Daerah

Mbah Wahab Sempat Kritis, Lalu ‘Verlengd’ Demi Hadiri Muktamar ke-25 NU

15
×

Mbah Wahab Sempat Kritis, Lalu ‘Verlengd’ Demi Hadiri Muktamar ke-25 NU

Share this article
KH M Hasib Wahab saat menceritakan kisah verlengd atau perpanjangan usia Mbah Wahab. (Foto : Sudutkota.id/Elok Apriyanto)

Sudutkota.id – Kisah perjuangan Pendiri Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus Pahlawan Nasional, KH Abdul Wahab Chasbullah, kembali diungkap.

Salah satu cerita yang dikenang adalah kisah verlengd atau perpanjangan usia Mbah Wahab menjelang Muktamar ke-25 NU di Surabaya pada 1971.

Kisah tersebut diungkap putra Mbah Wahab, KH M Hasib Wahab, dalam forum bedah buku karya Abdul Mun’im DZ di Auditorium Universitas KH Abdul Wahab Chasbullah (Unwaha) Jombang.

Gus Hasib menceritakan kondisi KH Abdul Wahab Chasbullah yang sempat kritis menjelang pelaksanaan Muktamar ke-25 NU. Saat itu, Mbah Wahab berada di kediamannya di kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Jombang.

Dalam kondisi tersebut, keluarga dan para santri yang berada di sekitarnya telah bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Mbah Wahab disebut terbaring lemah dengan kedua tangan bersedekap.

Namun, situasi berubah ketika Mbah Wahab tiba-tiba membuka mata dan memberikan isyarat penolakan.

“Gak sido-gak sido, aku verlengd (Tidak jadi, tidak jadi. Saya diperpanjang),” kata KH M Hasib Wahab menirukan ucapan sang ayah.

Menurut cerita yang disampaikan Gus Hasib, istilah verlengd berasal dari bahasa Belanda yang berarti diperpanjang. Dalam kisah tersebut, Mbah Wahab merasa masih memiliki tanggung jawab yang harus dituntaskan sebagai Rais Aam PBNU.

Salah satunya adalah menyampaikan laporan pertanggungjawaban dalam Muktamar ke-25 NU di Surabaya.

“Beliau masih mempunyai tanggung jawab untuk menyampaikan pertanggungjawaban di muktamar,” ujar Gus Hasib.

Setelah peristiwa itu, kondisi kesehatan Mbah Wahab disebut berangsur membaik. Bahkan, ulama kelahiran Jombang tersebut kemudian dapat menghadiri rangkaian Muktamar ke-25 NU yang berlangsung pada 20-25 Desember 1971.

Kehadiran Mbah Wahab dalam muktamar menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan sejarah NU. Di tengah kondisi kesehatannya, ia tetap menjalankan tanggung jawabnya sebagai salah satu tokoh utama organisasi.

Namun, beberapa hari setelah Muktamar ke-25 NU berakhir, Mbah Wahab kembali terbaring. Tepat pada 29 Desember 1971 pagi, KH Abdul Wahab Chasbullah wafat.

Putri Mbah Wahab, Nyai Hj Mundjidah Wahab, juga mencatat bahwa sang ayah sempat mengonfirmasi pengalaman tersebut kepada anak-anaknya.

Kisah verlengd Mbah Wahab hingga kini menjadi bagian dari cerita yang dikenang dalam perjalanan hidup Pendiri NU tersebut. Kisah itu menggambarkan kuatnya komitmen KH Abdul Wahab Chasbullah dalam menjalankan amanah organisasi dan mengabdi kepada umat hingga akhir hayatnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *