Politik

Belajar dari Sejarah, Bergerak untuk Masa Depan: Aksi PDI Perjuangan Kota Malang di Madyopuro

20
×

Belajar dari Sejarah, Bergerak untuk Masa Depan: Aksi PDI Perjuangan Kota Malang di Madyopuro

Share this article
Belajar dari Sejarah, Bergerak untuk Masa Depan: Aksi PDI Perjuangan Kota Malang di Madyopuro
Ketua DPRD Kota Malang, Amithya Ratnanggani Sirraduhita, menanam pohon sukun di bantaran sungai kawasan Makam Ki Ageng Gribig, Kelurahan Madyopuro, Jumat (23/1/2026), dalam aksi “Merawat Pertiwi” yang digelar DPC PDI Perjuangan Kota Malang.(foto:sudutkota.id/mit)

Sudutkota.id – Peringatan Hari Ulang Tahun Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, dimaknai secara reflektif dan substantif oleh DPC PDI Perjuangan Kota Malang.

Tidak sekadar seremoni, peringatan tersebut diwujudkan melalui rangkaian kegiatan ziarah sejarah dan aksi nyata pelestarian lingkungan di Kelurahan Madyopuro, Jumat (23/1/2026).

Rangkaian kegiatan diawali dengan ziarah ke makam Ki Ageng Gribig, salah satu tokoh penting dalam sejarah Malang. Ketua DPRD Kota Malang Amithya Ratnanggani Sirraduhita bersama jajaran pengurus DPC PDI Perjuangan Kota Malang dan kader partai memanjatkan doa sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai kepemimpinan, kearifan lokal, serta warisan sejarah yang ditinggalkan para leluhur.

“Di Madyopuro ini ada sejarah tentang pemimpin dan tokoh penting Kota Malang. Kami ingin memulai peringatan ulang tahun Ibu Megawati dari tempat yang memiliki nilai sejarah dan spiritual,” ujar Amithya pada Sudutkota.id, disela kegiatan.

Usai ziarah, kegiatan dilanjutkan dengan penanaman pohon di bantaran sungai kawasan RW 03, 04, dan 05 Kelurahan Madyopuro, tepat di sekitar area Makam Ki Ageng Gribig. Aksi ini mengusung tema “Merawat Pertiwi”, sebagai refleksi kepedulian terhadap kondisi lingkungan yang kian rentan.

Sebanyak 50 pohon sukun ditanam di satu titik sebagai langkah awal gerakan penghijauan. Menurut Amitya, tema Merawat Pertiwi merupakan pesan langsung dari Ketua Umum PDI Perjuangan yang disampaikan dalam Rakernas I, di mana persoalan lingkungan menjadi perhatian serius.

“Ibu Megawati sangat concern terhadap kondisi lingkungan saat ini. Banjir terjadi di mana-mana, cuaca ekstrem, dan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan semakin menurun. Itu menjadi alarm bagi kita semua,” tegasnya.

Amitya mengungkapkan, pemilihan Madyopuro bukan tanpa alasan. Selain memiliki nilai sejarah, wilayah ini juga tercatat sebagai salah satu kawasan yang terdampak banjir pada tahun 2024 akibat luapan sungai dan perubahan kondisi lingkungan.

“Kami tidak ingin kejadian banjir itu terulang lagi. Karena itu kami mulai dari wilayah pinggir sungai seperti ini,” jelasnya.

Ia juga menyoroti upaya swadaya masyarakat yang telah membangun benteng atau tanggul sederhana untuk menahan aliran air agar tidak masuk ke kawasan permukiman. Namun demikian, Amitya menilai langkah tersebut tetap memerlukan dukungan kebijakan yang lebih komprehensif dari pemerintah.

“Masyarakat sudah berupaya membuat benteng agar air tidak mudah masuk ke rumah warga. Tapi ini juga perlu menjadi perhatian pemerintah, termasuk soal normalisasi sungai dan penataan ulang alur sungai,” ungkapnya.

Terkait jenis tanaman, pohon sukun dipilih karena dinilai memiliki fungsi ekologis yang kuat. Selain sebagai pohon pelindung, sukun memiliki akar yang kokoh dan tajuk lebar sehingga efektif untuk membantu menjaga kestabilan tanah dan aliran air di bantaran sungai.

“Sukun itu pohon pelindung yang sangat baik dan cocok untuk wilayah seperti ini,” tambahnya.

Penanaman pohon di Madyopuro ini menjadi titik awal. Ke depan, DPC PDI Perjuangan Kota Malang berencana menjadikan gerakan penghijauan sebagai program rutin sepanjang tahun yang akan digelar di berbagai wilayah Kota Malang.

“Nanti tidak hanya di sini. Ini akan kami lakukan di seluruh bagian Kota Malang dan menjadi program khusus DPC PDI Perjuangan Kota Malang,” pungkas Amithya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *