Sudutkota.id – Kabupaten Malang dalam dua hari terakhir kembali dihadapkan pada serangkaian insiden kebakaran di sejumlah wilayah.
Berdasarkan laporan yang disampaikan Komandan Regu (Danton) Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Malang, Andik S, sedikitnya enam kejadian kebakaran terjadi pada 24 hingga 25 Juli 2026 dengan objek yang terbakar mulai dari lahan tebu, pabrik pengolahan kayu, barongan bambu, tempat pembuangan akhir (TPA) nonaktif, hingga usaha pemotongan kayu.
Rangkaian peristiwa tersebut menunjukkan tingginya potensi kebakaran di musim kemarau, terutama akibat kelalaian manusia yang diperparah cuaca panas dan hembusan angin kencang.
Danton Damkar Kabupaten Malang, Andik, mengatakan sebagian besar kejadian yang ditangani tim pemadam berasal dari aktivitas pembakaran sampah yang ditinggalkan tanpa pengawasan, puntung rokok, hingga percikan mesin pemotong kayu.
“Selama dua hari terakhir tim Damkar Kabupaten Malang terus bergerak melakukan penanganan di sejumlah titik. Mayoritas kebakaran dipicu faktor kelalaian manusia yang kemudian diperparah kondisi cuaca panas dan angin kencang sehingga api cepat membesar,” ujar Andik berdasarkan laporan penanganan kebakaran yang diterima SudutKota.id, Sabtu (25/7/2026).
Pada Jumat (24/7/2026) pagi, kebakaran pertama terjadi di Jl. Anjasmoro No. 19, Desa Turirejo, Kecamatan Lawang. Api melalap area pabrik pengolahan kayu pallet setelah diduga berasal dari sisa pembakaran sampah yang ditinggalkan. Kondisi cuaca panas membuat api dengan cepat merembet ke tumpukan kayu sehingga membutuhkan pengerahan dua unit mobil pemadam dan tujuh personel. Api akhirnya berhasil dipadamkan sekitar pukul 11.15 WIB.
Masih di hari yang sama, siang harinya, kebakaran kembali terjadi di kawasan Gang Tulip, Tanjungtirto, Kecamatan Singosari. Api membakar barongan bambu yang berada di dekat permukiman warga. Dugaan sementara, kebakaran juga dipicu sisa pembakaran sampah yang kemudian merembet ke ranting bambu kering. Karena lokasi sulit dijangkau kendaraan pemadam, petugas melakukan pemadaman secara manual hingga api berhasil dijinakkan.
Belum selesai, sore harinya, tim Damkar kembali diterjunkan ke TPA nonaktif Dusun Tumpangrejo, Desa Ngenep, Kecamatan Karangploso. Kebakaran diduga berasal dari gas metana yang menyala sendiri (self ignition). Api diketahui muncul kembali beberapa hari setelah proses pemadaman sebelumnya sehingga dikhawatirkan merembet ke lahan tebu milik warga. Proses pemadaman berlangsung cukup lama hingga pukul 21.00 WIB dengan melibatkan dua unit mobil pemadam, tujuh personel, serta bantuan dua staf kecamatan.
Memasuki Sabtu (25/7/2026) dini hari, kebakaran kembali terjadi di usaha pemotongan kayu milik Nur Kholis di Desa Brangkal, Kecamatan Pagelaran. Berdasarkan hasil pendataan awal, api diduga berasal dari puntung rokok yang memicu kebakaran di bangunan berukuran sekitar 7 x 15 meter. Tidak ada korban jiwa, namun kerugian material diperkirakan mencapai sekitar Rp50 Juta.
Belum lama berselang, sekitar pukul 02.45 WIB, kebakaran kembali terjadi di pabrik pengolahan kayu (pallet) di Dusun Jaten, Desa Jedong, Kecamatan Wagir. Dugaan sementara, sumber api berasal dari mesin pemotong kayu. Warga yang melihat kepulan asap berusaha memadamkan api sebelum akhirnya meminta bantuan Damkar. Dua unit armada bersama tujuh personel diterjunkan dan api berhasil dipadamkan sekitar pukul 05.20 WIB.
Selain itu, laporan lain juga mencatat kebakaran lahan tebu seluas sekitar 20 meter persegi di Dusun Blobo, Desa Sukoraharjo, Kecamatan Kepanjen. Api diduga berasal dari pembakaran sampah yang tidak terkendali akibat terpaan angin kencang. Beruntung warga bersama petugas berhasil mencegah api meluas ke permukiman.
Andik mengungkapkan, seluruh kejadian tersebut tidak menimbulkan korban jiwa. Namun, intensitas kebakaran yang terjadi dalam waktu berdekatan menjadi perhatian serius karena sebagian besar dipicu kelalaian yang sebenarnya dapat dicegah.
Damkar Kabupaten Malang mengimbau masyarakat untuk tidak membakar sampah sembarangan, memastikan api benar-benar padam setelah melakukan pembakaran, tidak membuang puntung rokok di area mudah terbakar, serta rutin memeriksa peralatan kerja yang berpotensi memicu percikan api.
“Kesadaran masyarakat menjadi kunci utama pencegahan kebakaran. Jangan meninggalkan api tanpa pengawasan, terutama saat musim kemarau dengan kondisi angin yang cukup kencang. Kewaspadaan bersama sangat diperlukan agar kejadian serupa tidak terus berulang,” pungkas Andik.




















