Sudutkota.id – Akhirnya, Achmad Syahri Assidiqi, Anggota DPRD Jember dari Fraksi Gerindra yang viral karena asyik main gim dan merokok saat rapat dewan, secara terbuka meminta maaf.
Dalam video yang dibagikan, Achmad Syahri menyampaikan permohonan maaf secara terbuka setelah video dirinya merokok dan bermain gim saat rapat dengar pendapat (RDP) viral di media sosial.
Ia mengakui perbuatannya sebagai kesalahan pribadi dan menyatakan siap menerima sanksi dari partai maupun lembaga legislatif.
“Ini murni kesalahan saya pribadi. Saya meminta maaf kepada masyarakat Jember, pimpinan DPRD, serta anak-anak muda yang menaruh harapan kepada wakil rakyat,” ujar Syahri.
Sebelumnya Video Syahri tengah bermain gim sembari merokok saat RDP di di ruang rapat Badan Musyawarah (Banmus) DPRD Jember bersama Dinas Kesehatan setempat beredar luas di media sosial.
Tindakan itu memicu kritik publik, terutama dari kalangan mahasiswa. Mereka menilai tindakan Syahri mencederai etika lembaga legislatif dan tidak mencerminkan tanggung jawab sebagai wakil rakyat.
Bahkan, Syahri menyatakan siap jika nantinya diberi sanksi. “Saya tidak akan menghindar dari tanggung jawab. Jika ada sanksi, saya siap menerimanya,” ujarnya.
Dengan kejadian tersebut, dirinya siap untuk instropeksi diri. Seperti diberitakan sudutkota.id, Ketua DPRD Jember, Ahmad Halim menegaskan akan mengambil langkah tegas terhadap anggotanya, Akhmad Sahri Assidiqi, yang viral di media sosial usai diduga bermain gim di telepon genggam sambil merokok saat rapat.
Peristiwa tersebut terjadi dalam rapat dengar pendapat (RDP) Komisi D DPRD Jember bersama Dinas Kesehatan, puskesmas, dan Dinas Sosial pada, Senin (11/5/2026).
Saat rapat berlangsung, forum tengah membahas persoalan serius terkait tingginya angka stunting, Angka Kematian Ibu (AKI), dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Kabupaten Jember.
Namun di tengah pembahasan, Akhmad Sahri terlihat memainkan gim di ponselnya sambil merokok. Aksi itu terekam kamera media yang sedang melakukan siaran langsung dan kemudian menyebar luas di media sosial hingga memicu kritik publik.




















