Daerah

Jejak Mbah Wahab Merintis Seni Hadrah NU Berbuah Gelar Bapak ISHARI Nahdlatul Ulama

19
×

Jejak Mbah Wahab Merintis Seni Hadrah NU Berbuah Gelar Bapak ISHARI Nahdlatul Ulama

Share this article
Penganugrahan gelar “Bapak ISHARI Nahdlatul Ulama” kepada Pahlawan Nasional KH Abdul Wahab Chasbullah. (Foto: Sudutkota.id/Elok Apriyanto)

Sudutkota.id – Pimpinan Pusat Ikatan Seni Hadrah Indonesia (PP ISHARI) secara resmi menganugerahkan gelar “Bapak ISHARI Nahdlatul Ulama” kepada Pahlawan Nasional KH Abdul Wahab Chasbullah.

Gelar kehormatan tersebut diberikan sebagai bentuk penghargaan atas jasa dan perjuangan Mbah Wahab dalam merintis serta memperjuangkan seni hadrah hingga menjadi bagian dari struktur organisasi Nahdlatul Ulama (NU).

Penganugerahan gelar tersebut berlangsung di sela rangkaian Istighosah dan Doa Bersama Sukses Muktamar ke-35 NU di Gedung Serba Guna (GSG) Hasbullah Said, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Penghargaan diserahkan langsung jajaran pengurus PP ISHARI kepada putra Mbah Wahab, KH Hasib Wahab Chasbullah (Gus Hasib). Ia hadir mewakili keluarga besar dzurriyah KH Abdul Wahab Chasbullah.

Gus Hasib menyampaikan terima kasih dan apresiasi atas penghormatan yang diberikan keluarga besar ISHARI kepada almarhum ayahnya.

Ia berharap penganugerahan gelar Bapak ISHARI Nahdlatul Ulama dapat membawa keberkahan sekaligus menjadi pemantik semangat baru dalam mengembangkan seni dan budaya Islam di Indonesia.

“Semoga penghargaan ini membawa berkah. ISHARI makin besar dan jaya,” tutur Gus Hasib, Minggu (23/8/2026).

Momen penganugerahan tersebut disaksikan ribuan warga Nahdliyin, santri, jemaah seni hadrah, serta jajaran pimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Sejumlah tokoh NU turut hadir, di antaranya Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf (Gus Ipul), serta jajaran pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas.

Penganugerahan gelar tersebut sekaligus melengkapi rekam jejak KH Abdul Wahab Chasbullah dalam mengembangkan seni tradisi sebagai instrumen dakwah Islam yang ramah dan inklusif.

Lebih lanjut Gus Hasib menjelaskan dalam sejarahnya, Mbah Wahab melihat tradisi majelis selawat Terbang Abdurrahim yang dirintis Kiai Abdurrohim bin Abdul Hadi dari Pasuruan memiliki daya jangkau yang luas di tengah masyarakat.

“Melihat potensi tersebut, pada 23 Januari 1959, Mbah Wahab mengusulkan agar jam’iyyah hadrah tersebut secara resmi berada di bawah naungan organisasi NU,” tutur Gus Hasib.

Ia menyebut gagasan tersebut kemudian menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan ISHARI sebagai wadah pembinaan seni tradisi sekaligus media untuk menumbuhkan kecintaan umat kepada Nabi Muhammad SAW.

Dalam proses pembentukannya, Mbah Wahab juga merangkul sejumlah ulama sepuh NU, di antaranya KH Bisri Syansuri, KH Syaifuddin Zuhri, KH Ahmad Syaiku, hingga KH Muhammad bin Abdurrokhim.

“Perjalanan kelembagaan ISHARI kemudian terus berkembang. Organisasi tersebut akhirnya resmi ditetapkan sebagai Badan Otonom (Banom) NU dalam Muktamar ke-34 NU di Lampung pada 2021,” paparnya.

Kini, seni ISHARI yang identik dengan paduan syair mahabbah, gerakan rodad, dan tepukan tangan ritmis telah berkembang dari Pasuruan hingga ke berbagai daerah di Indonesia.

Penganugerahan gelar Bapak ISHARI Nahdlatul Ulama kepada KH Abdul Wahab Chasbullah menjadi penegasan atas besarnya peran Mbah Wahab dalam perjalanan seni hadrah sekaligus dakwah melalui jalur seni dan budaya Islam di Indonesia.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *