Daerah

Galian Fiber Optik Sudah 75 Persen, Dua Warga Jadi Korban, PT Mora Republik Baru Tahu di Forum LLAJ

23
×

Galian Fiber Optik Sudah 75 Persen, Dua Warga Jadi Korban, PT Mora Republik Baru Tahu di Forum LLAJ

Share this article
Galian Fiber Optik Sudah 75 Persen, Dua Warga Jadi Korban, PT Mora Republik Baru Tahu di Forum LLAJ
Solihun, selaku Manager Oprasional Jateng DIY PT Mora Republik saat diwawancarai.(Foto/Sudutkota.id/Farros)

BLORA, Sudutkota.id – Pengerjaan galian fiber optik di sepanjang ruas Blora-Cepu yang dilakukan PT Mora Republik menjadi sorotan setelah dua warga dilaporkan mengalami kecelakaan di lokasi galian. Salah satu korban bahkan disebut mengalami patah tulang.

Hal tersebut terungkap dalam Forum Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) yang membahas aktivitas penggalian fiber optik di ruas jalan Kabupaten Blora. Forum tersebut digelar di Aula Dinas Perumahan, Permukiman dan Perhubungan (Dinrumkimhub) Kabupaten Blora, Senin (3/8/2026).

Manager Operasional Jateng DIY PT Mora Republik, Solihun, mengatakan pihaknya baru mengetahui adanya warga yang menjadi korban kecelakaan akibat galian tersebut dalam forum tersebut.

“Kita menanggapi warga sekitar yang menjadi korban laka adanya galian optik dari PT Mora Republik yang ada di sepanjang Blora-Cepu. Kita akan menanggapi hal tersebut dan akan menyowani warga yang menjadi korban tersebut, karena katanya sampai patah tulang,” ujar Solihun saat ditemui awak media, Rabu (2/9/2026).

Menurutnya, terdapat dua korban dengan lokasi kecelakaan yang berbeda. Masing-masing berada di sekitar depan Terminal Blora dan depan Koramil.

“Untuk panjang galiannya itu ada 12,3 kilometer,” katanya.

Solihun mengakui adanya kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi bagi perusahaan. Pihaknya akan melakukan pengecekan terhadap vendor-vendor lain yang bekerja sama dengan PT Mora Republik agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.

“Hal ini menjadikan masukan kami untuk mengecek vendor lainnya yang bekerja sama dengan kita,” ujarnya.

Namun, sorotan lain muncul karena progres pengerjaan galian disebut telah mencapai sekitar 75 persen, sementara persoalan tersebut baru dibahas dalam forum LLAJ.

Ketika ditanya media mengenai kondisi tersebut, Solihun mengaku pihaknya belum mengetahui bahwa forum LLAJ perlu dilakukan terlebih dahulu sebelum pekerjaan diimplementasikan.

“Kami juga belum tahu dari awalnya ternyata harus ada forum dulu baru implementasi, sedangkan dari sisi kami kita sudah izin ke BPJN, setahu kami begitu,” jelasnya.

Ia mengatakan PT Mora Republik telah mengurus perizinan mulai dari tingkat kabupaten, provinsi hingga nasional. Menurutnya, aktivitas tersebut juga memiliki retribusi yang berpotensi memberikan pemasukan bagi daerah.

“Kami juga sudah melakukan perizinan mulai dari kabupaten, provinsi dan nasional. Di situ ada retribusinya juga, artinya kita bisa meningkatkan PAD dari Kabupaten,” katanya.

Terkait pembiayaan proyek, Solihun menegaskan anggaran pengerjaan bukan berasal dari APBD Kabupaten Blora maupun anggaran pemerintah lainnya.

“Untuk anggaran tidak bisa kami dari operasional, dan anggarannya bukan dari anggaran kabupaten maupun lainnya, jadi dari PT Mora Republik,” ujarnya.

Ia juga menyebut terdapat kesepakatan dengan vendor terkait kewajiban mengembalikan kondisi tanah setelah dilakukan penggalian.

“Dan kami juga ada kesepakatan vendor tersebut ada pengembalian tanah yang sudah digali,” katanya.

Sementara itu, mengenai kemungkinan pemberian kompensasi kepada warga yang rumahnya berada di sekitar jalur galian, Solihun mengaku hal tersebut cukup sulit dilakukan.

“Untuk kompensasi per rumah saya agak sulit, karena sewa galian kita saja di tanah jalan nasional,” ujarnya.

PT Mora Republik menyebut pembangunan jaringan fiber optik tersebut bertujuan mendukung pemerataan akses digitalisasi, khususnya layanan internet melalui WiFi hingga ke rumah-rumah warga.

Namun, adanya dua warga yang menjadi korban serta progres pengerjaan yang disebut telah mencapai 75 persen sebelum forum LLAJ menjadi catatan penting bagi pelaksanaan proyek tersebut.

Terlebih, perusahaan mengaku baru mengetahui adanya korban dari forum yang digelar setelah pekerjaan telah berlangsung cukup jauh. Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana pengawasan terhadap pelaksanaan galian, terutama terkait aspek keselamatan pengguna jalan dan pemulihan kondisi jalan setelah pekerjaan.

PT Mora Republik sendiri menyatakan akan menindaklanjuti laporan mengenai dua korban tersebut serta mengevaluasi vendor yang terlibat dalam pekerjaan di lapangan.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *