Sudutkota.id – Siapa sangka jika daun kelor yang selama ini dimasak buat sayuran, ternyata di tangan mahasiswa Politeknik Negeri Jember (Polije) bisa diubah menjadi minuman herbal yang menyehatkan.
Bahkan, cara pembuatan minuman herbal berbahan daun kelor ini sempat diajarkan kepada puluhan ibu-ibu kader PKK di Kelurahan Banjarsengon, Kecamatan Patrang, Jember, Selasa (19/5/2026).
Saat wartawan sudutkota.id menyaksikan cara pembuatan minuman herbal ini, tercium aroma khas daun kelor yang diseduh hangat. Terlihat ibu-ibu PKK dan warga setempat berkumpul mengelilingi meja demonstrasi. Mata mereka tertuju pada sekumpulan mahasiswa Politeknik Negeri Jember (Polije) yang sedang telaten memisahkan daun kelor dari rantingnya.
Melalui program PRO-MEKAR (Program Masyarakat Edukasi Kelor dan Rawat Mandiri), halaman rumah warga yang biasanya dipenuhi pohon kelor, kinj tak lagi sekadar menjadi tanaman pagar atau sayur bening biasa. Di tangan para mahasiswa dan warga, tanaman lokal ini disulap menjadi minuman herbal bernilai tinggi, Teh Kelor.
Daun kelor (moringa oleifera) memang bukan hal baru bagi warga Jember. Namun, belum banyak yang tahu bahwa tanaman yang sering dijuluki “the miracle tree” ini menyimpan segudang manfaat magis bagi tubuh.
Lurah Banjarsengon, Sudik Haryono, menegaskan bahwa pemanfaatan pangan lokal seperti kelor adalah kunci kemandirian kesehatan warga. Bukan sekadar tren minuman sehat, teh kelor ini diproyeksikan menjadi senjata ampuh dalam menekan angka stunting di wilayahnya.
“Pemanfaatan tanaman lokal seperti daun kelor dapat menjadi langkah sederhana untuk meningkatkan kesehatan keluarga dan mendukung pencegahan stunting di lingkungan masyarakat,” ujar Sudik Haryono.
Ketua Panitia PRO-MEKAR, Moh Ade Putra, menambahkan, kelor dipilih karena kandungannya yang luar biasa kaya akan vitamin, mineral, dan antioksidan. Selain baik untuk pertumbuhan anak, teh kelor juga ramah untuk para lansia.
“Daun kelor juga baik untuk membantu mencegah darah tinggi karena kandungan nutrisinya cukup lengkap dan baik untuk kesehatan,” jelas Ade hangat kepada para warga.
Edukasi tidak berhenti pada teori di atas kertas. Antusiasme warga memuncak saat sesi praktik langsung pembuatan teh kelor dimulai. Ibu-ibu dengan lincah mengikuti instruksi para mahasiswa, mulai dari proses pemetikan, pengeringan yang benar agar nutrisinya tidak hilang, hingga cara penyeduhan yang menghasilkan rasa terbaik.
Didampingi oleh Ahli Gizi Puskesmas setempat, Bidan Wahyu Anita, serta Dosen Pembimbing Promosi Kesehatan Polije, Malinda Capri Nurul Satya, warga diajak memahami bahwa sehat tidak harus mahal.
Menariknya, program ini tidak hanya berorientasi pada kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan ekonomi warga. Teh kelor ternyata juga memiliki potensi besar untuk dikemas secara kreatif dan dijadikan produk usaha rumahan (UMKM) bagi ibu-ibu Banjarsengon.




















