Daerah

Gercep, Gus Jazuk Sambangi Mbah Karmini, Lansia Sebatang Kara Akhirnya Dibawa ke Liponsos

21
×

Gercep, Gus Jazuk Sambangi Mbah Karmini, Lansia Sebatang Kara Akhirnya Dibawa ke Liponsos

Share this article
Gercep, Gus Jazuk Sambangi Mbah Karmini, Lansia Sebatang Kara Akhirnya Dibawa ke Liponsos
Gus Jazuk, serta jajaran pengurus BAZNAS Sidoarjo ketika di lokasi rumah Mbah Karmini. (Foto:sudutkota.id/Amrizal)

SIDOARJO, Sudutkota.id – Bertahun-tahun menjalani hari tua seorang diri, Mbah Karmini (73), akhirnya mendapat perhatian. Lansia yang hidup sebatang kara di RT 13 RW 03, Dusun Dungus, Desa Sukodono, Kecamatan Sukodono, itu kini dibawa ke Liponsos Sidoarjo untuk mendapatkan perawatan yang lebih layak.

Kabar tentang kondisi Mbah Karmini yang memprihatinkan membuat Ketua BAZNAS Kabupaten Sidoarjo, H. Agus M. Chasbil Azis Salju, atau akrab disapa Gus Jazuk, turun langsung menemuinya, Selasa (8/9/2026) kemarin.

Gus Jazuk datang bersama Ketua Bidang SDM dan Umum BAZNAS Sidoarjo, Drs. Ilhamuddin. Selain memastikan kondisi Mbah Karmini, kedatangan tersebut juga disertai penyerahan bantuan sosial dari BAZNAS Sidoarjo.

Di hadapan Mbah Karmini, Gus Jazuk memastikan BAZNAS tidak ingin persoalan lansia tersebut berhenti hanya pada pemberian bantuan sesaat.

Menurutnya, BAZNAS sebelumnya telah menyiapkan sejumlah opsi agar Mbah Karmini bisa mendapatkan kehidupan dan perawatan yang lebih layak.

“Opsi pertama, kami memberikan bantuan biaya hidup setiap bulan, dengan catatan ada pihak keluarga yang bersedia merawat beliau,” ujar Gus Jazuk.

Namun, rencana tersebut terbentur persoalan serius. Tidak ada keluarga yang bersedia merawat Mbah Karmini secara langsung.

“Opsi pertama terkendala karena tidak ada keluarga yang mau merawat beliau,” imbuhnya.

BAZNAS kemudian menyiapkan opsi kedua, yakni menyediakan rumah singgah sementara sembari menunggu tempat perawatan di Liponsos Sidoarjo.

Namun, perkembangan terbaru membawa jalan keluar. Dinas Sosial Kabupaten Sidoarjo ternyata telah menyiapkan tempat bagi Mbah Karmini di Liponsos.

“Jadi clear, kita sepakat Mbah Karmini dirawat di Liponsos Sidoarjo,” tegas Gus Jazuk.

Setelah melalui pembicaraan dengan salah satu anggota keluarga dan mendapat persetujuan, Mbah Karmini akhirnya meninggalkan rumah yang selama ini ditempatinya. Ia kemudian dibawa menggunakan kendaraan Dinas Sosial menuju Liponsos Sidoarjo.

Momen tersebut menjadi titik balik bagi Mbah Karmini. Setelah bertahun-tahun hidup dalam keterbatasan dan hanya mengandalkan kepedulian tetangga, kini ia akan mendapatkan pendampingan dan perawatan di tempat yang telah disiapkan pemerintah.

Dalam proses penanganan tersebut, rombongan BAZNAS Sidoarjo turut didampingi Camat Sukodono Ineke Dwi Setiawati, serta tim Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Sukodono.

Kisah Mbah Karmini menjadi potret getir kehidupan seorang lansia di usia senja. Perempuan kelahiran Mojokerto, 30 Juni 1943, tersebut diketahui tidak memiliki anak kandung.

Selama ini, Mbah Karmini hidup seorang diri. Kondisi kesehatannya yang semakin menurun membuat aktivitas sehari-harinya semakin terbatas. Ia hanya mengandalkan kepedulian tetangga yang selama ini membantu merawat dan memenuhi kebutuhannya.

Ironisnya, bantuan sosial dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat disebut belum pernah diterimanya selama ini.

Kondisi Mbah Karmini kemudian diketahui oleh salah seorang petugas TKSK Kecamatan Sukodono. Petugas tersebut berupaya mencarikan solusi agar Mbah Karmini segera mendapatkan tempat tinggal sekaligus perawatan yang lebih memadai.

“Kita upayakan mendapat penanganan dari Liponsos, meskipun kuota kamar untuk penghuni perempuan lansia juga terbatas,” tutur petugas TKSK Sukodono.

Mbah Karmini sebenarnya masih memiliki keponakan. Namun, tidak ada anggota keluarga yang bersedia menampung maupun merawatnya.

Kini, pintu harapan itu akhirnya terbuka. Setelah mendapat perhatian BAZNAS Sidoarjo dan berkoordinasi dengan Dinas Sosial serta TKSK Kecamatan Sukodono, Mbah Karmini akhirnya dibawa ke Liponsos.

Bagi Mbah Karmini, langkah tersebut bukan sekadar perpindahan tempat tinggal. Di usia senja, setelah lama menjalani hidup dalam kesendirian, ia akhirnya memiliki tempat untuk mendapatkan pendampingan dan perawatan yang lebih layak.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *