Religi

Ketua Pakasa Malang Raya Sebut Tradisi Kupatan Bentuk Akui Kesalahan dan Perbaiki Diri

3
×

Ketua Pakasa Malang Raya Sebut Tradisi Kupatan Bentuk Akui Kesalahan dan Perbaiki Diri

Share this article
Ketua Pakasa Malang Raya Sebut Tradisi Kupatan Bentuk Akui Kesalahan dan Perbaiki Diri
FOTO: Ketua Paguyuban Kawula Keraton Surakarta (Pakasa) Malang Raya, KRA Dwi Indrotito Pradoto Adiningrat.(foto:sudutkota.id/Tito)

Sudutkota.id – Perayaan Lebaran Ketupat yang digelar sepekan setelah Hari Raya Idulfitri kembali menjadi momentum penting dalam tradisi masyarakat Jawa. Banyak orang yang belum memahami hakikat sebenarnya.

Ketua Paguyuban Kawula Keraton Surakarta (Pakasa) Malang Raya, KRA Dwi Indrotito Pradoto Adiningrat, menegaskan bahwa tradisi ini bukan sekadar budaya, melainkan mengandung filosofi mendalam yang tetap relevan di era modern.

Menurutnya, ketupat tidak hanya menjadi hidangan khas, tetapi juga simbol spiritual yang sarat pesan moral. Ia menjelaskan, istilah “kupat” berasal dari ungkapan Jawa “ngaku lepat” yang berarti mengakui kesalahan, sebagai pengingat bagi manusia untuk terus melakukan introspeksi diri.

“Ini menjadi pengingat penting agar manusia selalu mau mengakui kesalahan dan memperbaiki diri,” ujarnya, Jumat (27/03/2026).

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa tradisi Lebaran Ketupat tidak lepas dari peran Sunan Kalijaga dalam menyebarkan ajaran Islam melalui pendekatan budaya lokal.

Anyaman janur pada ketupat melambangkan kompleksitas kehidupan manusia, sedangkan isi beras putih di dalamnya menggambarkan hati yang kembali suci setelah saling memaafkan.

“Ketika ketupat dibelah dan terlihat putih bersih di dalamnya, itu melambangkan hati yang telah kembali suci setelah proses saling memaafkan,” jelasnya.

Pria yang akrab disapa Sam Tito tersebut menilai, di tengah arus modernisasi dan digitalisasi yang serba cepat, nilai-nilai dalam Lebaran Ketupat justru semakin penting untuk dihidupkan.

Tradisi tersebut dinilai mampu menjadi ruang refleksi sekaligus memperkuat nilai kebersamaan di masyarakat.

“Interaksi manusia sekarang cenderung instan. Tradisi ini menjadi pengingat agar kita tidak kehilangan akar budaya, terutama dalam menjaga silaturahmi dan kerendahan hati,” tegasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya tradisi berbagi dalam perayaan Lebaran Ketupat. Menurutnya, kegiatan saling berbagi makanan tidak hanya mempererat hubungan antarwarga, tetapi memperkuat solidaritas sosial.

“Ini bukan sekadar soal makanan, tetapi tentang berbagi, mempererat hubungan, dan menjaga harmoni sosial,” imbuhnya.

Sebagai bagian dari pelestari budaya, pihaknya berharap generasi muda tidak hanya mengikuti tradisi secara seremonial, tetapi juga memahami makna filosofis yang terkandung di dalamnya.

“Kalau hanya ikut-ikutan, nilai itu bisa hilang. Tapi kalau dipahami, tradisi ini akan tetap hidup dan relevan sepanjang zaman,” pungkasnya.

Lebaran Ketupat pun tidak hanya menjadi penutup rangkaian Idulfitri, tetapi simbol perjalanan spiritual manusia dalam memperbaiki hubungan dengan Tuhan dan sesama.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *