Sudutkota.id – Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa menegaskan pentingnya menjadikan momentum Ramadan sebagai penggerak ekonomi rakyat sekaligus penguat pelestarian budaya.
Hal itu disampaikan Khofifah saat meninjau langsung Pasar Takjil Ramadan di Taman Krida Budaya, Kota Malang, Minggu (22/2/2026).
Kunjungan yang dimulai sekitar pukul 15.00 WIB tersebut dirangkaikan dengan buka puasa bersama para seniman serta Juru Pelihara Cagar Budaya. Kehadiran Khofifah pun langsung menyedot perhatian pengunjung dan pelaku UMKM yang memadati kawasan TKB.
Khofifah menilai geliat Pasar Takjil yang melibatkan ratusan pelaku usaha dari Malang Raya menjadi bukti nyata bahwa UMKM tetap menjadi tulang punggung ekonomi daerah, terutama saat Ramadan.
“Pasar takjil seperti ini menjadi ruang strategis bagi UMKM untuk tumbuh. Kita ingin perputaran ekonomi rakyat semakin kuat, khususnya di bulan Ramadan yang penuh berkah,” tegasnya.
Tercatat, sebanyak 150 stan kuliner meramaikan kegiatan yang berlangsung sejak 18 Februari hingga 17 Maret 2026 tersebut. Beragam menu berbuka mulai kolak, gorengan, nasi campur, kurma, jus hingga jajanan tradisional diserbu masyarakat setiap sore.
Menurut Khofifah, aktivitas ekonomi musiman seperti ini perlu terus didorong karena terbukti memberi dampak langsung bagi pelaku usaha kecil di daerah.
Selain menyoroti sektor ekonomi, Khofifah juga memberi perhatian khusus pada para pelaku seni tradisi dan Juru Pelihara Cagar Budaya. Ia menyebut mereka sebagai garda terdepan penjaga identitas Jawa Timur.
“Apresiasi ini adalah bentuk penghormatan atas dedikasi para seniman dan juru pelihara yang konsisten merawat warisan leluhur,” ujarnya.
Sebanyak 90 seniman dari berbagai cabang kesenian menerima apresiasi masing-masing Rp1 Juta. Sementara 20 Juru Pelihara Cagar Budaya memperoleh Rp1,5 Juta.
Khofifah berharap dukungan tersebut tidak hanya bernilai simbolis, tetapi juga mampu memotivasi generasi muda untuk tetap mencintai seni tradisi.
“Kita ingin anak-anak muda Jawa Timur tetap bangga dengan budayanya sendiri,” imbuhnya.
Dalam momentum yang sama, juga dilakukan penyerahan 46 Sertifikat Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Tahun 2025 kepada pemerintah kabupaten/kota penerima.
Khofifah menegaskan, penetapan WBTB bukan sekadar pengakuan administratif. Menurutnya, tantangan terbesar adalah memastikan praktik budaya tersebut tetap hidup di tengah arus modernisasi.
“Pengakuan WBTB bukan tujuan akhir. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana tradisi itu terus dipraktikkan, diwariskan, dan memberi manfaat sosial maupun ekonomi bagi masyarakat,” tandasnya.
Ia memastikan Pemerintah Provinsi Jawa Timur akan terus bersinergi dengan pemerintah daerah untuk memperkuat perlindungan dan pengembangan kebudayaan secara berkelanjutan.
Dengan kolaborasi tersebut, Khofifah optimistis Ramadan tidak hanya menghadirkan nilai spiritual, tetapi juga menjadi momentum nyata menggerakkan ekonomi rakyat sekaligus menjaga denyut budaya lokal di Jawa Timur.






















