Ekonomi Bisnis

Diskopindag Kota Malang Dihadapkan PR Besar UMKM Naik Kelas, Jadikan Ekspor Sebagai Solusi

14
×

Diskopindag Kota Malang Dihadapkan PR Besar UMKM Naik Kelas, Jadikan Ekspor Sebagai Solusi

Share this article
Diskopindag Kota Malang Dihadapkan PR Besar UMKM Naik Kelas, Jadikan Ekspor Sebagai Solusi
Kepala Diskopindag Kota Malang, Eko Sri Yuliadi.(foto:sudutkota.id/mit)

Sudutkota.idDinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang menjadikan ekspor sebagai salah satu solusi utama untuk mendorong pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) naik kelas pada 2026.

Namun di balik target ambisius tersebut, Diskopindag masih dihadapkan pada pekerjaan rumah (PR) besar menyusul minimnya capaian UMKM naik kelas pada tahun sebelumnya.

Kepala Diskopindag Kota Malang, Eko Sri Yuliadi, mengungkapkan bahwa dari sekitar 40 ribu UMKM yang ada di Kota Malang, pihaknya menargetkan 10 persen atau sekitar 4.000 UMKM mampu naik kelas pada 2026.

“UMKM adalah penopang utama perekonomian Kota Malang. Karena itu, pada 2026 kami menargetkan sekitar 4.000 UMKM bisa naik kelas,” ujar Eko saat dikonfirmasi Sudutkota.id di depan Gedung DPRD Kota Malang, Kamis (22/1/2026).

Namun, target tersebut menjadi sorotan lantaran capaian pada 2025 dinilai masih jauh dari harapan. Sepanjang tahun lalu, jumlah UMKM Kota Malang yang berhasil naik kelas tercatat baru sekitar 100 pelaku usaha.

Menanggapi hal itu, Diskopindag akan memperkuat strategi pendampingan sebagai langkah percepatan. Pada 2026, program pendampingan tidak hanya dilanjutkan, tetapi juga diperluas dengan menyasar 50 hingga 100 UMKM dalam satu periode pembinaan.

Pendampingan diarahkan lebih fokus dan mendalam, terutama pada peningkatan kualitas kemasan, penguatan branding, serta strategi pemasaran digital agar UMKM mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

“Pendampingan tidak boleh hanya formalitas. UMKM harus benar-benar siap dari sisi produk, pemasaran, hingga legalitas usaha,” tegasnya.

Selain pasar domestik, Diskopindag juga menaruh harapan besar pada sektor ekspor. Hingga 2025, tercatat 95 UMKM asal Kota Malang telah menembus pasar internasional, dengan produk unggulan berupa keripik olahan tempe dan produk kriya. Nilai ekspor UMKM Kota Malang pun mencapai sekitar Rp100 Miliar.

Pada 2026, Diskopindag menargetkan jumlah UMKM eksportir meningkat hingga 50 persen. Optimalisasi klinik ekspor akan menjadi strategi utama, seiring terbukanya peluang pasar ke sejumlah negara seperti Uni Emirat Arab, Malaysia, dan Selandia Baru.

“Peluang pasar sudah terbuka dan kerja sama luar negeri juga telah terjalin. Tantangannya adalah bagaimana UMKM bisa memenuhi standar dan konsisten,” pungkas Eko.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *