Sudutkota.id – Kenaikan harga daging sapi di sejumlah daerah di Jawa Timur dalam beberapa pekan terakhir menjadi perhatian Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur, Khusnul Khuluk. Ia meminta Pemerintah Provinsi Jawa Timur segera mengambil langkah strategis untuk menjaga populasi ternak sapi agar pasokan tetap terjaga dan lonjakan harga tidak berlangsung berkepanjangan.
Kenaikan harga daging sapi turut dirasakan pedagang di Pasar Baru Porong, Sidoarjo. Mereka mengaku harga daging terus meningkat selama dua pekan hingga satu bulan terakhir, sehingga berdampak pada penurunan transaksi jual beli.
Sejumlah pedagang bahkan mengurangi stok dagangan karena khawatir daya beli masyarakat menurun. Kondisi tersebut berbeda dengan tren setelah Iduladha yang biasanya diikuti penurunan harga akibat melimpahnya pasokan.
Menanggapi situasi tersebut, Khusnul Khuluk mengatakan hasil komunikasinya dengan para peternak menunjukkan harga sapi, termasuk anak sapi atau pedet, saat ini berada pada level tinggi dengan ketersediaan yang semakin terbatas.
“Hasil ngobrol dengan peternak, mereka memprediksi kenaikan ini bisa berlangsung lama. Stok pedet sangat sedikit dan harganya mahal. Bahkan diperkirakan hingga setahun ke depan harga sapi masih tinggi, apalagi menjelang Iduladha tahun depan,” ujar Khusnul, Selasa (21/7/2026).
Menurutnya, pemerintah perlu melakukan kajian menyeluruh untuk mengetahui penyebab berkurangnya populasi sapi, apakah dipicu tingginya permintaan, penurunan jumlah ternak, atau faktor lainnya.
“Kita masih butuh data yang lebih lengkap. Tapi di lapangan, peternak sudah merasakan harga sapi di tingkat peternak memang mahal,” katanya.
Khusnul juga meminta Pemprov Jatim segera mengambil langkah konkret untuk menjaga populasi ternak. Salah satunya dengan menegakkan Peraturan Daerah yang melarang pemotongan sapi betina produktif.
“Aturan larangan potong sapi betina produktif harus benar-benar dijalankan. Kalau sapi produktif dipotong, populasi jangka panjang akan terus berkurang,” tegasnya.
Selain itu, ia mengusulkan pemberian insentif bagi peternak yang memelihara sapi betina bunting agar keberadaan indukan tetap terjaga.
“Pemerintah bisa beri insentif ke peternak yang pelihara sapi betina bunting. Saat ini banyak peternak pilih sapi jantan untuk penggemukan karena cepat untung. Padahal untuk menjaga populasi, indukan harus dipertahankan,” jelasnya.
Ia berharap intervensi pemerintah segera dilakukan agar pasokan sapi tetap terjaga, harga daging lebih stabil, serta daya beli masyarakat tidak semakin tertekan.
“Masalah ini jangan dibiarkan berlarut. Dampaknya dirasakan pedagang, konsumen, dan juga peternak,” pungkasnya.




















