Nasional

Pasien Indonesia Pilih Berobat ke Penang, Irma Soroti Biaya dan Pelayanan Kesehatan Dalam Negeri

8
×

Pasien Indonesia Pilih Berobat ke Penang, Irma Soroti Biaya dan Pelayanan Kesehatan Dalam Negeri

Share this article
Anggota BURT DPR Irma Suryani Chaniago saat mengikuti pertemuan BURT DPR dengan jajaran direksi RS Sentra Medika Hospital di Cibinong, Kabupaten Bogor. (Foto: DPR RI)

JAKARTA, Sudutkota.id – Kemampuan tenaga medis Indonesia dinilai tidak kalah dengan negara lain. Namun, masih banyak masyarakat yang memilih berobat ke luar negeri, termasuk Penang, Malaysia. Kondisi tersebut menjadi tanda bahwa persoalan daya saing layanan kesehatan nasional tidak semata-mata terletak pada kemampuan dokter.

Anggota Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR RI Irma Suryani Chaniago menilai pemerintah perlu melihat lebih jauh faktor yang membuat masyarakat rela mengeluarkan biaya dan pergi ke luar negeri untuk mendapatkan layanan kesehatan.

Hal itu disampaikan Irma saat mengikuti pertemuan BURT DPR RI dengan jajaran Direksi RS Sentra Medika Hospital, Cibinong, Kabupaten Bogor, Rabu (26/8/2026).

“Jika kita menilai dari sisi keahlian medis, Indonesia sebenarnya memiliki kemampuan yang tidak kalah dibandingkan negara lain. Kita punya hal-hal yang luar biasa dibandingkan negara lain,” ujar Irma.

Menurut politikus Fraksi Partai NasDem tersebut, salah satu persoalan yang perlu dibenahi adalah struktur biaya layanan kesehatan. Ia meminta pemerintah mempelajari kebijakan Malaysia yang mampu membuat biaya pengobatan di Penang lebih kompetitif.

Irma mendorong pemerintah memberikan stimulus dan diskresi kepada rumah sakit, baik milik pemerintah maupun swasta, terutama dalam persoalan pajak alat kesehatan dan obat-obatan. Kebijakan tersebut dinilai dapat membantu rumah sakit menekan biaya pelayanan sehingga masyarakat tidak memiliki alasan kuat untuk mencari pengobatan ke luar negeri hanya karena persoalan biaya.

Namun, daya saing layanan kesehatan tidak berhenti pada persoalan tarif. Cara dokter berkomunikasi dengan pasien juga dinilai turut menentukan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan dalam negeri.

Irma meminta tenaga medis lebih bijak ketika menyampaikan diagnosis maupun pilihan pengobatan. Di sisi lain, pasien juga harus lebih aktif memahami kondisi dan tindakan medis yang akan dijalani.

“Dokternya harus bijak dan pasiennya harus pintar. Kalau misalnya dokter mengatakan sesuatu, mendiagnosa sesuatu, pasien harus tanya, ini untuk apa? Obat ini efeknya seperti apa?” katanya.

Menurut Irma, komunikasi dua arah tersebut penting agar pasien tidak hanya menerima keputusan medis secara pasif. Pasien perlu mengetahui tujuan pengobatan, efek samping obat hingga kemungkinan interaksi dengan kondisi kesehatan lainnya.

Persoalan daya saing layanan kesehatan juga tidak dapat dipisahkan dari kondisi tenaga kesehatan di daerah. Sebagai Anggota Komisi IX DPR RI yang membidangi kesehatan, Irma menyoroti masih adanya tenaga kesehatan yang menerima penghasilan sangat rendah.

“Di daerah itu masih ada pegawai kesehatan, perawat dengan gaji Rp300 ribu sebulan. Kan itu harus diperbaiki,” tegasnya.

Irma menilai pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu mencari solusi bersama meskipun sebagian kewenangan kesehatan berada di daerah. Menurutnya, transfer ke daerah dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperbaiki kesejahteraan tenaga kesehatan.

Pada akhirnya, menurut Irma, upaya menahan masyarakat agar tidak berobat ke luar negeri tidak cukup dengan membangun fasilitas atau menambah tenaga medis. Pemerintah perlu memastikan layanan kesehatan dalam negeri kompetitif dari sisi biaya, kualitas pelayanan, komunikasi dokter-pasien, sekaligus memberikan kesejahteraan yang layak bagi tenaga kesehatan.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *