Daerah

Dirut Perumda Kahyangan: Tidak Bangga Jika Belum Wujudkan Amanah Bupati Fawait

22
×

Dirut Perumda Kahyangan: Tidak Bangga Jika Belum Wujudkan Amanah Bupati Fawait

Share this article
Direktur Utama (Dirut) Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Kahyangan Gogot Cahyo Baskoro saat serah terima jabatan. (Foto: Dany for sudutkota.id)

Sudutkota.id – Direktur Utama (Dirut) Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Kahyangan Gogot Cahyo Baskoro mengaku tidak mau terlena dengan euforia jabatan yang kini diembannya. Pasalnya, kata Gogot, banyak tugas berat yang harus dilaksanakan sesuai amanah dan pesan yang disampaikan Bupati Jember Muhammad Fawait SE, MSc, saat proses penjaringan maupun saat pelantikan dirinya.

“Terus terang saya tidak bangga kalau belum bisa membuktikan sesuatu untuk PDP. Banyak tantangan yang harus dibenahi,” ujarnya saat sertijab di kantor Perumda Kahyangan,

Sertijab tersebut dihadiri tiga direksi baru. Selain Gogot selaku Dirut, juga dihadiri Dima Akhyar sebagai Direktur Umum dan Keuangan, serta Nyoman Aribowo sebagai Direktur Produksi dan Pemasaran. Hadir pula dalam Sertijab, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Ratno C. Sembodo, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama sebelumnya Danang Andri Asmara, beserta jajaran staf dan karyawan kantor Perumda Kahyangan.

Saat serah terima jabatan (sertijab) direksi baru, Gogot juga memilih digelar secara sederhana. Tidak ada jamuan mewah maupun hiburan musik dalam agenda pergantian pimpinan perusahaan daerah itu. Ini sebagai bentuk empati terhadap kondisi para buruh perkebunan yang dinilainya masih jauh dari kata sejahtera.

“Acara ini saya minta dikemas sederhana. Makanannya kotakan saja, tidak perlu prasmanan dan live musik. Saya ingin menjaga perasaan para buruh yang nasibnya masih jauh dari kata sejahtera,” ujar Gogot

Gogot menambahkan, amanah yang diterimanya justru menjadi tanggung jawab besar untuk membuktikan bahwa Perumda Kahyangan masih bisa bangkit dari berbagai persoalan yang membelit perusahaan selama bertahun-tahun.

Sebelumnya, Bupati Jember Muhammad Fawait juga wanti-wanti kepada jajaran direksi PDP Kahyangan yang baru agar turut memikirkan nasih pekerja perkebunan. Termasuk mencari cara agar Perumda Kahyangan bisa lebih baik dari sebelumnya. Termasuk ikut memikirkan dan membantu mengatasi kemiskinan warga pinggir kebun agar lebih berdaya secara ekonomi.

Gogot mengungkapkan, dirinya bukan sosok baru di lingkungan Perumda Kahyangan. Ia mengaku sudah membersamai perusahaan tersebut sejak sekitar 20 tahun lalu. Karena itu, sedikit banyak, dirinya memahami berbagai persoalan mendasar yang selama ini dihadapi perusahaan daerah tersebut, mulai dari persoalan manajemen, produktivitas, hingga fasilitas kerja yang minim.

Gogot sempat menyinggung kondisi ruang direksi yang menurutnya belum layak. “Saya lihat sendiri ruang direksi furniturnya tidak ada. Kalau ada tamu ngobrolnya bagaimana? Bukan berarti kami meminta fasilitas berlebihan, tapi hal-hal standar memang perlu dibenahi,” katanya.

Meski begitu, Gogot menegaskan pembenahan fasilitas kerja tidak akan membebani perusahaan. Ia menyebut direksi baru berkomitmen menggunakan dana pribadi untuk kebutuhan penunjang aktivitas awal mereka.

“Apa yang menunjang aktivitas kami, insyaallah kami akan modal sendiri,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Gogot juga memberikan apresiasi kepada Danang Andri Asmara yang menjabat Plt Direktur Utama selama masa transisi kepemimpinan. Menurutnya, meski hanya menjabat kurang dari lima bulan, Danang dinilai berhasil menjaga stabilitas internal perusahaan dan meninggalkan sejumlah capaian positif.

“Kita doakan semoga ini menjadi amal jariyah beliau,” kata Gogot.

Sementara itu, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Ratno C. Sembodo menilai kombinasi latar belakang tiga direksi baru menjadi modal penting untuk membenahi Perumda Kahyangan. Menurut dia, perusahaan membutuhkan terobosan baru dan tidak bisa lagi berjalan dengan pola rutinitas lama.

“Rutinitas dan zona nyaman adalah musuh dalam kondisi perusahaan seperti sekarang. Karena itu perlu inovasi dan kebijakan yang out of the box,” ujarnya.

Ratno menyebut masing-masing direksi memiliki kompetensi berbeda yang dinilai saling melengkapi. Nyoman disebut memiliki pengalaman sebagai praktisi sekaligus motivator, Dima kuat di bidang keuangan, sementara Gogot dinilai memiliki kemampuan manajerial.

Sebelumnya, saat pelantikan direksi, Gogot telah menyinggung sejumlah persoalan mendasar di tubuh Perumda Kahyangan. Salah satunya pola manajemen perusahaan yang dinilai belum sepenuhnya terbuka sehingga berdampak pada menurunnya kepercayaan publik, karyawan, maupun pihak ketiga.

“Kami melihat pola manajerial Perumda Perkebunan Kahyangan ini masih belum sepenuhnya terbuka,” ujarnya.

Selain tata kelola perusahaan, ia juga menyoroti rendahnya produktivitas tanaman dan belum optimalnya pemanfaatan aset perusahaan. Menurutnya, Perumda Kahyangan tidak bisa terus bergantung pada penjualan komoditas mentah seperti kopi dan karet.

Karena itu, Gogot mulai mendorong diversifikasi usaha, termasuk pengembangan produk kopi premium dan sektor wisata berbasis perkebunan.

“Tidak hanya menjual green bean atau bubuk kopi, tapi juga harus mulai mengembangkan produk specialty,” katanya.

Di sektor wisata, sejumlah lokasi disebut memiliki potensi untuk dikembangkan, seperti Wisata Boma dan Rimba Camp di Gunung Pasang, Kampung Belgia di Sumberwadung, hingga akses wisata menuju Air Terjun Tancak yang direncanakan bekerja sama dengan Perhutani.

Di tengah wacana penutupan perusahaan yang sempat muncul di ruang publik, Gogot menegaskan Perumda Kahyangan justru harus diselamatkan dan dijadikan perusahaan yang sehat.

“Alih-alih ditutup, PDP ke depan harus menjadi perusahaan yang sehat dan mampu menyejahterakan buruh dan karyawan,” ujarnya. (*)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *