Daerah

Cabai Malang Tak Pernah Benar-Benar Aman, Ini Biang Keroknya

9
×

Cabai Malang Tak Pernah Benar-Benar Aman, Ini Biang Keroknya

Share this article
Cabai Malang Tak Pernah Benar-Benar Aman, Ini Biang Keroknya
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang, Slamet Husnan, saat memberikan pengarahan kepada salah seorang petani cabai di lahan pertanian Kota Malang.(foto:sudutkota.id/mit)

Sudutkota.id – Meski mampu memproduksi cabai hingga 3.000–4.000 ton per tahun, Kota Malang belum bisa sepenuhnya tenang soal pasokan. Fluktuasi panen dan ketergantungan pada mekanisme pasar membuat komoditas pedas ini tetap rawan gejolak harga.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang, Slamet Husnan, menegaskan produksi cabai tidak bisa dihitung secara sederhana hanya dari luas lahan. Pasalnya, setiap petani memiliki siklus tanam dan panen yang berbeda.

“Sebenarnya setiap masa tanam itu berbeda-beda. Di poktan ini sudah dua kali panen, nanti bisa sampai 30 kali panen. Sementara lahan lain belum panen. Jadi tidak bisa langsung ditotal,” ujar Slamet, Rabu (4/3/2026).

Ia menjelaskan, dalam satu lahan sekitar 4.000 meter persegi dengan kurang lebih 4.500 pohon cabai, produksi puncak bisa mencapai 3 kuintal per panen. Namun capaian tersebut baru terjadi pada panen ke-12 hingga ke-15. Pada panen awal, hasilnya jauh lebih kecil.

“Panen kedua itu hanya 80 kilogram. Sedangkan yang 3 kuintal itu hanya untuk lahan ini saja, bukan total keseluruhan,” jelasnya.

Secara akumulatif, produksi tahunan memang bisa mencapai ribuan ton. Namun kebutuhan cabai masyarakat Kota Malang juga tidak stabil. Ketika aktivitas mahasiswa meningkat, konsumsi ikut melonjak. Sebaliknya, saat aktivitas menurun, permintaan ikut melemah.

Di sisi lain, pasar cabai Malang masih sangat dipengaruhi pasokan dari luar daerah. Saat harga di Malang naik, pedagang dari berbagai wilayah langsung memasok cabai dalam jumlah besar.

“Begitu harga di Kota Malang naik dan dianggap bagus, cabai masuk. Begitu masuk banyak, harga turun. Seperti itu hukum pasar,” tegas Slamet.

Untuk meredam gejolak, Pemerintah Kota Malang mengandalkan program Warung Tekan Inflasi yang dikoordinasikan lintas OPD. Kerja sama antar daerah juga dijalin dengan sejumlah wilayah seperti Lumajang, Banyuwangi hingga Bali guna menjaga suplai.

Namun di tingkat petani, persoalan biaya produksi masih menjadi pekerjaan rumah. Keluhan soal mahalnya obat-obatan pertanian belum mendapat bantuan khusus dari pemerintah.

“Untuk obat mayoritas petani sendiri,” ungkap Slamet.

Meski demikian, Pemkot tetap memberikan dukungan lain setiap tahun, seperti bantuan benih cabai, tandon air melalui CSR Bank Indonesia, mulsa, hingga hand tractor. Bantuan ini penting mengingat sebagian besar lahan cabai di Kota Malang masih mengandalkan tadah hujan.

Dengan pola panen bertahap hingga puluhan kali dan kebutuhan yang naik turun mengikuti dinamika kota pendidikan, kondisi cabai di Malang memang belum sepenuhnya aman. Produksi boleh tinggi, tetapi stabilitas harga masih jauh dari kata terkendali.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *