Daerah

Waspada Virus Nipah, Dinkes Kota Malang Imbau Warga Hindari Buah Jatuh dan Konsumsi Daging Setengah Matang

13
×

Waspada Virus Nipah, Dinkes Kota Malang Imbau Warga Hindari Buah Jatuh dan Konsumsi Daging Setengah Matang

Share this article
Waspada Virus Nipah, Dinkes Kota Malang Imbau Warga Hindari Buah Jatuh dan Konsumsi Daging Setengah Matang
Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, dr. Husnul Muarif, saat diwawancarai sudutkota.id, Senin (2/2/2026).(foto:sudutkota.id/mit)

Sudutkota.idDinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyebaran virus Nipah. Hal ini menyusul adanya surat edaran kewaspadaan dari Kementerian Kesehatan RI.

Meski hingga kini belum ditemukan kasus di Indonesia, potensi penularan tetap harus diantisipasi.

Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Malang, dr. Husnul Muarif, mengatakan virus Nipah pertama kali ditemukan pada tahun 1998–1999 di Malaysia, tepatnya di wilayah Nipah, Negeri Sembilan. Sejak itu, penyebaran virus tersebut dilaporkan terjadi di sejumlah negara seperti India, Bangladesh, dan Malaysia.

“Untuk Indonesia sendiri memang belum ada laporan penemuan kasus virus Nipah. Namun kita tetap harus waspada, karena reservoir atau inang utama virus ini adalah kelelawar,” ujar dr. Husnul saat diwawancarai sudutkota.id, Senin (2/2/2026).

Ia menjelaskan, penularan virus Nipah tidak terjadi melalui udara, melainkan melalui perantara makanan. Kelelawar yang memakan buah dapat meninggalkan sisa gigitan atau air liur pada buah, yang kemudian jatuh ke tanah dan dikonsumsi manusia atau dimakan oleh hewan ternak.

“Buah yang sudah dimakan kelelawar lalu jatuh, atau dimakan binatang lain kemudian binatang itu dikonsumsi manusia, itu bisa menjadi jalur penularan,” jelasnya.

Menurut dr. Husnul, masa inkubasi virus Nipah berkisar antara tiga hingga dua belas hari sejak virus masuk ke tubuh. Gejala awal biasanya berupa demam, sakit kepala, dan nyeri otot yang berlangsung sekitar satu minggu. Pada minggu berikutnya, kondisi dapat berkembang menjadi gangguan neurologis, pernapasan, hingga sistemik yang lebih berat.

“Awalnya seperti demam biasa, tapi minggu kedua bisa berkembang ke gangguan saraf atau respirasi. Ini yang harus diwaspadai,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa di Kota Malang masih terdapat populasi kelelawar, terutama saat musim buah seperti mangga. Karena itu, masyarakat diminta tidak sembarangan mengonsumsi buah yang jatuh atau menunjukkan bekas gigitan.

“Untuk warga Kota Malang, hindari mengonsumsi buah jatuh, terutama saat musim buah. Selain itu, konsumsi daging juga harus dimasak benar-benar matang untuk meminimalkan risiko penularan,” pungkasnya.

Dinkes Kota Malang memastikan akan terus melakukan pemantauan dan sosialisasi kepada masyarakat sebagai langkah pencegahan dini, seiring meningkatnya kewaspadaan nasional terhadap potensi penyakit zoonosis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *