Daerah

Limbah Sawit Jadi Pakan Ternak, Peternak Malang Raya Dibekali Strategi Bisnis hingga Akses Pembiayaan

17
×

Limbah Sawit Jadi Pakan Ternak, Peternak Malang Raya Dibekali Strategi Bisnis hingga Akses Pembiayaan

Share this article
Limbah Sawit Jadi Pakan Ternak, Peternak Malang Raya Dibekali Strategi Bisnis hingga Akses Pembiayaan
Peserta Workshop dan Aksi Nyata BPDP bersama LPEP FEB Universitas Airlangga mengikuti rangkaian pelatihan pemanfaatan limbah kelapa sawit menjadi pakan ternak, termasuk pembekalan strategi bisnis, legalitas usaha, dan akses pembiayaan bagi peternak serta pelaku UMKM di Malang Raya.(Sudutkota.id/Agus Demit)

MALANG, Sudutkota.id – Ketergantungan pada pakan berbiaya tinggi masih menjadi tantangan serius bagi peternak. Di tengah persoalan tersebut, limbah kelapa sawit mulai dilirik sebagai bahan pakan alternatif yang berpotensi menekan biaya produksi sekaligus membuka peluang usaha baru bagi peternak dan pelaku UMKM di Malang Raya.

Peluang itu menjadi fokus Workshop dan Aksi Nyata bertajuk Peningkatan Nilai Tambah Limbah Kelapa Sawit melalui Inovasi Pakan Ternak Berbasis Ekonomi Sirkular yang digelar Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Laboratorium Pengembangan Ekonomi Pembangunan (LPEP) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB Unair).

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 20–22 Oktober 2026, di Gedung GKSI Jawa Timur, Kabupaten Malang, tersebut tidak hanya membahas pengolahan limbah sawit menjadi pakan ternak. Peserta juga dibekali strategi membangun usaha, mengurus legalitas, hingga mengakses pembiayaan perbankan agar inovasi tersebut dapat berkembang menjadi bisnis berkelanjutan.

Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, mengatakan pemanfaatan sawit perlu dipahami secara lebih luas karena hasil pengolahannya memiliki beragam potensi, termasuk untuk mendukung sektor peternakan.

“Saat ini sawit bukan hanya dijadikan minyak goreng, tetapi bagus untuk pakan ternak dari bungkil serta daunnya,” kata Helmi saat membuka rangkaian kegiatan, pada Selasa (20/10/2026).

Menurutnya, edukasi mengenai manfaat hasil olahan kelapa sawit penting untuk memperluas pemahaman masyarakat sekaligus mendorong pemanfaatannya bagi kegiatan ekonomi produktif.

Dekan FEB Unair, Prof. Dr. Rudi Purwono, SE., M.SE., menilai inovasi pakan alternatif perlu mendapat perhatian karena biaya pakan menjadi salah satu beban terbesar dalam usaha peternakan.

“Biaya pakan yang mencapai 60–70 persen dari total biaya produksi menjadi tantangan utama yang harus dicarikan solusi, salah satunya melalui diversifikasi pakan dengan limbah industri sawit,” ujar Rudi.

Ia menegaskan, upaya memperkuat sektor peternakan juga berkaitan dengan kebutuhan membangun ekosistem produksi susu nasional. Menurutnya, target swasembada susu tidak bisa hanya dibebankan kepada peternak, tetapi membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.

“Kami berharap Indonesia bisa mencapai swasembada susu. Tentunya, ini harus melibatkan semua pihak dalam membangun ekosistemnya,” tegasnya.

Memasuki hari ketiga, Kamis (22/10/2026), materi workshop diarahkan pada persoalan yang kerap menentukan keberlanjutan usaha, yakni kemampuan mengelola bisnis secara profesional. Peserta tidak hanya dituntut mampu mengolah bahan baku alternatif, tetapi juga memahami bagaimana produk dipasarkan, usaha dijalankan, dan modal diperoleh.

Dalam sesi pengelolaan usaha berbasis risiko, peserta mendapatkan pendampingan mengenai perizinan berusaha melalui sistem Online Single Submission Risk Based Approach (OSS-RBA).

Materi tersebut mencakup pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB), perizinan usaha pakan ternak, serta pengenalan sertifikasi dan standar produk. Legalitas menjadi salah satu fondasi agar usaha memiliki kepastian administratif, meningkatkan kepercayaan pasar, dan memenuhi persyaratan untuk mengakses pembiayaan formal.

Peserta juga diperkenalkan pada skema pembiayaan usaha peternakan dan UMKM melalui BNI, Bank Syariah Indonesia (BSI), dan Bank Mandiri. Pembahasan mencakup Kredit Usaha Rakyat (KUR) serta penyusunan proposal pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan usaha.

Pembekalan tersebut menjadi penting agar peluang pemanfaatan limbah sawit tidak berhenti pada tahap pelatihan. Tanpa perencanaan usaha, legalitas, dan akses modal yang memadai, inovasi pakan alternatif berisiko sulit berkembang menjadi kegiatan ekonomi yang berkelanjutan.

Dosen Manajemen Universitas Airlangga, John Hardi, S.T., M.SM., C.SM., CSR.A, memperkenalkan Business Model Canvas (BMC) sebagai alat untuk membantu peternak dan koperasi memetakan keseluruhan kegiatan bisnis.

Melalui pendekatan tersebut, peserta diajak memahami proposisi nilai, segmen pelanggan, sumber pendapatan, struktur biaya, hingga kemitraan strategis yang dibutuhkan untuk mengembangkan usaha.

Dalam contoh koperasi susu sapi perah, nilai usaha tidak hanya terletak pada penyediaan susu segar berkualitas bagi industri pengolahan susu. Koperasi juga berpeluang mengembangkan produk olahan bagi konsumen akhir dan membangun unit usaha yang memberikan manfaat ekonomi bagi para anggotanya.

Di sisi lain, biaya pembelian susu dari peternak, bahan baku pakan atau konsentrat, serta kebutuhan pendinginan menjadi komponen penting yang harus diperhitungkan. Kondisi ini berkaitan langsung dengan persoalan tingginya biaya pakan yang sebelumnya disoroti dalam workshop.

John mengatakan, kemampuan teknis beternak perlu diimbangi dengan kecakapan membaca pasar dan menghitung kelayakan usaha. Pemanfaatan pakan alternatif, termasuk yang berbahan limbah sawit, harus ditempatkan dalam perencanaan bisnis yang terukur.

“Usaha peternakan tidak cukup hanya pandai beternak, tetapi juga harus tahu siapa pembelinya, bagaimana menjangkaunya, dari mana pendapatannya, dan berapa biayanya. Dengan BMC, peternak dan koperasi bisa memetakan semuanya dalam satu gambaran sehingga keputusan usaha, termasuk memanfaatkan pakan alternatif dari limbah sawit, lebih terukur,” jelas John.

Ia juga menyoroti pentingnya kemitraan dengan pemerintah dan dinas peternakan, pemasok pakan, perguruan tinggi, serta perbankan penyedia KUR. Kolaborasi tersebut dibutuhkan untuk memperkuat rantai usaha, mulai dari penyediaan bahan baku hingga pemasaran produk.

Rangkaian workshop BPDP dan LPEP FEB Unair yang resmi ditutup pada Kamis (22/10/2026) diharapkan menjadi langkah awal membangun ekosistem usaha pakan ternak berbasis limbah sawit di Malang Raya.

Program ini melibatkan peternak, pelaku UMKM di bidang pakan dan peternakan, serta pengolah hasil perkebunan. Pengembangannya juga membutuhkan dukungan akademisi, pemerintah, perusahaan sawit, dan lembaga keuangan.

Pemanfaatan limbah sawit melalui pendekatan ekonomi sirkular membuka peluang agar bahan yang sebelumnya kurang dimanfaatkan dapat memiliki nilai ekonomi baru. Namun, keberhasilan gagasan tersebut tidak cukup diukur dari terselenggaranya pelatihan atau bertambahnya pengetahuan peserta.

Tantangan berikutnya adalah memastikan bahan baku tersedia, produk pakan memenuhi standar yang diperlukan, biaya produksi benar-benar kompetitif, dan hasilnya dapat diterima pasar. Dengan demikian, inovasi tersebut diharapkan tidak hanya menjadi alternatif untuk menekan beban peternak, tetapi juga berkembang menjadi peluang usaha yang memperkuat sektor peternakan di Malang Raya.

Melalui program ini, BPDP dan LPEP FEB Unair mendorong pemanfaatan hasil olahan kelapa sawit secara lebih luas, sekaligus membuka jalan bagi peternak dan UMKM untuk meningkatkan nilai tambah, memperkuat daya saing, serta membangun usaha yang berkelanjutan.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *