Daerah

Sam Ali Tegaskan Sejarah Tionghoa Tak Terpisahkan dari Identitas Kota Malang

8
×

Sam Ali Tegaskan Sejarah Tionghoa Tak Terpisahkan dari Identitas Kota Malang

Share this article
Sam Ali Tegaskan Sejarah Tionghoa Tak Terpisahkan dari Identitas Kota Malang
Wakil Wali Kota Malang, Ali Muthohirin (Sam Ali) saat memberikan sambutan dalam launching dan bedah buku Lintas Sejarah Tionghoa di Kota Malang.(Foto:sudutkota.id/Andik Agus Demit)

KOTA MALANG, Sudutkota.idWakil Wali Kota Malang, Ali Muthohirin menegaskan bahwa perjalanan sejarah masyarakat Tionghoa merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari identitas dan perkembangan Kota Malang.

Pernyataan itu disampaikan Ali Muthohirin atau Sam Ali saat menghadiri launching dan bedah buku Lintas Sejarah Tionghoa di Kota Malang, Sabtu (29/8/2026).

Menurut Sam Ali, keberadaan masyarakat Tionghoa tidak hanya menjadi bagian dari catatan sejarah, tetapi telah melebur dalam kehidupan sosial, ekonomi dan budaya masyarakat Malang dari masa ke masa.

“Sejarah tidak hanya yang tercatat di buku-buku pelajaran kita. Sejarah juga hadir di pasar, hadir di masyarakat, satu napas dengan budaya Kota Malang,” kata Sam Ali.

Ia menilai buku Lintas Sejarah Tionghoa memiliki arti penting karena membuka ruang bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk memahami perjalanan komunitas Tionghoa di Malang secara lebih utuh.

Jejak tersebut, lanjutnya, tidak berdiri sendiri. Keberadaan etnis Tionghoa telah mewarnai perjalanan Malang sejak era Singosari, masa kolonial, pendudukan Jepang hingga perkembangan Kota Malang pada era sekarang.

Sam Ali menekankan, sejarah tersebut penting dibaca bukan untuk mempertajam identitas kelompok, melainkan untuk memahami bagaimana berbagai etnis bersama-sama membentuk wajah Kota Malang.

“Ini satu kesatuan napas budaya, nilai persatuan yang ada di Kota Malang. Malang terbentuk dari semua etnis,” tegasnya.

Karena itu, ia mengingatkan agar pengungkapan kontribusi etnis Tionghoa tidak kemudian melahirkan sekat baru antara kelompok mayoritas dan minoritas. Sebaliknya, sejarah harus menjadi sarana memperkuat rasa memiliki terhadap Kota Malang.

“Jangan sampai kemudian buku ini menimbulkan arrogansi, seolah-olah perkembangan Malang tidak bisa lepas dari satu kelompok. Ini harus menjadi satu kesatuan napas budaya,” ujarnya.

Sam Ali juga mendorong agar jejak sejarah Tionghoa tidak berhenti dalam bentuk buku. Menurutnya, sejumlah jejak sejarah dan kontribusi masyarakat Tionghoa dapat dikembangkan menjadi simbol budaya maupun ruang publik yang menjadi identitas bersama Kota Malang.

Ia menilai keberagaman merupakan kekuatan Kota Malang yang dikenal memiliki masyarakat dari berbagai latar belakang suku dan etnis.

“Kota Malang sangat heterogen. Saya sering menyebut Malang sebagai miniatur Indonesia karena banyaknya suku dan beragam etnis yang ada,” katanya.

Dalam konteks tersebut, Sam Ali menyebut Salam Satu Jiwa sebagai simbol yang mampu menyatukan seluruh elemen masyarakat tanpa membedakan latar belakang.

“Apapun etnisnya, Jawa, Tionghoa, Batak atau yang lain, kita menyatu melebur dalam satu jiwa bernama Arema,” ucapnya.

Ia bahkan mencontohkan kolaborasi kesenian Bantengan dan Barongsai sebagai bentuk konkret bagaimana keberagaman budaya dapat ditampilkan secara bersama sebagai identitas Kota Malang.

“Tidak hanya Barongsai atau hanya Bantengan, tapi sebagai simbol budaya kita bahwa kita ini bersatu,” tegasnya.

Sementara itu, buku Lintas Sejarah Tionghoa dipandang penting karena menghadirkan pembahasan mengenai perjalanan dan keberadaan masyarakat Tionghoa dalam lintasan sejarah Kota Malang.

Buku tersebut menjadi ruang untuk melihat bagaimana komunitas Tionghoa hadir dan berkembang di tengah perubahan zaman, sekaligus merekam kontribusi mereka dalam kehidupan masyarakat dan perkembangan kota.

Sam Ali berharap karya tersebut tidak hanya menjadi bacaan bagi komunitas tertentu, tetapi dapat menjadi referensi bagi masyarakat luas untuk memahami sejarah Kota Malang dari perspektif yang lebih beragam.

Menurutnya, pemahaman terhadap sejarah juga penting untuk menyiapkan generasi mendatang agar mengetahui akar perjalanan kotanya.

“10–20 tahun ke depan generasi kita akan merasakan dan punya sejarahnya sendiri. Paling tidak ini tidak lepas dari sejarah di Kota Malang dan menjadi referensi utama perjalanan etnis Tionghoa yang ada di Kota Malang,” pungkasnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *