Teknologi

Ramadan di Era Algoritma: Ledakan Konten Digital Ubah Cara Umat Menjalani Ibadah

11
×

Ramadan di Era Algoritma: Ledakan Konten Digital Ubah Cara Umat Menjalani Ibadah

Share this article
Ramadan di Era Algoritma: Ledakan Konten Digital Ubah Cara Umat Menjalani Ibadah
Ilustrasi aktivitas kreator membuat konten Ramadan di media sosial menunjukkan perubahan cara masyarakat menjalani bulan suci di era digital.(foto:sudutkota.id/ris)

Sudutkota.id – Bulan Ramadan kini tidak hanya menjadi momentum spiritual, tetapi juga panggung besar bagi ledakan konten digital di media sosial.

Pengamat komunikasi digital mengatakan, fenomena ini terlihat dari meningkatnya aktivitas kreator yang memproduksi video religi, kuliner, hingga promosi dagang selama bulan puasa, seiring perubahan cara masyarakat mengakses informasi dan hiburan secara daring.

Menurut data platform TikTok, aktivitas pengguna meningkat signifikan selama Ramadan. Bahkan konsumsi konten video tercatat melonjak hingga 54 persen dibanding bulan biasa.

Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa Ramadan telah menjadi musim interaksi digital yang mendorong masyarakat lebih aktif mencari inspirasi, hiburan, dan edukasi melalui media sosial. Lonjakan itu juga tercermin pada jumlah unggahan yang terus meningkat setiap tahun.

Pada pekan pertama Ramadan 2026 saja, tercatat lebih dari 72 juta video diunggah ke TikTok, sementara siaran langsung ditonton lebih dari dua miliar kali. Ini menandakan besarnya peran platform digital dalam membentuk pengalaman Ramadan masyarakat modern.

Fenomena tersebut tidak lepas dari besarnya penetrasi media sosial di Indonesia. Data menunjukkan pengguna media sosial di Indonesia telah mencapai lebih dari 191 juta orang atau sekitar 68,9 persen populasi, menjadikan ruang digital sebagai arena utama penyebaran pesan, tren, dan budaya Ramadan.

Selain konten religi, Ramadan juga menjadi momentum ekonomi digital. Studi TikTok mencatat sekitar 67 persen pengguna cenderung berbelanja lebih banyak selama Ramadan.

Sementara konten makanan dan minuman menjadi kategori paling diminati hingga mencapai 86 persen pengguna. Ini memperlihatkan bahwa aktivitas ibadah kini berjalan berdampingan dengan konsumsi digital.

Di sisi lain, fenomena viral seperti perburuan takjil lintas agama hingga meme Ramadan, menunjukkan media sosial mampu membentuk narasi kebersamaan sekaligus tren budaya baru. Hal ini menandakan Ramadan di era digital tidak hanya dipraktikkan di ruang ibadah, tetapi juga di ruang algoritma yang mempengaruhi perilaku publik.

Pengamatan tersebut menilai perubahan ini bukan sekadar tren teknologi, melainkan transformasi sosial yang mempengaruhi cara masyarakat memahami Ramadan, dari ritual kolektif di ruang fisik menjadi pengalaman spiritual sekaligus sosial yang terhubung melalui layar gawai.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *