JAKARTA, Sudutkota.id – Anggota DPD RI Daerah Istimewa Yogyakarta, Dr. H. Hilmy Muhammad, M.A., menyoroti rendahnya kesopanan digital dan ancaman kesehatan mental generasi Z.
Hal itu disampaikan saat berdialog dengan sekitar 100 mahasiswa Manajemen Dakwah UIN Sunan Kalijaga di Kantor DPD RI DIY, Selasa (20/10/2026).
Dalam agenda Campus Goes to DPD RI, Gus Hilmy menilai algoritma media sosial, budaya konsumtif, dan polarisasi informasi memengaruhi perilaku anak muda. Ia juga mengingatkan maraknya akun anonim yang dapat memperburuk etika komunikasi di ruang digital.
“Yang parah adalah data atau laporan dari Digital Civility Index yang menempatkan kita bangsa Indonesia yang dulu dikenal ramah, sopan. Hari ini dikenal menempatkan tingkat kesopanan digital kita berada di posisi yang rendah se-Asia Tenggara,” ujarnya.
Gus Hilmy turut menyoroti penggunaan gawai berlebihan yang dapat memicu fear of missing out (FOMO), tekanan menjaga citra diri, dan kecemasan menghadapi masa depan.
“Data menunjukkan sekitar 40 persen generasi ini mencemaskan masa depannya. Ketergantungan gadget membuat mereka kelebihan informasi dan takut tertinggal tren. Ini alarm nyata yang harus kita waspadai bersama,” katanya.
Ia menegaskan, nilai Pancasila perlu diterapkan dalam aktivitas digital, mulai dari menghormati orang lain hingga menghindari perundungan siber dan ujaran kebencian berbasis suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).
“Kita kuliah Pancasila, kuliah etika Pancasila. Ini diharapkan kita bisa mencerminkan sikap dan perilaku kita betul-betul menjadi perilaku manusia Indonesia yang Pancasilais ya,” ujar Gus Hilmy.
Akademisi Universitas Islam Indonesia (UII), Allan Fatchan Gani Wardhana, mengajak mahasiswa menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah berdasarkan bukti dan data.
Ia juga mendorong kebiasaan membaca, menulis, dan berdiskusi serta pemanfaatan jalur konstitusional. Dosen UIN Sunan Kalijaga, Muhammad Toriq Nurmadiansyah, menambahkan bahwa kunjungan tersebut bertujuan membantu mahasiswa memahami proses politik secara langsung.
Dialog juga membahas ruang gema (echo chamber), etika kritik di media sosial, risiko hoaks, pencemaran nama baik, dan perlindungan kebebasan berpendapat. Kegiatan ditutup dengan sosialisasi kanal penyerapan aspirasi konstituen serta pengenalan fasilitas Kantor DPD RI DIY.





















