KOTA MALANG, Sudutkota.id – Dampak kebakaran Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Supiturang, Kota Malang, tak hanya menjadi persoalan pemadaman api, tetapi juga ancaman kesehatan bagi masyarakat dan petugas di lapangan.
Api yang masih menyala hingga pukul 23.00 WIB membuat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang menyiagakan enam tim kesehatan, ambulans dengan oksigen portabel, serta fasilitas perawatan sementara untuk mengantisipasi gangguan kesehatan akibat paparan asap.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, dr. Husnul Muarif, mengatakan arah angin menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan wilayah yang berpotensi terdampak asap kebakaran. Berdasarkan kondisi yang diamati, pergerakan angin mengarah ke barat laut sehingga masyarakat yang berada di jalur tersebut perlu meningkatkan kewaspadaan.
Hal itu disampaikan Husnul saat memberikan keterangan mengenai dampak kebakaran TPA Supiturang, Kamis (22/10/2026).
“Dampaknya sangat tergantung pada seberapa lama masyarakat menghirup asap kebakaran TPA. Kemudian yang kedua, tentu dari kualitas asapnya,” ujar Husnul.
Ia menjelaskan, pada awal kebakaran asap terlihat hitam pekat. Namun, ketika berkunjung ke lokasi pada sore hari, asap mulai terlihat berwarna putih.
“Di awal-awal itu masih hitam. Sore saya berkunjung ke sana, itu sudah putih,” jelasnya.
Meski demikian, perubahan warna asap tidak bisa dijadikan satu-satunya patokan untuk memastikan udara telah aman dihirup. Pengukuran kualitas udara tetap diperlukan untuk mengetahui tingkat pencemaran dan kandungan zat berbahaya.
Mengantisipasi dampak kesehatan yang ditimbulkan, Dinkes Kota Malang menyiapkan enam tim kesehatan dari sejumlah puskesmas. Tim tersebut bertugas memberikan pertolongan kepada masyarakat maupun petugas yang mengalami keluhan selama proses penanganan kebakaran berlangsung.
Husnul menegaskan, gangguan pernapasan dan dehidrasi menjadi dua kondisi yang perlu diantisipasi. Petugas yang bekerja di dekat titik kebakaran menghadapi paparan asap sekaligus suhu panas. Aktivitas fisik dan keluarnya keringat berlebihan juga dapat meningkatkan risiko kekurangan cairan.
“Yang paling penting bagaimana teratasi untuk gangguan asapnya, untuk sesaknya, terus bagaimana bisa teratasi juga masalah dehidrasi. Karena di sana panas, kemudian asap, keringat banyak yang keluar, pasti dehidrasi,” paparnya.
Dinkes juga menyiapkan Puskesmas Mulyorejo sebagai fasilitas perawatan sementara bagi mereka yang membutuhkan penanganan lebih lanjut. Jika kondisi pasien memerlukan pelayanan lanjutan, rujukan ke rumah sakit terdekat disiapkan sesuai kebutuhan medis.
“Kami siapkan semuanya di situ. Manakala ada rujukan, itu kita siapkan rumah sakit terdekat,” terang Husnul
Perhatian khusus diberikan kepada petugas yang berada di ring satu atau kawasan dekat titik kebakaran. Mereka memiliki risiko lebih tinggi terpapar asap karena harus bekerja langsung di area terdampak.
Untuk mendukung pertolongan cepat, enam ambulans disiapkan dengan oksigen portabel yang dapat dibawa ke lokasi. Peralatan tersebut digunakan untuk membantu petugas yang mengalami gangguan pernapasan sebelum mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.
“Petugas berada di ring satu yang memang berada di dalam kumpulan asapnya, sehingga itu ada dehidrasi, kemudian sesak. Oksigen-oksigen portabel itu kita siapkan di TKP dari enam ambulans,” tegas Husnul.
Ia menjelaskan, apabila persediaan oksigen portabel habis, petugas yang membutuhkan bantuan akan ditarik untuk mendapatkan tambahan oksigen melalui ambulans.
“Kalau sudah habis, petugas kita tarik juga untuk diberikan oksigen tambahan di ambulans. Kalau membutuhkan penanganan lebih lanjut, kita kirim ke puskesmas,” imbuhnya.
Selain dukungan ambulans, Dinkes menyiapkan sekitar sepuluh tenaga kesehatan di puskesmas untuk memperkuat pelayanan apabila terdapat petugas atau warga yang membutuhkan pemeriksaan dan perawatan.
Dampak kebakaran juga dirasakan oleh petugas yang terlibat langsung dalam upaya pemadaman. Sebanyak 16 petugas Avatar dilaporkan sempat menjalani perawatan setelah bertugas dalam penanganan kebakaran TPA Supiturang.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena petugas pemadam bekerja di lingkungan dengan paparan asap dan suhu tinggi. Risiko gangguan pernapasan dan dehidrasi perlu diantisipasi, terlebih ketika penanganan berlangsung selama berjam-jam.
Kesiapan tim kesehatan, ambulans, oksigen portabel, serta fasilitas perawatan sementara menjadi bagian penting untuk memastikan petugas yang mengalami gangguan kesehatan segera memperoleh pertolongan.
Di sisi lain, masyarakat yang tinggal di kawasan yang dilalui asap juga perlu meningkatkan kewaspadaan. Warga disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika paparan asap terasa mengganggu, menutup pintu dan jendela saat asap masuk ke lingkungan permukiman, serta segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas atau keluhan yang memburuk.
Kebakaran TPA Supiturang menunjukkan bahwa penanganan darurat tidak cukup hanya berfokus pada pemadaman api. Pengendalian sumber asap, pemantauan kualitas udara, perlindungan petugas, dan kesiapan layanan kesehatan harus berjalan beriringan untuk meminimalkan risiko bagi masyarakat maupun personel yang bertugas di lapangan.
“Yang paling penting, masyarakat tetap waspada dan segera memeriksakan diri apabila mengalami sesak napas atau keluhan kesehatan lainnya akibat paparan asap,” kata Husnul.





















