JOMBANG, Sudutkota.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jombang, Jawa Timur mulai mewaspadai potensi kekeringan pada musim kemarau 2026.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jombang telah memetakan 5 kecamatan yang berpotensi mengalami kekurangan air bersih.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Jombang, Wiku Birawa Filipe Diaz Quintas, mengatakan pemetaan wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan telah dilakukan sejak Juni 2026.
Dua wilayah yang masuk dalam pemetaan yakni Kecamatan Bareng dan Wonosalam. Sementara di wilayah utara Sungai Brantas, BPBD juga mengantisipasi potensi kekurangan air bersih di Kecamatan Plandaan, Kabuh, dan Ngusikan.
“Kami siapkan semuanya untuk melakukan penanganan, baik untuk kekeringan maupun kebakaran hutan, lahan, dan lainnya,” ungkap Wiku, Minggu (13/9/2026).
Selain potensi kekeringan, BPBD Jombang juga memetakan wilayah yang berpotensi mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Ada empat kecamatan masuk dalam pemetaan potensi karhutla, yakni Wonosalam, Plandaan, Kabuh, dan Ngusikan,” ucapnya.
Meski sejumlah wilayah telah dipetakan sebagai daerah yang berpotensi terdampak kekeringan, hingga kini kondisi Jombang masih aman. BPBD belum menerima laporan terkait kekurangan air bersih maupun permintaan suplai air dari pemerintah kecamatan.
“Sementara kita masih tercukupi kebutuhan air. Dan dari kecamatan belum ada yang meminta suplai untuk air bersih,” ucap Wiku.
Kendati belum ada laporan kekurangan air bersih, BPBD Jombang tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama di wilayah utara Sungai Brantas yang memiliki potensi mengalami kekeringan.
Pemantauan kondisi cuaca juga terus dilakukan untuk mengantisipasi perubahan situasi selama musim kemarau. “Untuk wilayah utara ada potensi. Tapi semoga saja kebutuhan air masih tercukupi,” ujarnya.
Wiku menjelaskan, secara normal kejadian kekeringan di Jombang mulai muncul sekitar Oktober. Namun, kondisi musim kemarau tahun ini masih menunggu informasi terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
“Kalau normal biasanya sekitar bulan Oktober, cuma kita juga masih menunggu rilis dari BMKG,” pungkasnya.





















