Sudutkota.id – Wajah pariwisata Kota Malang tengah berada di persimpangan. Di satu sisi, nama besar kota ini masih jadi magnet wisata. Namun di sisi lain, sejumlah destinasi justru mulai kehilangan denyut. Sepi, meredup bahkan mati suri.
Fenomena ini menjadi tamparan keras bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Malang. Banyaknya destinasi wisata, khususnya kampung tematik, ternyata belum dibarengi dengan penataan dan pengelolaan yang matang.
Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang, Baihaqi, tak menampik kondisi tersebut. Ia menyebut, hanya beberapa destinasi yang masih mampu bertahan dan terus bergerak.
“Yang masih berjalan seperti Kampung Warna-Warni Jodipan, Kampung Tridi, Kampung Biru Arema, Kajoetangan Heritage, hingga Kampung Sanan Tempe. Tapi ini tidak bisa dibiarkan berjalan apa adanya,” tegasnya, Sabtu (28/3/2026).
Menurutnya, tanpa sentuhan serius, destinasi wisata lokal akan kehilangan daya saing. Apalagi, tren wisata saat ini bergerak cepat, menuntut inovasi, pengalaman unik, dan kenyamanan.
Baihaqi menekankan, era wisata berbasis viralitas semata sudah lewat. Kini, setiap destinasi dituntut punya karakter kuat dan identitas yang konsisten. Tanpa itu, wisata hanya akan ramai sesaat, lalu ditinggalkan.
“Perlu pembinaan berkelanjutan. Pengelola harus diperkuat, potensi lokal digali. Kalau tidak, akan habis pelan-pelan,” ujarnya.
Ia menilai, banyak kampung tematik yang dulunya booming karena efek media sosial, namun gagal mempertahankan eksistensi karena minim inovasi dan manajemen.
Di lapangan, persoalan klasik masih jadi momok. Mulai dari minimnya kantong parkir hingga penataan pedagang kaki lima (PKL) yang belum tertib.
Kondisi ini tak hanya mengganggu estetika, tapi juga kenyamanan wisatawan. Sebagai kota dengan ruang terbatas, Malang tidak punya banyak pilihan selain melakukan penataan berbasis regulasi yang ketat dan terukur.
“Harus ada aturan jelas. Tidak bisa dibiarkan tumbuh tanpa arah,” imbuh Baihaqi.
Pemkot Malang kini menyiapkan langkah strategis: menyusun Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Daerah (RIPPDA) sebagai master plan besar.
Dokumen ini diharapkan menjadi peta jalan pengembangan wisata yang terintegrasi mulai dari infrastruktur, pengelolaan, hingga penguatan SDM.
Sebenarnya, kajian RIPPDA sudah sempat dilakukan pada 2019. Namun pandemi Covid-19 membuatnya terhenti. Kini, wacana itu kembali dihidupkan di tengah kondisi wisata yang mulai “kehabisan bensin”.
Sambil menunggu penyusunan rampung, Pemkot tetap bergerak. Penguatan dilakukan lewat APBD dan kolaborasi dengan pihak swasta melalui program CSR.
Beberapa destinasi seperti Kajoetangan Heritage, Kampung Warna-Warni Jodipan, dan Kampung Topeng sudah merasakan intervensi ini.
Dorongan politik juga menguat. Ketua DPRD Kota Malang, Amithya Ratnanggani Sirraduhita, memastikan RIPPDA masuk agenda prioritas 2026.
“Semua destinasi harus terdata, terukur, dan punya arah pengembangan yang jelas,” ujarnya.
DPRD pun terus mengawal, termasuk fokus pada penguatan Kajoetangan Heritage yang kini jadi salah satu ikon wisata unggulan Kota Malang.
Kondisi saat ini menjadi titik krusial. Jika dibiarkan tanpa pembenahan serius, bukan tidak mungkin deretan kampung tematik hanya tinggal nama.
Namun sebaliknya, jika master plan benar-benar dijalankan dengan konsisten, Kota Malang punya peluang besar untuk bangkit bukan sekadar ramai sesaat, tapi menjadi destinasi yang hidup, berkarakter, dan berkelanjutan. Kini, pilihannya jelas: berbenah atau perlahan ditinggalkan





















