Daerah

Wali Kota Malang Tegaskan Alun-Alun Bukan Sekadar Taman, PKL dan Parkir Jadi PR Besar Pasca Revitalisasi

9
×

Wali Kota Malang Tegaskan Alun-Alun Bukan Sekadar Taman, PKL dan Parkir Jadi PR Besar Pasca Revitalisasi

Share this article
Wali Kota Malang Tegaskan Alun-Alun Bukan Sekadar Taman, PKL dan Parkir Jadi PR Besar Paska Revitalisasi
Wali Kota Malang, Dr. Ir. Wahyu Hidayat menyapa dan berinteraksi langsung dengan anak-anak usai peresmian revitalisasi Alun-Alun Merdeka, Rabu (28/1/2026) malam.(foto:sudutkota.id/mit)

Sudutkota.idWali Kota Malang Dr. Ir. Wahyu Hidayat menegaskan bahwa revitalisasi Alun-Alun Merdeka bukan sekadar proyek penataan taman kota, melainkan upaya membangun ruang publik yang hidup, edukatif, dan memiliki rasa kepemilikan kuat dari masyarakat.

Hal itu disampaikan Wahyu saat peresmian Alun-Alun Merdeka, Rabu malam (28/1/2026), yang langsung dipadati ribuan warga dari berbagai kalangan. Anak-anak tampak memenuhi arena bermain, sementara keluarga menikmati pemandangan dan air mancur yang menjadi ikon baru kawasan tersebut.

“Silakan masyarakat menikmati. Anak-anak bisa bermain, menikmati pemandangannya, air mancurnya juga luar biasa. Setiap kali mereka datang, yang terlihat adalah kebahagiaan,” ujar Wahyu.

Namun demikian, Wahyu mengingatkan bahwa keberhasilan revitalisasi tidak hanya diukur dari ramainya pengunjung, melainkan dari kemampuan menjaga dan merawat fasilitas bersama.

“Perjalanan ini tidak semata-mata dari pemerintah. Ini hasil dari semua komunitas. Kita merangkul semuanya. Tapi yang paling penting, rasa memiliki itu harus ada sejak hari pertama,” tegasnya.

Menurutnya, membangun fasilitas publik relatif lebih mudah dibandingkan memastikan keberlanjutan pengelolaannya.

“Membangun itu mudah, memelihara jauh lebih sulit. Kalau masyarakat merasa memiliki, maka mereka akan menjaga dan merawatnya,” imbuh Wahyu.

Wahyu menjelaskan, konsep revitalisasi Alun-Alun Merdeka dirancang tidak hanya sebagai ruang rekreasi, tetapi juga ruang edukasi, ruang sejarah, dan ruang sosial.

Beberapa elemen historis alun-alun tetap dipertahankan, termasuk bagian-bagian lama yang menjadi saksi awal berdirinya kawasan tersebut.

“Ada unsur sejarah yang tetap kami jaga. Meski kondisinya rapuh, kami perbaiki tanpa menghilangkan bentuk aslinya. Ini bagian dari edukasi sejarah,” jelasnya.

Ke depan, alun-alun juga akan dilengkapi area membaca dan titik-titik edukasi, sehingga masyarakat tidak hanya bermain, tetapi juga belajar dan berinteraksi.

“Orang bisa olahraga, belajar, berkumpul, berkomunikasi, bahkan kegiatan ritual keagamaan juga bisa dilakukan di sini, termasuk saat ibadah,” kata Wahyu.

Selain fungsi sosial, Alun-Alun Merdeka juga diperkuat sebagai ruang terbuka hijau dan area resapan air di tengah kepadatan Kota Malang.

“Ini edukasi lingkungan. Di tengah kota harus tetap ada resapan air. Ini bagian dari keseimbangan,” ujarnya.

Revitalisasi juga menghadirkan sejumlah fasilitas baru, seperti air mancur, tambahan arena bermain anak, pembaruan jalur pedestrian, ruang menyusui, serta perbaikan toilet umum dan area berteduh yang sebelumnya dikeluhkan masyarakat.

Meski demikian, Wahyu secara terbuka mengakui bahwa revitalisasi belum sepenuhnya tuntas. Penataan pedagang kaki lima (PKL) dan parkir disebut masih menjadi pekerjaan rumah besar Pemerintah Kota Malang.

“PR kita jelas PKL dan parkir. Ini sudah kami kaji bertahun-tahun dan ada beberapa alternatif lokasi yang tidak jauh dari radius alun-alun,” ungkapnya.

Ia memastikan pemerintah tidak akan lepas tangan, namun penataan PKL akan dilakukan secara bertahap dan melalui dialog dengan masyarakat agar tidak memicu konflik baru.

“Kalau langsung diumumkan sekarang, pasti pro-kontra. Maka ini akan terus kami bahas dan komunikasikan,” katanya.

Menurut Wahyu, ke depan kawasan pusat Kota Malang akan dibangun sebagai satu kesatuan ruang, yang saling terhubung antara stasiun, Balai Kota, kawasan heritage, alun-alun, hingga pusat aktivitas ekonomi rakyat.

“Orang berjalan dari stasiun ke alun-alun, ke Balai Kota, itu satu rangkaian. PKL juga tidak ditumpuk di satu titik, tapi disebar di beberapa spot,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *