, meminta, atau mengonsumsi antibiotik tanpa anjuran tenaga medis,” tandas dr. Husnul.
Melalui edukasi yang terus digencarkan, Dinkes Kota Malang berharap kesadaran masyarakat semakin meningkat sehingga penggunaan antibiotik menjadi lebih rasional.
Langkah tersebut dinilai penting untuk menekan laju resistensi antibiotik yang kini telah menjadi salah satu ancaman kesehatan global.




















