Peristiwa

Kebakaran TPA Supit Urang, Tim Gabungan Dikerahkan Padamkan 12 Hektare Area Sampah

30
×

Kebakaran TPA Supit Urang, Tim Gabungan Dikerahkan Padamkan 12 Hektare Area Sampah

Share this article
Kebakaran TPA Supit Urang, Tim Gabungan Dikerahkan Padamkan 12 Hektare Area Sampah
Plt Kepala DLH Kota Malang, Gabriel Raymond Hatigoran Matondang, saat memberikan keterangan kepada awak media terkait kebakaran TPA Supit Urang yang menghanguskan sekitar 12 hektare area sampah.(Sudutkota.id/Agus Demit)

KOTA MALANG, Sudutkota.id – Kebakaran yang melanda Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Supit Urang, Kota Malang, menghanguskan sekitar 12 hektare area sampah.

Di tengah upaya pemadaman yang berlangsung hingga, Kamis (22/10/2026) pagi, Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang, Gabriel Raymond Hatigoran Matondang, menyelipkan istilah unik, ilmu Avatar, pengendali api yang harus dilawan dengan kekuatan pengendali air.

Istilah tersebut merujuk pada pengerahan Tim Avatar, gabungan petugas pemadam kebakaran dari Kota Malang, Kota Batu, dan Kabupaten Malang. Mereka berjibaku bersama unsur BPBD dan bantuan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Jawa Timur untuk menjinakkan api yang merembet dari sisi selatan hingga utara kawasan TPA.

Hal tersebut disampaikan Raymond saat diwawancarai awak media, Kamis (22/10/2026). Ia berharap pengerahan tim gabungan dapat mempercepat pemadaman, mengingat sejumlah titik api masih ditemukan di dalam timbunan sampah.

Kebakaran mulai terjadi sekitar pukul 12.30 WIB, pada Rabu (21/10/2026). Api diduga berasal dari pembakaran sampah di sekitar kandang ayam yang berada di luar kawasan TPA. Kobaran kemudian menyambar rumpun bambu kering, menyeberangi sungai, dan meluas ke area landfill akibat angin kencang.

“Awal mula kebakaran terjadi di sisi selatan TPA, tetapi bukan di dalam area TPA. Ada pembakaran sampah yang dilakukan di sekitar peternakan ayam. Api kemudian merembet ke bambu kering dan meluas karena angin cukup kencang,” ujar Raymond.

Berdasarkan data sementara yang disampaikan Raymond, sekitar empat hektare area open dumping dan empat hektare area new landfill terdampak. Secara keseluruhan, luas area sampah yang terbakar diperkirakan mencapai 12 hektare, dari hamparan landfill TPA Supit Urang yang luasnya sekitar 20 hektare.

“Dari total area yang terdampak, lebih dari separuhnya sudah terkena api. Teman-teman melakukan pemadaman sampai tengah malam, tetapi memang belum semuanya 100 persen padam,” jelasnya.

Hingga Kamis pagi, petugas masih menemukan titik-titik api yang membutuhkan penanganan lanjutan. Pemadaman pun tidak cukup dilakukan dengan menyiram kobaran yang terlihat di permukaan, karena bara dapat tersimpan di dalam tumpukan sampah dan berpotensi menyala kembali.

Di sinilah Tim Avatar menjadi bagian dari upaya pengendalian kebakaran. Gabungan petugas damkar dari Kota Malang, Kota Batu, dan Kabupaten Malang dikerahkan untuk memperkuat pemadaman. Dukungan BPBD serta bantuan dari PU Provinsi Jawa Timur turut diberikan agar api segera terkendali.

Raymond berharap upaya gabungan tersebut mampu menuntaskan kebakaran dan dilanjutkan dengan pembasahan menyeluruh.

Dengan nada berseloroh, ia mengaitkan pengerahan Tim Avatar dengan gambaran pengendali unsur dalam kisah Avatar, yakni menghadapi api menggunakan kekuatan air.

Harapan tersebut menjadi selingan di tengah situasi serius, ketika petugas harus menangani kebakaran yang meluas dan memastikan bara di dalam timbunan sampah benar-benar padam.

Raymond menjelaskan, sumber awal kebakaran diduga berasal dari aktivitas pembakaran sampah di sekitar kandang ayam di luar area TPA. Api kemudian menyambar rumpun bambu kering sebelum menjalar melewati sungai dan masuk ke kawasan pengolahan sampah.

Pihak kepolisian telah melakukan pengecekan awal untuk menelusuri kejadian tersebut. Raymond mengatakan, komunikasi dengan pihak desa juga akan dilakukan guna memastikan pemilik kandang ayam yang berada di sekitar lokasi awal api.

“Hari ini akan dilakukan komunikasi dengan pihak desa untuk memastikan siapa pemilik kandang ayam tersebut. Namun, prosesnya masih berjalan dan kami menunggu penanganan lebih lanjut dari kepolisian,” ungkapnya.

Meski dugaan awal telah mengarah pada pembakaran sampah di luar kawasan TPA, kepastian penyebab kebakaran dan pihak yang bertanggung jawab masih menunggu hasil penelusuran aparat.

Peristiwa ini menjadi perhatian karena api yang diduga bermula dari aktivitas pembakaran di luar area dapat merembet ke kawasan TPA dan menimbulkan dampak yang jauh lebih luas, terutama saat vegetasi mengering dan angin bertiup kencang.

Selain luasnya area terdampak, petugas juga menghadapi tantangan berupa bara api yang tersimpan di dalam timbunan sampah serta potensi gas metana. Kondisi tersebut membuat pemadaman membutuhkan penanganan lanjutan meskipun kobaran di permukaan mulai berkurang.

Raymond mengatakan, DLH selama ini berupaya menekan potensi gas metana melalui penyiraman menggunakan bakteri pengurai dan pengurukan tanah pada area tertentu.

“Gas metana yang ada di TPA selama ini kami upayakan untuk dikurangi. Caranya melalui penyiraman dengan bakteri pengurai dan pengurukan tanah, sehingga potensi gas metana bisa ditekan dan api tidak membesar,” paparnya.

Menurutnya, petugas harus memastikan titik-titik bara di dalam timbunan sampah benar-benar terkendali agar api tidak kembali menyala. Pengalaman kebakaran sebelumnya juga menjadi pertimbangan, karena pada kejadian sekitar tiga tahun lalu proses pemadaman membutuhkan waktu hingga tiga hari.

“Kalau pengalaman sebelumnya, pemadaman bisa sampai tiga hari. Karena itu, sekarang kami berupaya agar penanganannya lebih cepat, tetapi tetap harus memastikan titik api dan bara benar-benar terkendali,” tegasnya.

Kebakaran tersebut turut menimbulkan asap yang menjangkau sejumlah wilayah di Malang bagian barat, termasuk kawasan permukiman. Raymond menyebut intensitas asap hingga Rabu malam mulai berkurang, meskipun pemadaman masih berlanjut pada Kamis pagi.

“Sampai tadi malam, asap sudah sangat berkurang. Namun, karena area yang terbakar cukup luas, dampaknya sempat dirasakan hingga kawasan permukiman di sisi barat Kota Malang,” katanya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *