Daerah

Idul Adha Bukan Sekadar Kurban, Ini Soal Rakyat dan Ajaran Sang Proklamator

262
×

Idul Adha Bukan Sekadar Kurban, Ini Soal Rakyat dan Ajaran Sang Proklamator

Share this article
Tak banyak yang menyadari, Hari Raya Idul Adha tahun ini bertepatan dengan tanggal lahir Sang Proklamator, Ir. Soekarno. Tapi bagi Ir. Andreas Eddy Susetyo, momen ini bukan sekadar kebetulan.
Ir. Andreas Eddy Susetyo, anggota DPRD RI Fraksi PDI Perjuangan dapil Malang Raya.(foto:sudutkota.id/mit)

Sudutkota.id – Tak banyak yang menyadari, Hari Raya Idul Adha tahun ini bertepatan dengan tanggal lahir Sang Proklamator, Ir. Soekarno. Tapi bagi Ir. Andreas Eddy Susetyo, momen ini bukan sekadar kebetulan.

Ada pesan yang dalam dan relevan, bahwa kurban bukan hanya soal menyembelih hewan, tapi tentang semangat pengorbanan dan keberpihakan pada rakyat sebagaimana selalu diajarkan Bung Karno.

“Ini bukan soal potong sapi atau kambing. Ini soal gotong royong, soal berbagi, dan soal kita kembali mengingat ajaran Bung Karno, bahwa kekuatan sejati bangsa ini ada di rakyat,” ujar Andreas, usai menyerahkan hewan kurban dalam rangkaian kegiatan Idul Adha di Malang Raya, Jumat (6/6/2025).

Andreas, yang kini menjabat sebagai Ketua Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) DPR RI dan anggota Komisi XI DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, menyebut kurban sebagai bagian dari tradisi ideologis, bukan sekadar seremoni tahunan.

Di sejumlah titik, seperti lokasi pemotongan dan pembagian kurban, daging dibagikan langsung ke masyarakat. Kelompok adat hingga warga pelosok Malang Selatan turut menerima manfaat.

“Konsepnya sederhana, potong dan bagi. Supaya semua bisa merasakan kebahagiaan, tanpa terkecuali. Ini bentuk nyata bahwa kami hadir, bukan hanya saat kampanye,” tegasnya.

Tahun ini, DPC PDI Perjuangan Kota Malang menyalurkan berbagai jenis hewan kurban, mulai dari sapi hingga kambing. Sebagian langsung diserahkan ke masjid-masjid, sebagian lagi diproses oleh panitia untuk didistribusikan kepada masyarakat.

Menurut Andreas, setiap wilayah memiliki pendekatan berbeda dalam pelaksanaan kurban. “Kalau di sini, panitianya sudah punya sistem. Tapi di wilayah lain, pengurus daerah menyesuaikan. Intinya sama, berbagi. Karena hari ini bukan cuma Iduladha. Ini juga hari lahir Bung Karno. Hari yang mengingatkan kita bahwa bangsa besar adalah bangsa yang tidak melupakan akar dan ajarannya,” kata Andreas.

Ia juga menanggapi kritik terhadap partainya. “Kalau ada yang bilang partai ini tidak peduli rakyat, datanglah ke sini, lihat sendiri. Kami selalu hadir di momen-momen penting rakyat. Dan bukan sekadar bagi-bagi, tapi memahami esensinya: bahwa berbagi itu adalah bentuk keberpihakan,” bebernya.

Andreas menambahkan, tradisi kurban juga dijalankan secara konsisten di tingkat pusat partai. “Karena Bung Karno mengajarkan, kekuasaan bukan untuk kekuasaan itu sendiri. Tapi harus kembali ke rakyat,” ujar Andreas.

Hari Raya Kurban tahun ini terasa berbeda. Ada semangat ideologis yang mengalir bersama aroma sate dan gulai. Potongan daging kurban bukan sekadar santapan, tapi juga harapan agar semangat pengorbanan dan keberpihakan kepada wong cilik tak pernah padam. Seperti semangat Bung Karno, yang lahir 6 Juni 1901, dan tetap hidup hingga hari ini.(mit)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *