Sudutkota.id – Aksi budaya bertajuk “Tumpengan Nutupi Wirang” digelar sejumlah sesepuh, tokoh budayawan, serta pelaku pelestarian budaya di depan Balai Kota Malang, Kamis (9/4/2026).
Kegiatan yang berlangsung secara gotong royong ini menjadi respons atas polemik penetapan busana khas Kota Malang pada momentum HUT ke-112.
Melalui tradisi tumpengan, para peserta menyuarakan keprihatinan sekaligus kritik moral terhadap kebijakan yang dinilai menyimpang dari nilai-nilai keluhuran budaya lokal, bahkan dianggap menimbulkan rasa malu (wirang) di tengah masyarakat.
Aksi ini diikuti berbagai komunitas budaya dengan suasana khidmat, sarat makna simbolik sebagai refleksi bersama atas jati diri Kota Malang.
Penggagas kegiatan, Wahyu Eko Setiawan atau Sam WES, menyebut aksi ini lahir dari kegelisahan mendalam para pegiat budaya. Menurutnya, penetapan busana khas yang dilakukan pemerintah dinilai terlalu jauh dari akar budaya Malang dan justru menguatkan unsur kolonial.
“Ini bentuk kepedulian sekaligus teguran. Ada rasa malu yang harus kita tutupi bersama karena nilai-nilai keluhuran seperti diabaikan,” ujarnya.
Kegiatan tersebut melibatkan berbagai elemen masyarakat. Diantaranya, Sekolah Budaya Tunggulwulung, Kampung Budaya Polowijen, Padepokan Among Jitun, Sanggar Mbah Jo Pusposariro, Pelestari Jogo Pepunden, Kejawen Maneges, hingga kelompok perempuan berkebaya dan wanita bersanggul.
Seluruh peserta hadir tanpa sekat, mengusung semangat kesetaraan dan kebersamaan.
Menanggapi aksi tersebut, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang, Suwarjana, memberikan penjelasan bahwa proses penetapan busana khas tidak dilakukan secara instan.
Ia menyebut, penyusunan konsep melibatkan kajian historis, kultural, hingga aspek desain yang disesuaikan dengan karakter Kota Malang sebagai kota modern yang memiliki latar belakang kolonial.
“Sejak awal kami mencoba merumuskan identitas yang memang khas Malang. Karena Malang ini bukan wilayah berbasis kerajaan seperti daerah lain di Jawa, maka pendekatannya berbeda. Kami menggali dari sejarah kota yang tumbuh pada masa kolonial, termasuk dari sisi arsitektur, gaya hidup, hingga busana pada masa itu, lalu kami padukan dengan unsur lokal agar tetap memiliki keterikatan dengan budaya setempat,” jelasnya.
Ia menambahkan, dalam prosesnya juga melibatkan sejumlah budayawan dan praktisi, seperti sejarawan, desainer, serta Dewan Kesenian, agar hasil yang ditetapkan tidak lepas dari pijakan akademis dan kultural.
“Nama-nama seperti Dwi Cahyono dari sisi sejarah, kemudian tim perancang desain, hingga Dewan Kesenian ikut memberikan masukan. Jadi ini bukan keputusan satu pihak, tapi hasil dari rangkaian diskusi internal yang cukup panjang,” katanya.
Terkait kritik yang muncul, termasuk aksi Tumpengan Nutupi Wirang, Suwarjana mengakui bahwa tidak dilaksanakannya forum diskusi publik secara luas sebelum penetapan menjadi salah satu kekurangan dalam proses tersebut.
“Kami akui memang belum sampai pada tahap uji publik secara terbuka. Mungkin ini yang kemudian memunculkan banyak persepsi di masyarakat, bahkan ada yang menilai terlalu condong ke kolonial. Padahal yang kami maksud adalah mengakomodasi sejarah secara utuh, bukan mengagungkan salah satu sisi saja,” terangnya.
Ia juga menegaskan bahwa aspek fungsional menjadi salah satu pertimbangan penting dalam desain busana tersebut, agar dapat digunakan dalam aktivitas masyarakat masa kini.
“Kami tidak hanya berpikir simbolik, tapi juga praktis. Bagaimana busana itu bisa dipakai bekerja, bergerak, tidak kaku seperti busana seremonial kerajaan. Itu juga jadi pertimbangan kenapa bentuknya seperti sekarang,” imbuhnya.
Meski menuai pro dan kontra, Suwarjana memastikan bahwa keputusan penetapan busana khas saat ini sudah bersifat final. Namun demikian, ia tetap membuka ruang evaluasi ke depan jika terdapat masukan yang konstruktif dari masyarakat.
“Untuk saat ini sudah ditetapkan, tapi bukan berarti tidak bisa disempurnakan. Kami terbuka terhadap masukan yang membangun. Dan terkait aksi yang dilakukan teman-teman budayawan, kami menghargai itu sebagai bagian dari dinamika dan kepedulian terhadap budaya,” pungkasnya.





















