JOMBANG, Sudutkota.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Jombang, Jawa Timur kembali menjadi sorotan DPRD kabupaten setempat.
Setelah sebelumnya ratusan siswa dan guru SMPN 1 Kabuh mengalami gangguan kesehatan usai menyantap menu MBG, kini seekor ulat hidup ditemukan dalam makanan yang diterima siswa SMAN Plandaan.
Anggota DPRD Jombang dari Fraksi PDI Perjuangan, Ama Siswanto, menilai dua persoalan yang terjadi dalam waktu berdekatan tersebut menjadi tanda bahwa pengawasan terhadap pelaksanaan program MBG di Jombang perlu diperketat.
Ama yang merupakan anggota DPRD dari daerah pemilihan (dapil) V Jombang meminta seluruh pihak yang terlibat dalam penyediaan makanan MBG tidak menganggap temuan tersebut sebagai kejadian biasa.
“Ini harus menjadi perhatian serius. Jangan sampai persoalan MBG terus berulang karena pengawasan yang lemah,” kata Ama Siswanto, Sabtu (12/9/2026).
Menurut Ama, temuan ulat hidup dalam makanan siswa menunjukkan bahwa pemeriksaan bahan baku hingga makanan sebelum didistribusikan kepada penerima manfaat perlu dilakukan lebih ketat lagi.
Terlebih, kata dia, sebelumnya telah muncul kasus dugaan keracunan yang dialami siswa SMPN 1 Kabuh setelah mengonsumsi menu MBG. Kini persoalan kembali muncul di SMAN Plandaan dengan ditemukannya ulat hidup pada salah satu ompreng makanan.
“Kalau sebelumnya ada siswa yang diduga mengalami keracunan, sekarang ditemukan ulat hidup di makanan. Ini jangan sampai dianggap sepele,” ujarnya.
Ama mempertanyakan kinerja Satgas MBG Kabupaten Jombang dalam melakukan pengawasan terhadap proses penyediaan hingga pendistribusian makanan.
“Pengawasan tidak semestinya baru dilakukan setelah muncul keluhan dari siswa maupun pihak sekolah, terlebih saat muncul permasalahan,” ucapnya.
Ia mendorong Satgas MBG bersama Badan Gizi Nasional (BGN) dan instansi terkait melakukan evaluasi menyeluruh terhadap standar pengawasan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Evaluasi tersebut, lanjut Ama, harus mencakup proses pemilihan dan pemeriksaan bahan baku, pengolahan makanan, pengemasan hingga distribusi menu MBG ke sekolah.
“Pengawasan harus dilakukan dari hulu sampai hilir. Jangan menunggu ada kejadian baru kemudian turun tangan,” katanya.
Selain memperketat pengawasan, Ama meminta adanya ketegasan terhadap SPPG apabila nantinya terbukti terjadi pelanggaran standar keamanan pangan.
Ia menilai sanksi diperlukan agar kejadian serupa tidak kembali terulang sekaligus menjadi pembelajaran bagi penyedia makanan MBG lainnya.
“Kalau memang terbukti ada kelalaian, harus ada sanksi yang tegas. Jangan hanya makanan diganti kemudian persoalan selesai,” tegasnya.
Menurut Ama, program MBG menyasar anak-anak sekolah sehingga aspek keamanan dan kelayakan makanan harus menjadi prioritas utama, bukan orientasi bisnis semata.
Ia meminta evaluasi tidak hanya berhenti pada dapur SPPG yang bermasalah, tetapi juga menyentuh mekanisme pengawasan yang diterapkan Satgas MBG di tingkat daerah.
“Anak-anak ini yang menerima makanan. Jangan sampai program yang tujuannya baik justru menimbulkan kekhawatiran bagi siswa dan orang tua, karena orientasi bisnis semata,” ujarnya.
Ama juga meminta hasil pemeriksaan terhadap temuan ulat dalam makanan MBG di SMAN Plandaan disampaikan secara terbuka.
Jika ditemukan adanya persoalan dalam proses penyediaan makanan, pihak terkait diminta menjelaskan penyebabnya sekaligus menyampaikan langkah perbaikan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
Dia berharap rangkaian persoalan tersebut menjadi momentum untuk memperbaiki sistem pengawasan program MBG di Jombang. Dengan demikian, kualitas makanan yang diterima siswa dapat benar-benar terjamin.
“Yang kita dorong bukan menghentikan programnya, tetapi memastikan pelaksanaannya benar, pengawasannya ketat, dan makanan yang diterima anak-anak aman,” kata Ama.
Seperti diberitakan sebelumnya, seekor ulat hidup ditemukan dalam menu MBG yang diterima salah seorang siswa SMAN Plandaan, Jombang.
Kepala SMAN Plandaan, Siyadi membenarkan temuan tersebut. Ulat disebut ditemukan pada bagian mentimun dalam salah satu ompreng makanan siswa.
Pada hari tersebut, SMAN Plandaan menerima sekitar 591 porsi MBG dari SPPG Bangsri.
Pihak sekolah menyebut temuan ulat tersebut sejauh ini hanya terjadi pada satu ompreng. Makanan siswa yang ditemukan terdapat ulat kemudian langsung diganti.
Sementara itu, kasus sebelumnya terjadi di SMPN 1 Kabuh, Jombang. Ratusan siswa dan guru sempat menjalani pemeriksaan setelah mengeluhkan gangguan kesehatan usai mengonsumsi menu MBG.
Kasus tersebut kemudian mendorong evaluasi terhadap SPPG yang memasok makanan ke sekolah tersebut.





















