Ekonomi Bisnis

Berawal dari Utang Rp 1 Juta, Usaha Kerupuk Pasir Warga Jombang Kini Tembus Pasar Papua

13
×

Berawal dari Utang Rp 1 Juta, Usaha Kerupuk Pasir Warga Jombang Kini Tembus Pasar Papua

Share this article
Berawal dari Utang Rp 1 Juta, Usaha Kerupuk Pasir Warga Jombang Kini Tembus Pasar Papua
Mohammad Faisol, saat menunjukkan usaha kerupuk yang ditekuninya.(Sudutkota.id/Elok Apriyanto)

JOMBANG, Sudutkota.id – Perjalanan Mohammad Faisol (64), menjadi pengusaha kerupuk goreng pasir di Desa Badang, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, membuktikan bahwa keberanian mengambil peluang dapat mengubah kehidupan.

Berawal dari seorang petani dengan penghasilan tak menentu, kini Faisol mampu mengembangkan usaha kerupuk dengan kapasitas produksi hingga 5 kuintal tepung tapioka per hari.

Kesuksesan tersebut dirintis Faisol sejak 2005. Saat itu, ia memutuskan beralih dari sektor pertanian dan memulai usaha produksi kerupuk goreng pasir dengan modal pinjaman Rp 1 juta dari Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Dengan modal terbatas, Faisol mulai menjalankan usaha kecil-kecilan dengan kapasitas produksi rata-rata 1 kuintal tepung tapioka per hari.

“Waktu itu, saya hanya punya tekad. Tidak tahu ke mana usaha ini akan membawa, tapi saya harus mencoba,” kenang Faisol, Sabtu (17/10/2026).

Perlahan, usaha yang dirintisnya mulai berkembang. Pada 2010, Faisol kembali mengajukan pinjaman untuk membeli mesin produksi guna meningkatkan kapasitas usahanya.

Langkah tersebut membuahkan hasil. Kini, kapasitas produksinya meningkat menjadi 4 hingga 5 kuintal tepung tapioka per hari. Usaha kerupuk goreng pasir miliknya pun menjadi salah satu yang produktif di Desa Badang.

Pasar kerupuk produksi Faisol juga semakin luas. Tidak hanya dipasarkan di berbagai wilayah Jawa Timur, produknya telah menjangkau Jawa Tengah, Jakarta, Bandung, hingga Sorong, Papua.

Dalam perjalanan mengembangkan usahanya, Faisol mengaku dukungan perbankan turut berperan penting. Selama bertahun-tahun, ia tetap menjadi nasabah BRI untuk memenuhi kebutuhan modal dan mengembangkan kapasitas produksi.

“Saya senang menjadi nasabah BRI karena prosesnya mudah, pelayanannya sangat baik, dan mereka selalu mendukung pengembangan usaha saya,” ujarnya.

Dukungan tersebut, menurut Faisol, juga terlihat ketika limit pinjamannya mencapai Rp 100 juta. Kepala Unit BRI Ngoro saat itu mendampinginya untuk mengajukan pinjaman dengan plafon lebih besar ke kantor cabang.

Kini, limit pinjaman Faisol telah mencapai Rp 470 juta. Peningkatan tersebut menjadi bagian dari perjalanan pengembangan usaha yang dimulainya dengan modal pinjaman Rp 1 juta pada 2005.

Kesuksesan Faisol turut menjadi bagian dari perkembangan industri rumahan kerupuk goreng pasir di Desa Badang. Desa di Kecamatan Ngoro tersebut dikenal sebagai sentra produksi kerupuk goreng pasir dengan 17 pengusaha aktif.

Keberadaan usaha tersebut tidak hanya menggerakkan perekonomian lokal, tetapi juga membuka peluang kerja bagi warga sekitar. Produk kerupuk goreng pasir dari desa ini pun semakin dikenal di berbagai daerah.

Bagi Faisol, keberhasilan usaha bukan semata-mata diukur dari keuntungan yang diperoleh. Ia juga ingin memberikan manfaat bagi masyarakat dan mempertahankan keberadaan produk lokal.

“Bagi saya, ini bukan sekadar soal keuntungan. Ini tentang memberikan kesempatan bagi warga sekitar, melestarikan produk lokal, dan membuktikan bahwa usaha keras bisa membuahkan hasil,” katanya.

Perjalanan Faisol menjadi gambaran bagaimana usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di tingkat desa dapat berkembang ketika keberanian berusaha diiringi pengelolaan yang berkelanjutan serta akses permodalan.

Dari pinjaman Rp 1 juta, Faisol kini mampu membangun usaha dengan kapasitas produksi hingga 5 kuintal tepung tapioka per hari dan limit pinjaman mencapai Rp 470 juta. Kisahnya menjadi inspirasi bagi pelaku UMKM lainnya untuk terus berinovasi dan memanfaatkan peluang pengembangan usaha.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *