Religi

Wali Kota Malang Ajak Umat Merawat Harmoni dalam Keberagaman di Peringatan Nyepi 2026

20
×

Wali Kota Malang Ajak Umat Merawat Harmoni dalam Keberagaman di Peringatan Nyepi 2026

Share this article
Wali Kota Malang Ajak Umat Merawat Harmoni dalam Keberagaman di Peringatan Nyepi 2026
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat bersama jajaran Forkopimda, tokoh umat Hindu, dan perwakilan lintas agama menghadiri kirab ogoh-ogoh di Lapangan Brawijaya Rampal, Rabu (18/3/2026), dalam rangka perayaan Hari Suci Nyepi.(foto:sudutkota.id/mit)

Sudutkota.id – Pertemuan dua momentum besar keagamaan, Hari Suci Nyepi dan bulan suci Ramadan, tergambar kuat dalam kirab ogoh-ogoh yang digelar di Kota Malang, Rabu (18/3/2026).

Dari Lapangan Brawijaya Rampal, Wali Kota Malang, Dr Ir Wahyu Hidayat, tidak hanya memberangkatkan kirab, tetapi juga terlebih dahulu menyalakan api obor sebagai simbol dimulainya rangkaian sakral tersebut.

Prosesi itu menjadi momen khidmat sebelum akhirnya Wahyu mengibarkan bendera start, menandai bergeraknya arak-arakan ogoh-ogoh yang diikuti ratusan peserta. Suasana di Rampal pun berubah menjadi lautan manusia. Warga dari berbagai kalangan tumpah ruah menyaksikan kirab yang sarat nilai budaya dan spiritual.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Malang sebagai bagian dari rangkaian Tawur Agung Kesanga menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka. Berbagai ogoh-ogoh berukuran besar dengan bentuk simbolis diarak, diiringi tabuhan gamelan yang menggema dan penampilan seni tradisional.

Dalam sambutannya, Wahyu Hidayat menyampaikan penghormatan kepada jajaran Forkopimda, termasuk Kapolresta Malang Kota, tokoh umat Hindu seperti Ketua PHDI Kota Malang, unsur Paruman Walaka, panitia, serta perwakilan tokoh lintas agama, organisasi wanita Hindu, Prajaniti, hingga seluruh undangan yang hadir.

“Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, sehingga kita dapat hadir bersama dalam keadaan sehat untuk mengikuti rangkaian perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan ucapan Selamat Hari Raya Nyepi kepada umat Hindu di Kota Malang. Menurutnya, momentum Tahun Baru Saka menjadi saat penting untuk memperkuat introspeksi diri dan kualitas kehidupan.

“Semoga kita semua mendapatkan berkah dan kekuatan dari Tuhan Yang Maha Esa, sehingga mampu berpikir, bersikap, dan bertindak secara benar dalam membangun kehidupan yang damai, sejahtera, dan harmonis,” tegasnya.

Lebih lanjut, Wahyu menekankan bahwa Nyepi merupakan momen sakral yang mengandung nilai spiritual mendalam. Melalui ritual Tawur Agung Kesanga dan kirab ogoh-ogoh, umat diajak melakukan penyucian diri serta menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam semesta.

Nilai tersebut dinilai sangat relevan dalam kehidupan masyarakat Kota Malang yang majemuk.

“Ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus menjaga toleransi, memperkuat persaudaraan, dan merawat harmoni dalam keberagaman,” imbuhnya.

Ia juga menyinggung filosofi Catur Brata Penyepian. Yakni, amati geni, amati karya, amati lelungan, dan amati lelanguan yang mengajarkan pengendalian diri dan perenungan mendalam sebagai bekal dalam kehidupan.

Menariknya, perayaan Nyepi tahun ini beriringan dengan bulan suci Ramadan. Wahyu menyebut momentum ini sebagai simbol nyata kekuatan kebhinekaan di Kota Malang.

“Keduanya mengajarkan nilai yang sama, yakni pengendalian diri dan kepedulian terhadap sesama. Ini adalah kekayaan sekaligus kebanggaan bagi Kota Malang dan Malang Raya,” ungkapnya.

Ia pun mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga semangat gotong royong dan kebersamaan.

“Dengan semangat persatuan, mari kita rawat toleransi dan persaudaraan demi mewujudkan Kota Malang yang damai, harmonis, dan sejahtera,” tandasnya.

Di akhir sambutannya, Wahyu kembali menyampaikan apresiasi kepada panitia.

“Saya menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Parisada Hindu Dharma Indonesia Kota Malang selaku panitia penyelenggara yang telah menyelenggarakan kegiatan ini,” pungkasnya.

Kirab ogoh-ogoh yang diberangkatkan dari Rampal itu pun tak sekadar menjadi tontonan tahunan. Lebih dari itu, ia menjadi simbol kuat bahwa di tengah perbedaan, masyarakat Kota Malang tetap menjunjung tinggi persaudaraan dan harmoni.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *